Mohon tunggu...
Mas Gandeng
Mas Gandeng Mohon Tunggu...

Blog ini adalah kumpulan tulisan-tulisan dan tips-tips buat kamu yang masih jomblo, galau dan sedang jatuh cinta. Tulisan yang tersaji disini adalah murni dari pengalaman sendiri, curhat orang lain, dan pendapat pribadi. Jadi kamu akan menemukan tulisan asli yang bukan copy paste dari artikel orang lain. Sumbernya tulisan dan foto akan diinformasikan dengan lengkap jika diambil dari sumber lain. Jadi, Jangan takut untuk berbagi karena semakin banyak kamu berbagi, semakin kita tidak sendirian.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Tidak Ada Salahnya Berkata "Maaf"

19 Oktober 2016   14:33 Diperbarui: 19 Oktober 2016   14:42 38 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Tidak Ada Salahnya Berkata "Maaf"
http://tinybuddha.com/

Kata maaf itu bukan hanya bentuk penyesalan dan mengakui kesalahan, tetapi kata maaf itu adalah rekonsiliasi atau memulihkan kembali hubungan yang sempat terganggu karena kesalahahpahaman, kekeliruan, dan lain-lain. Kata maaf tidak hanya pengakuan tetapi ada kehendak baik dengan tujuan yang lebih baik yang ingin diperjuangkan. Jadi kalau kamu minta maaf, itu bukan berarti kamu adalah orang yang bersalah. Banyak orang sering kali berpikiran jika meminta maaf maka mereka adalah orang yang salah.

Saya akan mengambil contoh yang saat ini sedang hot yaitu pemilihan kepala daerah di Jakarta. Seorang facebooker bernama Buni Yani mengunggah sepenggal video  pernyataan calon gubernur DKI Jakarta sekaligus Petahanan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) secara tidak utuh. Buni Yani bersikeras dalam salah satu stasiun TV ketika diwawancarai bahwa dia punya hak sebagai seorang dosen dan akademisi untuk mengedukasi masyarakat serta ia juga punya kebebasan untuk menyatakan pendapat. Di satu sisi Ahok sudah menjelaskan bahwa video tersebut tidak ditampilkan secara utuh melainkan hanya sepenggal dari keseluruhan, dan dengan demikian menghilangkan tujuan yang sebenarnya ingin disampaikan sekaligus menggiring masyarakat menjadi salah kaprah.

Sebagai seorang akademisi dan dosen, Buni Yani mempunyai tanggungjawab untuk mencerdaskan masyarakat dan memberi pemahaman yang benar. Jika Ia seorang akademisi, maka dia sadar betul bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat instan yang hanya melihat apa yang ditampilkan atau melihat apa yang ingin mereka lihat. 

Buni Yani seharusnya mendidik masyarakat, bukan sekedar melempar isu yang tidak lengkap kemudian membela diri bahwa itu adalah hak dia untuk menyampaikan pendapatnya dan tanggungjawabnya sebagai seorang akademisi serta tidak akan meminta maaf karena dengan meminta maaf maka ia adalah orang yang salah (Baca: Inilah Pernyataan Pengunggah Video Ahok).

Hal ini jelas sangat disesalkan keluar dari seorang yang semestinya punya tanggungjawab moral untuk mendidik masyarakat bukan meleparkan isu yang tidak lengkap. Seorang akademisi jelas orang yang terdidik dan mempunyai tanggungjawab kita menyampaikan sesuatu. Akan tetapi sangat disayangkan jika seorang yang menyebut dirinya akademisi, diam-diam adalah pendukung salah satu calon dan melemparkan isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

The weak can never forgive. Forgiveness is the attribute of the strong. 
― Mahatma Gandhi, All Men are Brothers: Autobiographical Reflections

Sebaliknya, apa yang ditampilkan oleh ahok berbeda dengan Buni Yani. Ahok bukan seorang akademisi, tetapi sebagai seorang politisi dan pemimpin, ia menyampaikan permintaan maafatas pernyataannya yang menyinggung umat muslim. Maaf bukanlah sebuah kata yang menunjuk orang itu salah tetapi di situ ada makna rekonsiliasi untuk membangun sebuah hubungan positif (Baca: Ahok Minta Maaf kepada Umat Islam).

Di sinilah bentuk bagaimana seorang yang berkualitas itu memperoleh nilai lebih ketimbang orang yang menyebut dirinya berkualitas tapi tindakannya seperti kucing yang mencuri ikan terus pergi sambil berkata, “Saya kan kucing, makanan saya ikan!”. Apakah Buni Yani tidak bersalah sehingga ia tidak perlu menyampaikan maaf? Jika Buni Yani adalah seorang dosen yang menyebut dirinya seorang akademisi yang mengedukasi masyarakat, tindakannya yang membuat berbagai pihak menjadi salah paham sewajarnya menuntut tanggungjawabnya.

Contoh jika kamu sedang berjalan di pasar, kemudian menginjak genangan air dan mengenai kaki seorang ibu, permintaan maafadalah bentuk tanggungjawab kamu. Meski genangan air itu bukan disebabkan oleh kamu dan kamu melakukannya tanpa di sengaja, akan tetapi kamu juga bertanggungjawab atas tindakanmu bukan?

Kelemahan terbesar dari kita adalah kita tidak sampai ke sebuah pemahaman tentang apa itu kata maaf dan mengerti sungguh-sungguh bahwa di dalamnya ada makna yang sangat bernilai ketika dilakukan dengan hati yang tulus. Makanya saya kerap sakit kepala jika salah satu bawahan saya masih saja berkeras mati-matian dengan berbagai alasan meski dia jelas melakukan kesalahan. Akan tetapi setelah mentok baru menyampaikan maaf entah setelah ditunjukkan bukti-bukti, diteriaki, bahkan sampai diancam dengan pemecatan. Itu pun kesannya tidak rela dan tetap saja menunjuk orang lain.

Hal itu pun berlaku saat kamu menjalin hubungan asmara dengan pasanganmu. Ada kalanya jika kamu seorang perempuan, kamu merasa bahwa menyampaikan permintaan maafseharusnya tidak dilakukan oleh perempuan. Menurut kamu, laki-lakilah yang harus mengatakan maaf karena menunjukkan jika ia laki-laki sejati. Kalau kamu berpikiran seperti itu, makanya jangan heran saat dia telah memilikimu maka kamu kadang merasa dia lebih cuek saat sudah menikah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x