Gan Pradana
Gan Pradana

Aku anak muda yang pengen negeri ini maju sejajar dengan bangsa-bangsa lain.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Tanam Pohon Pisang di Tengah Jalan, Demo Kreatif Lawan Pengembang Nakal

15 April 2018   18:27 Diperbarui: 16 April 2018   10:56 1656 0 0
Tanam Pohon Pisang di Tengah Jalan, Demo Kreatif Lawan Pengembang Nakal
Pohon pisang di tengah jalan Kompleks Taman Royal Tangerang

BANYAK cara kreatif untuk menyalurkan unek-unek. Pada hari Minggu (15/4/2018) warga Perumahan Taman Royal 1 dan 3 Tangerang melakukan aksi demonstrasi dengan cara menanam pohon pisang di tengah jalan.

Ratusan warga perumahan itu sejak pagi hingga siang keluar rumah dan berkeliling kompleks melintas jalan utama membawa spanduk bernada protes. Intinya, mereka kesal dengan pengembang Taman Royal 1 dan 3, juga Kompkleks Puri Dewata Indah yang cuma mengobral janji akan memperbaiki jalan kompleks yang rusak parah.

Namun, sampai sekarang janji itu praktis tidak pernah ditepati. Lubang menganga tetap menghiasi jalan utama di kompleks itu. Kalau hujan, menurut warga setempat, mirip kubangan kerbau.

Rencana aksi damai itu sudah diviralkan oleh warga Taman Royal dan Puri Dewata Indah (kompleks lama) sejak Kamis pekan lalu lewat grup Whatapp (WA). Karena itu sejak pukul 07.00 warga sudah berkumpul di ujung kompleks. Padahal aksi demo baru dimulai, sesuai dengan undangan, pukul 09.00.

Rupanya warga Taman Royal sudah tidak sabar. Layaknya demo politik di Jakarta, para warga melengkapi aksinya dengan mobil komando dan empat TOA. Mereka berorasi agar pengembang segera memperbaiki jalan-jalan yang rusak.

Lho, kok, menanam pohon pisang di tengah jalan? Daryanto, penghuni Perumahan Taman Royal yang dalam aksi ini bertindak sebagai koordinator menjelaskan aksi menanam pohon pisang di jalan rusak sebagai bentuk protes warga kepada pengembang atas rusaknya fasilitas umum (fasum) berupa jalan di Taman Royal 1 dan 3.

Kerusakan jalan itu, disebut Daryanto, sudah berlangsung bertahun-tahun. "Penanaman pohon pisang juga sebagai penanda bagi para pengguna jalan untuk berhati-hati agar tidak terjadi kecelakaan," kata Daryanto sebagaimana dikutip Banten Pos.

Aksi menanam pisang sebagai bentuk protes, menurut Daryanto, dilakukan warga lantaran, ya itu tadi, pihak pengembang tidak memiliki itikad untuk segera memperbaiki jalan yang rusak. Selama bertahun-tahun aktivitas warga terganggu lantaran jalan rusak.

Daryanto mejelaskan pada awal Maret lalu, sudah dilakukan mediasi antara warga dan pengembang. Warga menuntut pengembang memperbaiki jalan yang rusak sepanjang 5 Km di Perumahan Taman Royal 1 dan 3.

Dalam mediasi itu pengembang berjanji untuk memperbaiki jalan mulai 1 April 2018. Tapi sampai sekarang belum ada tanda-tanda jalan rusak akan diperbaiki.

Sabtu (14 April) pihak pengembang memang sudah berusaha memperbaiki jalan di ujung kompleks. Namun, perbaikan itu tampaknya hanya "seremonial" untuk mengesankan bahwa pengembang telah memenuhi permintaan warga.

Perbaikan jalan yang cuma beberapa meter itu pun sepertinya tidak serius, hanya ditimpa dengan pasir dan semen tanpa tulang dan batu koral. Warga memerkirakan, dalam satu minggu --apalagi kalau hujan-- pasti rusak lagi, apalagi saluran air di sekitar jalan tersebut mampat.

Selain jalan yang rusak, kompleks Taman Royal, khususnya di Puri Dewata Indah, juga banjir, terutama jika hujan lebat. Selasa pekan lalu, kompleks Puri Dewata banjir dan air masuk ke rumah warga.

Penyebab banjir selain curah hujan yang tinggi, saluran air juga tidak tertata dengan baik. Warga sendiri tampaknya juga kurang kompak dalam menjaga lingkungan. Menurut warga setempat, ada tetangganya yang sengaja membendung saluran air (got) dengan bak sampah.

Sampai sedemikian jauh pihak pengembang Taman Royal belum menyerahkan fasos fasumnya kepada Pemkot Tangerang. Jika belum diserahkan ke Pemkot, maka kerusakan jalan dan sebagainya masih menjadi tanggung jawab pengembang.

Dalam melayani penghuni, pengembang tampaknya kurang profesional. Ada warga Taman Royal yang sudah melunasi rumah, namun sertifikat rumah tak kunjung selesai hingga lebih dari 10 tahun.

Banyak warga yang menyayangkan manajemen pengembang Taman Royal yang sepertinya tak serius menangani proyek-proyeknya, padahal lokasi Taman Royal sangat strategis.

Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi

Bayangkan, tak sampai hitungan selemparan batu, ada Stasiun Batuceper. Inilah satu-satunya stasiun kereta api di Tangerang, tempat di mana kereta Bandara Soekarno Hatta-Sudirman Baru (Jakarta) berhenti (transit).

Taman Royal juga bertetangga dengan Hotel Allium, hotel bintang empat di pusat Kota Tangerang yang lokasinya berada di Jalan Benteng Betawi. Menuju ke Bandara Soekarno-Hatta dari Taman Royal menggunakan kendaraan pribadi hanya membutuhkan waktu 40 menit tanpa melewati jalan tol.

Pengembang yang sama juga sedang membangun apartemen bersebelahan dengan Terminal Poris Plawad yang nantinya menyambung ke Stasiun Batuceper. Tapi, pembangunan apartemen ini terhenti di tengah jalan.

Tak cuma itu, pengembang ini juga sedang membangun pasar modern dan kios-kiosnya lebih dari tiga tahun lalu dipasarkan ke publik. Tapi, lagi-lagi pembangunannya mangkrak, terkatung-katung, padahal ada beberapa pembeli yang sudah melunasi kios di pasar tersebut.

Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi

Sampai sedemikian jauh, pihak pengembang tidak pernah memberi tahu progress report pembangunan pasar tersebut. "Saya benar-benar dirugikan, sudah bayar lunas bertahun-tahun, tapi tidak bisa segera membuka usaha di kios yang sudah saya beli. Kalau uang yang saya pakai untuk membeli kios tersebut, saya investasikan ke saham atau deposito, saya pasti sudah untung. Tunggu saja, pengembang akan saya gugat," kata seorang pembeli kios yang kebetulan tinggal di Taman Royal.

Pihak pengembang sendiri memang serba repot dan dilematis. Untuk menyerahkan perumahannya ke Pemkot harus memenuhi berbagai persyaratan yang tidak mudah, antara lain pengembang harus menyiapkan fasum-fasos, seperti areal pemakaman, areal tempat ibadah dan sejenisnya. Masjid memang banyak berdiri di Kompleks Taman Royal tapi ini berkat usaha sendiri warga dan tak satu pun gereja di kompleks itu.

Jika pengembang tak juga merespons kerinduan warga, bukan tidak mungkin ke depan, warga akan semakin kreatif, bukan lagi pohon pisang yang ditanam, tapi pohon durian. Ngapain nanggung?[]