Mohon tunggu...
Gilang Dejan
Gilang Dejan Mohon Tunggu... Jurnalis - Sports Writers

Tanpa sepak bola, peradaban terlampau apatis | Surat menyurat: nagusdejan@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Bola Artikel Utama

Sepak Bola Indonesia Butuh Lebih dari Sekadar Luis Milla

22 Oktober 2018   18:36 Diperbarui: 23 Oktober 2018   17:39 1659
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Pada 21 Maret 2017 Luis Milla Aspas memulai tugasnya sebagai pelatih kepala Timnas Indonesia. Ia menjadi pelatih Timnas Indonesia pertama yang memiliki paspor Spanyol. 

Tak heran jika kemudian publik menduga Milla akan membawa birokrasi sistem permainan indah ala Spanyol (baca: tiki-taka). Style of play macam Iniesta cs dirasa sepadan dengan postur pemain kita.

Namun, tiki-taka tak kunjung diperagakan Evan Dimas dan kolega. Diawal-awal memang progress permainan dari anak asuh Luis Milla agak membosankan dan terlalu taktikal jika dibanding dengan permainan Timnas kelompok umur yang ditangani Fachri Husaini dan Indra Sjafri. 

Faktanya saat itu Milla tengah beradaptasi dengan gaya bermain pemain Indonesia dan tak berselang lama, bersama direktur teknik sekaligus High Performance Unit PSSI, Danurwindo, akhirnya Luis Milla mempresentasikan programnya kepada publik sepak bola nasional. Ia membuat cetak biru sepak bola Indonesia/Filanesia.

Memang kontruksi utamanya tidak jauh dari possession ball oriented. Namun butuh waktu bagi Milla mengenal lebih jauh budaya sepak bola kita untuk menciptakan cara bermain Indonesia yang lebih orisinil. 

Tentu Milla bisa saja instan dengan mencangkok tiki-taka ke Timnas Indonesia, akan tetapi development pemain Indonesia tidak akan terstruktur untuk jangka panjang. Milla benar-benar meletakan batu fondasi pertamanya dengan kokoh dan penuh perhitungan. Banyak yang menaruh optimisme di proyek garapan Milla ini.

"Mereka (Indonesia) ingin memodifikasi proyek yang tengah dibangun dengan menggunakan pelatih dari Spanyol dan mereka memberikan kepercayaan kepada saya," ucap Milla saat diwawancarai secara khusus oleh media Spanyol, El Diario Vasco, akhir Januari silam.

Kedatangan Milla bertepatan dengan ketum PSSI baru (yang awalnya) sangat meyakinkan publik untuk perubahan ke arah yang lebih baik. Melalui Ratu Tisha mereka menyadari jika perubahan harus diawali dari organisasi PSSI-nya sendiri. Tisha membeberkan program-program menjanjikan yang tak pernah ada sebelumnya.

"Semua hanya melihat Timnas dalam kurun waktu 2x45 menit dan timnas menang atau kalah. Dibalik itu semua sebetulnya ada lima elemen penunjang tim nasional," kata Ratu Tisha di acara Forum Diskusi Bola (8/8) lalu.

Adapun yang dimaksud sekjen PSSI itu adalah elemen Organisasi, pengembangan, kompetisi, aktivitas bisnis, dan output-nya Tim Nasional. Lima pilar tersebut menjadi program jangka panjang PSSI untuk menuju Piala Dunia 2045 sekaligus memberikan kado manis HUT RI Ke-100 Republik Indonesia.

"PSSI sedang menyusun kemenangan sepak bola Indonesia. Jadi yang terpenting adalah bukan kemenangan hari ini. Tapi tahun 2030-2045 nanti, saat Indonesia masuk Piala Dunia," terangnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bola Selengkapnya
Lihat Bola Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun