Gaganawati Stegmann
Gaganawati Stegmann ibu rumah tangga

Ibu RT@Germany, a teacher@VHS, a dancer@www.youtube.com/user/Gaganawati1/videos, an author of "Exploring Germany"& "Exploring Hungary", a Tripadvisor level 6 ...

Selanjutnya

Tutup

Wanita highlight headline

Perempuan, Ayo Belajar Dandan Sendiri!

18 Maret 2017   16:29 Diperbarui: 18 Maret 2017   17:59 593 16 13
Perempuan, Ayo Belajar Dandan Sendiri!
Belajar dandan, yuk! (dok.Gana)

“Ya Oloh... ngglundhung...“ Itu, umur saya masih 12 tahun. Kelas 6 SD.

Kok, ada yang menggelinding? Iya, lantaran boring menunggu ibu yang waktu itu masih guru Kesenian (kemudian jadi kepala sekolah) nggak juga selesai acaranya, saya ajak adik perempuan dan anak Pak Bon (tukang kebun) untuk lomba balap lari. Nggak balap karung sekalian?

Kami, masih berpakaian ala Kartini, sandal berhak 3 cm dan pakai jarik aka kain batik. Weleh... nggak kehilangan akal, kain diangkat sedikit agar larinya lebih kencang. Untung nggak ada yang robek. Cuma tadi, ada yang ngglundhung. Gelung atau sanggul yang lepas seperti bola yang habis ditendang.

Begitulah. Masa kecil di kampung, yang nggak serba ada tapi begitu sederhana dan bahagia. Salah satu yang berkesan adalah saat Kartinian. Habis sholat Shubuh sudah bangun didandani oleh Ibu, lalu gantian Adik. Kami memakai kebaya yang dibeli dari Pasar Djohar gaya lama yang masih utuh belum terbakar. Mengapa kami tidak seperti teman-teman yang lain, berbondong-bondong ke salon? Karena Ibu tidak punya dana lebih untuk meminjam baju dan membayar perias. Mending untuk kebutuhan yang lain. Maklum, orang tua PNS (zaman itu, masih Pegawai Ngeri Sekali). Makan masih pakai beras jatah yang berkutu jalan-jalan sendiri. Oh, memori indah.

Eh, Ibu pinter dandan kok. Dari menyasak rambut, make up sampai melilitkan kain batik di badan. Kehebatan Ibu yang membuat saya bangga. Ibu benar-benar seorang perempuan! Ia tak hanya bekerja mencari uang, merawat anak dan rumah tapi juga mampu merawat diri. Keturunan Kartini Indonesia.

Macam-macam sanggul (dok.Gana)
Macam-macam sanggul (dok.Gana)
Belajar dandan, dong!

Ada perempuan yang tidak suka dandan atau tidak bisa dandan meski mau. Ada juga perempuan yang tidak memperhatikan penampilan, mulai dari rambut, tubuh, sampai kaki. Nah, Kompasianer wanita semoga selalu smart and beautipul.

Oh, ya. Suami saya pernah nanya:

“Semua saudaramu nggak ada yang cantik, kamu kok cantik?“

“Weleh... ngrayu... Ibu juga cantik waktu mudanya. Kalau Adik, karena dia tidak suka dandan kayak aku mungkin beda ya. Kelima saudara laki-laki tentu saja tidak cantik karena mereka bukan perempuan.“ Ngakak together.

Lalu, Suami menjuluki saya seperti dongeng anak-anak di Jerman “Die hässliche Entchen“ atau “Bebek jelek“. Ceritanya, waktu kecil si bebek juelek banget. Sudah warnanya paling kelam, buruk rupa pula. Sampai ia merasa frustasi di antara saudara-saudaranya yang bening. Diledekin. Sampai suatu hari ketika dewasa, ia seperti larva yang jadi kupu-kupu. Sangat cantik. Cie.... Terbang!

Gana kecil itu gendut, pipi makin tembem dengan poni model batok kelapa dibelah, kulit sawo busuk dan pendek. Ya amplop! Sadar, ternyata memang ada perbaikan keturunan dari gen suami. Anak-anak tergolong cantik dan imut, nggak kayak emaknya.

Ah, sejak kecil, suka mengamati Ibu ketika berdandan. Sambil ingusnya naik-turun, menengadahkan kepala sambil mengingat-ingat urutan cara berdandan. Susu pembersih, cairan penyegar, alas bedak, bedak padat, bedak tabur lalu memoles alis, eye shadow, maskara dan blush-on.

Ibu termasuk sering memakai kain dan pergi kondangan atau acara tradisional. Berdiri di sekitar Ibu, sangat menyenangkan, sampai detik terakhir memakai kain batik. Zaman sekarang, orang paling demen ke salon untuk paket komplet. Apalagi untuk acara Kartinian, kondangan atau lainnya. Kurang hemat kali ya, kalau tiap hari.

