Mohon tunggu...
Giri Lumakto
Giri Lumakto Mohon Tunggu... Pegiat Literasi Digital

Digital Ethicist, Educator | Pemerhati Pendidikan Literasi Digital, Teknologi, dan Budaya | Awardee LPDP di University of Wollongong, Australia 2016 | Kompasianer of The Year 2018 | Best Specific Interest Nominee 2018 | LinkedIn: girilumakto | Medium & Twitter: @lumaktonian | Email: lumakto.giri@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Tekno

Facebook, Bukan Lagi Sosial Media Yang Kita Duga

24 Maret 2015   21:52 Diperbarui: 17 Maret 2016   10:18 0 12 5 Mohon Tunggu...
Facebook, Bukan Lagi Sosial Media Yang Kita Duga
(ilustrasi: infinitesm.com)

[caption id="" align="aligncenter" width="503" caption="(ilustrasi: infinitesm.com)"][/caption]

Saat membicarakan medsos atau media sosial, setiap orang akan selalu terpatri fikirannya dengan Facebook. Mogul teknologi yang kini merambah bukan hanya sekadar website pertemanan, Facebook mulai memasuki setiap relung kehidupan kita. Saat kita ingin berkirim chat singkat, Facebook telah membeli Whatsapp. Saat kita ingin membagi momen indah dengan foto, Facebook sudah punya Instagram. Semua barang sekarang terlihat jelas di laman News Feed Facebook, dan bukan status teman kita yang jumlah ribuan atau jutaan. Bahkan nantinya, setiap smartphone yang terinstall aplikasi Facebook akan mampu merekam panggilan nomor masuk dan keluar. Bahkan, kebutuhan krusial era IT akan berita aktual dan faktual kini diam-diam Facebook coba rangkul (baca: kuasai). Mengingat betapa trending dan traffic berita aktual atau tagar #BreakingNews di internet, Facebook mencoba mengintegrasikan situs berita ke dalam websitenya. Dengan kata lain, Facebook user tidak perlu repot berkunjung ke satu portal berita. Karena di laman News Feed Facebook sendiri akan tersedia konten berita tersebut.

According to the New York Times: "In recent months, Facebook has been quietly holding talks with at least half a dozen media companies about hosting their content inside Facebook rather than making users tap a link to go to an external site... .(berita: techradar.com)

Facebook, Menjelma Menjadi Google Saat Google inc sibuk membuat paten dan uji hands-on Google Glass, Facebook tidak berbuat banyak. Dengan mudah Zuckerberg cukup membeli Oculus Rift. Vendor virtual reality andalan Facebook ini kabarnya akan mengoptimalkan pengalaman memainkan game di Facebook. Ingat, cuma di Facebook bukan website lain. Begitupun saat BBM merajai aplikasi chat messanger, Facebook tidak berbuat banyak. Cukup dengan miliaran dollar yang ia punya, Facebook membeli Whatsapp. Suatu saat nanti, bisa saja akan ada integrasi Whatsapp dengan Facebook Messenger. Satu hal yang patut kita waspadai. Facebook, selain sudah merambah sisi pribadi kita mulai mau merambah (baca: mengatur) hidup kita. Saat kita berseloroh tentang foto-foto liburan yang kita unggah di Facebook, ia pun akan meampilakan iklan destinasi wisata favorit untuk kita. Dengan harga terjangkau, tiba-tiba ada iklan travel agency yang muncul di News Feed kita. Tiba-tiba pula, ada aplikasi wisata dengan beberapa teman kita yang me-like aplikasi tersebut. Dari waktu ke waktu, saa teman-teman kita me-like foto-foto kita ada keingingnan untuk mengklik iklan atau aplikasi yang muncul setiap saat. Jadilah, Facebook sebagai Google baru kita.

[caption id="" align="aligncenter" width="501" caption="(ilustrasi: ideafaktory.com)"]

(ilustrasi: ideafaktory.com)
(ilustrasi: ideafaktory.com)
[/caption]

Segala yang bisa Google, atau bahkan internet, lakukan semua bisa dilakukan di Facebook. Lalu, layakkah Facebook tetap dilekatkan dengan jargon sosial media. Saat yang Facebook lakukan adalah, menjual produk dan layanan, melacak semua hal tentang kita, mengkoneksi smartphone kita, bahkan mencatat nomor kontak kita di smartphone nantinya. Seolah, Facebook tahu benar apa dan bagaimana hidup harus dijalani. Atau dalam istilah 'It's my way, or the highway'. Satu saat nanti, Facebook akan kena batunya. Pengalaman seperti ini juga dijumpai pada raksasa internet seperti Google. Mogul teknologi seperti Google pun pernah tersandung kasus monopoli konten di search engine-nya. Pada salah satu bocoran dokumen US Federal Trade Commission terungkap bahwa Google akan tidak menampilkan satu website jika konten website tersebut tidak boleh digunakan Google. Monopoli yan tidak suportif ini sempat digugat di US, namun menemui jalan buntu.

Dan ke depan, Google pun akan menerima gugatan dari Uni Eropa dengan kasus yang serupa. Facebook sepertinya juga akan tersandung hal yang sama. Saat privasi pengguna terganggu dan monopoli internet mulai terendus, bukan tidak mungkin Facebook tersandung. Seolah tidak mau belajar dari kasus-kasus 'monopoli internet seperti CompuServe dan AOL, baik Google dan Facebook bermain api. Satu saat raksasa internet seperti Google akan tunduk pada fungsi sesungguhnya internet sebagai media bebas bereskpresi dan bukan menjual dan mengatur hidup seseorang. Facebook pun wajib belajar tentang hal ini. Jargon sosmed yang melekat pada Facebook akan segera meluntur. Dan entah ia akan menjelma menjadi seperti apa? Atau malah hancur?

Referensi: businessinsider.comtechradar.com

Artikel tentang Facebook dari saya:

Salam,

Bandung, 24 Maret 2015

09: 52 pm