Mohon tunggu...
Gilang Dejan
Gilang Dejan Mohon Tunggu... Freelance Football Writer

Tak ada yang pasti dalam hidup, kecuali keyakinan diri sendiri | Surat menyurat: nagusdejan@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Pelatih yang Tertukar: Mario Gomez Agresif, Robert Alberts Efektif

8 Maret 2020   22:07 Diperbarui: 8 Maret 2020   22:07 65 2 1 Mohon Tunggu...

Sore yang muram bagi Syaiful Indra Cahya pada pertandingan pekan ke-2 Liga 1 2020 antara Arema vs Persib di Stadion Kanjuruhan, Malang, Minggu (8/3). Betapa tidak, bek kelahiran Malang itu melakukan gol bunuh diri pada menit ke-41 setelah salah mengantisipasi sontekan penyerang Persib, Wander Luiz. Memang Singo Edan sempat menyamakan kedudukan lewat sepakan pinalti, Elias Alderete, pada injury time babak pertama.

Namun, awan mendung kembali menggelayuti Kanjuruhan setelah menit ke-77 Syaiful kembali melakukan kesalahan yang berimbas pada hilangnya tiga poin kandang. Eks pemain Semen Padang itu diganjar kartu kuning oleh wasit Aprisman Ananda, setelah diklaim melakukan pelanggaran di kotak terlarang. Wander Luiz yang menjadi algojo penalti, tak menyia-nyiakan peluang ini. Skor 1-2 berakhir hingga pertandingan usai.

Meski demikian, sang pelatih tetap membela pemainnya itu pada sesi press conference yang digelar pasca pertandingan. "Pemain itu manusia wajar membuat kesalahan, tidak perlu menyalahkan yang jelas kita harus perbaiki di latihan latihan selanjutnya," pekiknya. Seperti dinukil dari Ongisnade.

Terlepas dari sore yang buruk bagi bek sayap kelahiran 1992 itu, secara keseluruhan pertandingan berjalan menarik. Persib sebagai tim tamu juga tidak memasang taktik bertahan sedari awal, justru mereka mengambil alih permainan di awal babak pertama. Sebelum akhirnya terjadi jual beli serangan sampai pertandingan berakhir. Saking sengitnya laga klasik ini, tercipta 36 pelanggaran. Dengan rincian 17 untuk Arema dan 19 didapat Persib.

Arema Agresif, Persib Efektif
Mengawali pertandingan dengan formasi yang serupa, 4-4-2. Baik Arema maupun Persib memasang para pemain cepat di sayap. Mario Gomez memplot Feby Eka, Dendi Santoso, Khusyeda Hari Yudo, dan Elias Alderete dilini serang. Sedangkan Roberts Albert tetap mempertahankan duet Geoffrey Castillion-Wander Luiz yang ditopang oleh pemain sayap cepat seperti Frets Butuan dan Esteban Vizcarra.

Persib bermain sedikit lebih simpel. Mereka tak jarang mengirim bola panjang kepada duet Geoffrey dan Luiz. Sedangkan lapangan tengah yang dipercayakan pada Kim Kurniawan dan Omid Nazari sedikit sekali berlama-lama dengan bola untuk membangun serangan dari bawah. Dalam laga ini, pertukaran peran antara Geoffrey dan Luiz cukup menonjol dan kontributif bagi tim.

Geoffrey yang punya postur jangkung sekitar 191 cm kerap out position dari kotak penalti. Artinya, dengan postur yang dimiliki pemain asal Amsterdam itu, pemain lawan akan mengira jika Geoffrey merupakan target man. Namun, pergerakan serta transisi keduanya justru mengejutkan. Eks pemain Ajax U-21 itu banyak bertugas sebagai pelayan bagi Luiz.

Luiz dengan postur 180 cm, justru lebih sering menerima umpan-umpan silang, hal demikian cukup mengecoh para pemain bertahan lawan. Konon, di Liga Vietnam pun Luiz dikenal sebagai pemain yang tangguh dalam duel udara. Statistik musim lalu bersama Binh Duong, Luiz mencetak 11 gol dengan rincian 6 gol di Liga domestik dan 5 gol di Piala AFC.

Dari total 11 gol itu, 4 dilahirkan lewat sundulan. Sedangkan statistik lain menyebut, dari 98 tembakan ke arah gawang yang dihasilkan olehnya, 36 diantaranya berasal dari tandukan kepala. Artinya lebih dari sepertiga tembakan Luiz dilancarkan lewat sundulan kepala. Tak heran jika dalam beberapa momen, bek Arema kerap lengah menjaga Luiz ketika duel udara sebab Castillion yang lebih jangkung kerap jadi pusat atensi para pemain belakang lawan.

Hal itu cukup jadi modal bagi tim asuhan Robert Alberts ini untuk bermain efektif dalam laga ini. Tak jarang bola justru dialamatkan langsung kepada Luiz -- alih-alih kepada Geoffrey --, sebab banyak opsi ketika bola diarahkan kepada pemain berpaspor Brasil ini.

Luiz bisa jadi pemantul, mencari pelanggaran, atau bahkan Luiz bisa melakukan akselerasi dengan kecepatan khas Brazilnya. Setidaknya serangan Persib selalu berhasil diselesaikan, baik outputnya jadi shot on target atau off target. Kemampuan keduanya diinisiasi oleh Roberts untuk bermain lebih efektif dalam game ini.

Berbeda dengan lawannya yang kemudian bermain lebih agresif dihadapan pendukungnya sendiri. Dalam match summary tertulis jika Arema lebih banyak menguasai bola sepanjang pertandingan ketimbang tim tamu. Dengan rincian 65% dibanding 35%. Pun dengan total passes, tim Singo Edan jauh lebih unggul dengan 208 passes, sedangkan Maung Bandung hanya 111.

Kata agresif kian dipertegas dengan catatan tembakan ke arah gawang. Baik yang bersifat on target maupun off target. Arema lagi-lagi unggul dari tamunya. Shot on target 9 berbanding 4, sementara itu shot off target 6 berbanding 2.

Lini tengah Arema juga lebih banyak menyentuh bola. Hendro Siswanto dan Inkyun Oh saling berbagi peran. Inkyun yang punya karakter ngeyel ditugasi sebagai gelandang serang dan Hendro menjaga kedalaman. Berbanding terbalik dengan sektor tengah Persib. Kombinasi Omid dan Kim dibabak pertama sedikit menemui kata deadlock.

Keduanya merupakan gelandang bertipe bracker. Meski kemudian Kim diberi tugas khusus untuk melakukan counter pressing di zona pertahanan lawan. Hal tersebut membuat peran keduanya tidak cair, terlebih lagi Omid cukup tertekan dengan kecepatan para pemain Arema seperti Feby Eka dan Khesyuda Heri Yudo.

Di area final third, Kim juga tak bisa banyak bergerak. Bermain selama 53 menit, Kim mencatatkan statistik yang bisa dibilang minim kontribusi. Ia mencatat, 1 intersep, 1 clearance, 1 dilanggar, 1 kartu kuning, dan 2 kali sukses duel udara.

Hingga kemudian perannya digantikan oleh Dedi Kusnandar. Salah satu gelandang yang juga punya kemampuan bertahan sama baiknya dengan Omid. Hingga akhir laga, Roberts tak memainkan gelandang tipe berbeda atau pemain ofensif. Ia justru lebih fokus ke pertahanan setelah berhasil unggul 1-2 dengan menghabiskan kertas pergantian pemain terakhir untuk mengusung permainan tiga bek tengah -- dengan masuknya Fabiano Beltrame pada menit ke-89.

Keputusan Roberts memasang 3 gelandang bertahan plus 3 bek tengah dalam pertandingan ini -- meski dalam waktu berbeda -- bisa dibaca sebagai respon terhadap permainan agresif lawan. Sebab Gomez bukan tanpa perubahan taktikal, Ia banyak memasukkan pemain bertipe menyerang pada babak kedua.

M. Rafli, Joni Bauman, serta Hanif Sjahbandi menghabiskan jatah kuota pergantian pemain Arema dalam laga kali ini. Imbasnya, Maung Bandung dikurung setelah menang 1-2. Hanya saja, pertahanan yang dikomandoi Victor Igbonefo juga tampil disiplin dan mengimplementasikan cara "main efektif" seperti yang diintruksikan Roberts.

Dalam pertandingan ini, performa para pemain bertahan Persib juga layak diacungi jempol. Nick Kuipers mencatatkan 10 clearance. Sedangkan Teja Paku Alam melakukan 10 saved, 4 diantaranya berasal dari intersep umpan silang. Seagresif-agresifnya Arema, jika pertahanan Persib sulit dibongkar maka hasilnya nihil. Sebab dalam dua laga terakhir, Persib hanya kebobolan 1 gol lewat tendangan penalti. Secara open play, pertahanan yang diusung oleh empat serangkai Igbonefo, Kuipers, Supardi, dan Ardi sulit ditembus.

Dalam sesi press conference selepas pertandingan, Roberts menyebut pertandingan ini cukup menarik, kedua tim sama-sama menyerang namun tim tuan rumah lebih bermain terbuka dihadapan ribuan pendukungnya.

"Pertandingan sesuai dengan kami harapkan. Arema bermain progresif dan impresif. Mereka melakukan pressure untuk tim kami. Kedua tim sama-sama menyerang. Tapi transisi mereka juga sangat cepat," ungkap Robert. Seperti dinukil dari laman resmi klub.

Meski digempur habis-habisan, pelatih yang juga pernah menangani Arema Indonesia itu menambahkan jika timnya berhasil fokus untuk meredam agresivitas yang dilakukan oleh Khesyuda Heri Yudo cs sepanjang pertandingan.

"Tapi tim kami mampu bermain fokus untuk menghentikan permainan agresif tim Arema. Dan saya sangat senang dan bangga dengan para pemain karena mau bekerja keras untuk menang di Malang," pungkasnya.

Sedangkan pelatih Arema, Mario Gomez, tetap mengapungkan apresiasi untuk para pemainnya meskipun timnya kalah dan eks pelatih Persib ini juga sedikit menyesalkan kesalahan gol penalti yang diterima timnya.

"Saya tetap memberikan apresiasi kepada pemain, secara keseluruhan tadi bermain bagus, meski ada kesalahan saat gol penalti tadi," ungkap Mario Gomez, dalam press conference. Seperti dikutip dari Okezone Bola.

Pelatih berpaspor Argentina itu juga menyebut jika timnya mulai memperlihatkan progres bagus. Sebab, beberapa pemain seperti Elias Alderete, Matias Malvino, dan Joni Bauman baru bergabung bersama tim karena berbagai alasan. Termasuk belum rampungnya International Transfer Certificate (ITC).

"Secara keseluruhan tim mulai ada peningkatan. Semoga di pertandingan selanjutnya bisa lebih baik dengan meraih hasil baik," demikian tutur Gomez.

Satu hal yang menarik dalam pertandingan kali ini keduanya seperti pelatih yang tertukar. Bukan saja dari segi pertukaran klub, Robert pernah di Arema tahun 2010 atau Gomez sempat di Persib dua musim kebelakang. Melainkan juga dari konsep bermain atau taktikal.

Entah karena faktor tim yang berstatus kandang dan tandang. Ataukah memang Gomez dan Robert mulai bermain diluar kebiasaan mereka. Eks pelatih Inter dan assisten Hector Cuper itu bermain dengan taktik ofensif, padahal biasanya Ia cenderung menerapkan sistem defense dan "main efektif". Sebaliknya dengan Robert, Ia menang dengan cara efektif (lebih ke defense), bukan dengan permainan all out khas Belanda-nya.

VIDEO PILIHAN