Hmm. Seiring dengan berjalannya waktu, saya belajar dandan sendiri. Sejak SMA, kelas tiga mulai pakai lotion, bedak, pelumas bibir (bukan lipstik) sampai minyak wangi dan menyisir rambut. Tetapi tetap saja kalau Kartinian, Ibu yang dandanin.

Pada masa kuliah, nyambi memeras keringat cari uang buat bayar SPP. Mulailah pakai rok, sepatu hak tinggi, poles bibir dengan lipstik serta bermain warna kalem untuk eye shadow dan pemerah pipi. 

Bikin sasak dan pasang sanggul sendiri

Sebagai perempuan Jawa, zaman dahulu kan nggak ada salon ya. Mulai dari eyang buyut sampai ibu, bisa menyasak rambut, pasang sanggul dan pakai kain batik sendiri. Oh, tinggal di Jerman, alamat harus mandiri. Ya, udah, bikin sendiri. Dicoba, pasti bisa... gagal? Coba lagi...

Alat-alat yang dibutuhkan: sisir sasak, hairspray, jepit rambut dan karet gelang.

Cara saya mungkin beda dengan salon:

Pertama ambil bagian depan rambut mulai dari telinga kiri sampai telinga kanan, berbanding lurus dengan uyeng-uyeng aka pusar rambut.

Ambil sedikit rambut itu dari kiri ke kanan atau sebaliknya. Jepit bagian rambut depan itu, supaya tidak mengganggu.

Rambut yang diambil sedikit dengan satu tangan, ditekan dengan sisir sasak dari atas ke bawah dengan tangan yang lain. Rambut jadi awut-awutan seperti baru bangun tidur atau dijambak orang. Teruskan sampai bagian depan lainnya disasak. Jika sudah disasak semua, arahkan rambut ke arah depan dan dari bagian belakang pasang jepitan rambut (biting, tipis seperti lidi). Termasuk bagian kiri dan kanan, supaya tidak lepas.

Kembalikan rambut ke arah belakang. Rapikan dengan sisir, gunakan satu tangan untuk memperhalus, semprot dengan hairspray tapi jangan dekat-dekat nanti bisa mabok dari bau gasnya. Uhukkk.

Ikat semua rambut depan tadi. Satukan dengan rambut bagian belakang yang tidak disasak. Kalau terlalu panjang biasanya dikepang lalu ditekuk jadi satu atau dilingkarkan ke sanggul. Kuatkan dengan jepit lagi. Kucir untuk tumpuan sanggul yang akan dipasang. Jepit sanggul dengan jepit biting di setiap sisi. Jangan lupa, tusuk! Susuk di kanan, kiri dan tengah akan memperkuat posisi sanggul, yang terkait dikucir rambut tadi. Pasang asesoris (cunduk mentul, hiasan bunga atau sisir hias).

Kebaya Jawa (dok.Gana)
Kebaya Jawa (dok.Gana)
Kain batik (dok.Gana)
Kain batik (dok.Gana)
Siap nari gambyong, pakai Baju tradisional (dok.Gana)
Siap nari gambyong, pakai Baju tradisional (dok.Gana)

Pakai kain batik sendiri?

Jaman berubah. Sudah ada model kain batik jadi alias tinggal pakai, sret! Resleting tertutup.

Kalau tidak, bagaimana? Ingat, kain Jawa baik untuk laki dan perempuan harus dilipat. Namanya wiru/wiron. Lipatan untuk perempuan jumlahnya genap dan lebih kecil dari punya lelaki.

Mau pakai? Berdirilah dengan posisi menyilang. Kaki kiri atau kanan ke depan seperti mau berjalan tapi nggak jadi. Lilitkan kain dari arah kiri ke kanan. Tarik sampai menempel di bagian perut sampai kaki, supaya lekuk tubuh terlihat. Posisi lipatan wiru tadi harus di depan/tengah. Kalau belum, ulangi lagi dan ubah posisi ujung kain/geser. Jika kain sudah menutup mata kaki dan tidak gombrong, sudah betul. Ikat bagian perut dengan tali. Dulu bapak ibu mengajari dengan tali rafia (kok kayak sulak alias kemucing). Saya pakai tali dari kain. Lingkarkan stagen, sabuk Jawa hingga melilit seluruh bagian perut. Menguatkan kain agar tidak lepas. Pasang kamisol atau Brustier untuk menutup bagian dada, ambil kebaya. Selesai!

Mau coba?

Siap-siap dandan sendiri menyambut Kartinian, April nanti! (G76)