Mohon tunggu...
Fitriyani Sinaga
Fitriyani Sinaga Mohon Tunggu... Jurnalis - PEMBELAJAR | Menulis bila Senggang | Pendaki Gunung | Ruanghutani.blogspot

Ketik saja nama lengkapku di Google, daripada kamu kepo lewat rubrik ini karena akun Kompasianaku banyak, bukan hanya ini. Hello, mari berbagi Informasi tentang Sosial, Kultur budaya, Hutan dan Lingkungan hidup. Saya Naga, seorang pembelajar yang menyenangi membaca dan menulis Jurnal ilmiah. Acap kali juga ngopi dengan penjaga toilet, satpam dan tukang parkir di pinggiran jalan . Kadang mendaki gunung dan memancing ikan dilaut. Masa kecilku Sering nongkrong di sawah bersama petani dan mengembala kerbau di Ladang. saya juga kadang senggang di ForesterAct.com| www.Kesah.id | Mongabay.id |www.Fkkm.org| CSF.or.id | Spotify.Ngaji budaya&Hamparan kata Fitriyani Sinaga| Kompas.id Fitriyani Sinaga| Times Indonesia.Fitriyani Sinaga| BorneoCorner.com| Kompasiana.Fitriyani Sinaga| Forest Space| Ruanghutani.blogspot.com| Kumparan.Fitriyani Sinaga | Youtobe Fitriyani Sinaga | Youtobe Borneocorner Creatif | Weibo akun.Nagaf3 | Bila sedih kadang berPuisi dan menulis cerpen untuk dimemgobati luka | YUK BERTEMU, LEBIH ASIK

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Episode 1: Perkenalan

2 Maret 2021   22:20 Diperbarui: 3 Maret 2021   01:39 175
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Tampak embun sedang mulai meneduh, hilir angin melambai daun, semua tampak hitam.

Langit : "Tolong lihat aku!", perintahnya lirih kepadaku.

"Aku tak bisa melihatmu, hanya awan gelap yang kulihat." Jawabku sambil mencari celah cahaya

Langit pun menjawab "Tolong temani aku ulurkan tanganmu dan lihatlah keatas, sebentar lagi kan kuceritakan hidupku."

Tanpa bertanya ku ikuti perintahnya. Tak lama kemudian air turun dari atas perlahan membasahi tanah yang kupijak. Kumerasa langit ku sedang tidak baik-baik saja.

Seketika itu aku bertanya kepada langit "Ada apa gerangan?
Apa aku melakukan kesalahan terhadapmu?"

"Dingin dan kosong yang kurasa, tenang saja kamu tak ada salah denganku." Timpalnya

Sesak nafasku, tertunduk kepalaku dan membatu tubuhku mendengarmu. Gumamku "Kenapa aku seolah-olah bisa merasakannya."


 Tak lama kemudian langit bertanya lagi kepadaku
"Apa aku bisa memiliki warna biru yang dulu lagi? Apa aku bisa memberi warna jingga yang kalian tunggu setiap sore? Apa aku bisa ...."
Pertanyaan langit terhenti,

Kulihat ke atas, dia semakin tertutup oleh awan hitam yang pekat dan air langit pun semakin deras membasahiku. Tak kusadari pertanyaannya membuat air mataku menetes dan bercampur dengan air langit yang membasahiku.

Perlahan-lahan kucoba berbicara kepada langit "Hai langit, aku ingin bertanya kepadamu. Jika aku menemanimu di bawah sini setiap hari tanpa aku berteduh di bawah rindangnya pohon dan hangatnya rumah, apa kamu bisa berjanji kepadaku tidak akan seperti ini lagi?"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun