Mohon tunggu...
Gapey Sandy
Gapey Sandy Mohon Tunggu... Penulis - Kompasianer

Peraih BEST IN CITIZEN JOURNALISM 2015 AWARD dari KOMPASIANA ** Penggemar Nasi Pecel ** BLOG: gapeysandy.wordpress.com ** EMAIL: gapeysandy@gmail.com ** TWITTER: @Gaper_Fadli ** IG: r_fadli

Selanjutnya

Tutup

Trip Artikel Utama

Pakai Pewarna Alami, Tenun Ikat Makin Memikat

11 Juli 2018   06:28 Diperbarui: 11 Juli 2018   19:09 3188
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Anggota Kelompok Penenun Tenun Ikat AKASIA di Dusun Botang, Desa Munerana, Kecamatan Hewokloang, Kabupaten Sikka, NTT, yang menggunakan pewarna berbahan alami. (Foto: Gapey Sandy)

Pemisahan kapas dengan bijinya. (Foto: Gapey Sandy)
Pemisahan kapas dengan bijinya. (Foto: Gapey Sandy)
Ia menambahkan, saat ini kelompok penenun Tenun Ikat "Akasia" sudah meninggalkan pewarna yang menggunakan bahan-bahan kimia.

"Jadi kalau ada penenun yang masih menggunakan bahan kimia, saya berharap untuk bisa berusaha mempengaruhi mereka supaya bahan kimia tidak usaha dipakai lagi. Karena kalau memakai pewarna bahan alam terbukti lebih menguntungkan, dan juga lebih sehat bagi diri kita para penenun," seru Mama Gardis.

Lestarikan Tradisi Leluhur, Jangan Sampai Kendur

Sementara itu, Daniel David mengatakan, tenun ikat sudah menjadi bahagian terpenting dalam adat istiadat masyarakat (Kabupaten) Sikka. Sama seperti musik dan tari.

"Ketiga hal ini menjadi elemen terpenting. Bahkan, ada juga musik dan tari yang dikhususkan untuk mengantar jenazah ke liang lahat. Tariannya dinamakan Jojuk Ole. Masyarakat adat Sikka percaya, ritual pengantaran jenazah dimaksudkan agar arwah pergi atau pindah ke dunia lain. Mereka percaya, kematian bukan akhir dari segala-galanya tapi hanya perjalanan pindah ke dunia lain," jelas pria yang berasal dari Maumere ini.

"Lantas, mengapa tenun ikat menjadi bagian hidup? Karena digunakan ketika melakukan ritual adat mulai dari kelahiran, pernikahan, kematian, syukuran, membangun rumah adat dan masih banyak lagi," sambung David.

Proses pemipihan dan penghalusan kapas. (Foto: Gapey Sandy)
Proses pemipihan dan penghalusan kapas. (Foto: Gapey Sandy)
Mirisnya, lanjut Daniel, sejak tahun '70-an lalu, Pemerintah memperkenalkan penggunaan warna berbahan kimia untuk digunakan dalam proses pembuatan tenun ikat.

Ketika itu, pemakaian pewarna bahan kimia digencarkan dengan iming-iming bahwa bahan pewarna kimia ini sangat cepat daya kerjanya, hanya dalam tempo lima menit maka penenun sudah akan bisa memperoleh warna yang diinginkan.

"Selain itu, disebut-sebut juga bahwa kalau menggunakan pewarna bahan alam akan menghasilkan warna kain tenun ikat yang jreng, cerah, sehingga banyak orang di seluruh dunia pasti akan suka. Karena proses pewarnaannya cepat, proses kerjanya cepat, dan hasil karya tenun ikatnya juga jreng, maka harga jual tenun ikatnya juga bisa relatif lebih murah," keluh Daniel.

Kapas yang sudah dipipih lalu dibuat gulungan demi gulungan. (Foto: Gapey Sandy)
Kapas yang sudah dipipih lalu dibuat gulungan demi gulungan. (Foto: Gapey Sandy)
Akibat dari gencarnya "promosi" agar supaya para penenun tenun ikat menggunakan pewarna berbahan kimia, maka dampak pencemaran lingkungan yang ditimbulkan pun juga luar biasa.

"Dampaknya sangat luar biasa sekali karena seluruh Sikka hampir melupakan kearifan untuk menggunakan pewarnaan bahan alam. Bayangkan saja, kalau untuk penggunaan satu kain tenun ikat menghabiskan air yang sudah dicampurkan pewarna bahan kimia sebanyak 20 liter, lalu dalam satu hari ada seribu ibu-ibu yang menenun, maka sudah terjadi pencemaran lingkungan akibat sebanyak 20.000 liter air berbahan kimia," ucapnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Trip Selengkapnya
Lihat Trip Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun