Mohon tunggu...
Gilang Dejan
Gilang Dejan Mohon Tunggu... Jurnalis - Sports Writers

Tanpa sepak bola, peradaban terlampau apatis | Surat menyurat: nagusdejan@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Bola Artikel Utama

Sepak Bola Indonesia Butuh Lebih dari Sekadar Luis Milla

22 Oktober 2018   18:36 Diperbarui: 23 Oktober 2018   17:39 1659
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Luis Milla| Bolasport.com/Herka Yanis

Memang terjadi perubahan ke arah yang lebih baik khususnya di Liga 1 kali ini. Klub macam Persib Bandung, Barito Putera, PSM Makasar, Bali United, dan Madura United mulai mengontrak para pemain kunci dan pelatihnya dengan durasi waktu yang lebih lama, 2-5 tahun.

Agak berat ketika berbicara profesionalitas klub di Indonesia, karena PSSI-nya sendiri pun belum bisa jadi figur yang baik. Sebetulnya kultur kontrak jangka pendek ini masalahnya bukan terletak pada kegagalan klub bertransisi dari klub yang didanai APBD ke PT.  Justru di era industri sepak bola dewasa ini, klub bisa lebih makmur.

Lalu selain kebiasaan lama, apa penyebab dari klub tak ingin lebih professional (khususnya urusan kontrak) padahal notabene mereka sanggup? Ketidakpastian berlangsungnya liga dan regulasi yang berubah-ubah disinyalir jadi faktor lain kebijakan klub lebih memilih kontrak jangka pendek bagi pemain/pelatih.

Liga dikelola dengan kurang professional di Indonesia, akibatnya klub pun kehilangan respek dari para sponsor. Dengan begitu, neraca keuangan klub pun bisa terancam. Jadi klub tak sepenuhnya salah, karena budaya itu malah seperti di propagandakan oleh pihak-pihak yang lebih tinggi dan menaungi klub -- singkatnya PSSI.

Maka tak usah pura-pura kaget ketika kita mendengar berita pemain/pelatih/wasit telat digaji karena PSSI pun mencontohkan begitu -- dengan menunggak gaji Milla --, dosa PSSI tak sampai disitu, transparansi dalam mengelola uang sanksi dari klub pun masih bisa diperdebatkan, selebihnya mereka juga yang mempresentasikan kontrak jangka pendek bagi pelatih. 

Kabarnya Bima Sakti yang ditunjuk untuk menggantikan posisi Milla pun hanya disodorkan kontrak khusus untuk event Piala AFF saja.

Piala Dunia hanya angan-angan

Acapkali mendengar kata-kata ini: "Indonesia pasti lolos Piala Dunia" saya menanggap mereka yang mengatakan demikian sedang menghibur dirinya sendiri dari kejenuhan gagal demi gagal Timnas kita. 

Keyakinan saya mengenai program yang dipresentasikan oleh Ratu Tisha Destria dalam forum diskusi bola di Gedung Kompas Gramedia (8/8), kian memudar jika pengelolaan sepak bola nasional masih stagnan dalam artian tidak beranjak ke arah yang lebih baik.

Luis Milla pernah mengamini program jangka panjang PSSI tersebut, namun apa daya Milla tidak lagi berada disini. Padahal jika program tersebut dijalani bersama Luis Milla semuanya akan terlihat lebih realistis, karena sekali lagi ini soal progres dan dia telah berhasil sejauh ini.

Meski begitu, segala kerunyaman yang mengiringi sepak bola nasional kadung dianggap hal yang wajar. Dengan ketidakondusifan kompetisi -- yang sebetulnya saya pun malas mengulang kalimat ini -- Luis Milla pun rasanya tak akan pernah sanggup mengantar Indonesia ke Piala Dunia. Kita butuh lebih dari sekedar Luis Milla. Syaratnya persoalan yang terlalu rumit diurai di sepak bola nasional harus diselesaikan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bola Selengkapnya
Lihat Bola Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun