Firstyarikha Habibah
Firstyarikha Habibah Mahasiswa S2

Mahasiswa S2 Ilmu Pangan Sekolah Pascasarjana IPB

Selanjutnya

Tutup

Hijau Artikel Utama

Menjaga Lingkungan dengan Selembar Batik "Green Chemistry"

9 Oktober 2017   17:38 Diperbarui: 10 Oktober 2017   10:42 3002 7 3
Menjaga Lingkungan dengan Selembar Batik "Green Chemistry"
Green batik. Dokumentasi pribadi

Green chemistry atau "kimia hijau" merupakan bidang kimia yang berfokus pada pencegahan polusi, tujuannya untuk mengatasi masalah lingkungan baik itu dari segi bahan kimia yang dihasilkan, proses ataupun tahapan reaksi yang digunakan. 

Bahaya bahan kimia yang dimaksud dalam konsep green chemistry ini meliputi berbagai ancaman terhadap kesehatan manusia dan lingkungan, konsep ini juga erat kaitannya dengan energi dan penggunaannya baik itu secara langsung maupun yang tidak langsung seperti penggunaan suatu bahan dalam hal pembuatan, penyimpanan dan proses penyalurannya.

Saat ini konsep green chemistry semakin banyak digunakan dalam berbagai lini kehidupan, seiring dengan kesadaran manusia bahwa Bumi semakin tua dan anak cucu butuh Bumi sebagai tempat tinggal yang layak. Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menemukan tagline "go green", ya itulah salah satu bentuk usaha pengaplikasian green chemistry, yaitu menganjurkan kita untuk selalu bertindak ramah pada lingkungan, termasuk go green untuk batik. Apa yang dapat dilakukan dari selembar kain batik sebagai bagian menjaga lingkungan? Caranya, dengan membuat batik ramah lingkungan atau dikenal dengan green batik.

Batik merupakan kekayaan bangsa Indonesia yang telah ditetapkan oleh UNESCO pada tanggal 2 Oktober 2009 sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan nonbendawi (masterpieces of the oral and intangible heritage of humanity). Sehingga tanggal 2 Oktober, seminggu yang lalu, ditetapkan menjadi Hari Batik Nasional, beragam lapisan masyarakat dan pejabat pemerintah disarankan untuk menggunakan batik pada tanggal ini.

Batik yang diwariskan oleh leluhur ini tanpa disadari sebenarnya sudah mengusung konsep green batik karena pewarnaannya menggunakan tumbuhan dan bahan-bahan yang tersedia di alam, proses pembuatannya pada jaman dulu pun masih sederhana. Namun, seiring berjalannya waktu, semua dituntut serba cepat, instan dan praktis, sehingga muncul pewarna sintetis yang penggunaannya sangat mudah, tapi disisi lain menghasilkan limbah yang merusak lingkungan serta mempengaruhi kesehatan kulit pengguna batik. 

Berawal dari keprihatinan inilah seorang  ibu rumah tangga lulusan Fakultas Pertanian Universitas Gajah Mada yang bertempat tinggal di Pamulang, Tangerang, yaitu Sancaya Rini tergerak untuk mengeksplorasi pewarnaan batik menggunakan bahan pewarna alami yang terbuat dari berbagai tumbuhan dan sampah organik yang ada di sekitar tempat tinggalnya, seperti kulit jengkol, kulit rambutan, kulit dan daun mangga, kayu secang serta tumbuhan indigo. Rini menekuni batik kontemporer di bawah bendera usaha bernama Creative Kanawida. Nama kanawida berasal dari bahasa kawi yang bermakna warna-warni untuk menyebut warna batik yang dihasilkan oleh tanaman tropis.

Studi Kanawida sebagai Green Batik

Pada tahun 2014, Hidayat dan Fatmahwaty dari Universitas Pelita Harapan melakukan studi mengenai green batik pada Kanawida. Batik Kanawida dipilih sebagai studi kasus green batik karena relatif konsisten dalam memproduksi batik ramah lingkungan selama 6 tahun sejak didirikan pada tahun 2007 dan memiliki misi mengenai keberlanjutan yaitu: (1) melestarikan dan mengembangkan warisan budaya batik dari Indonesia dan mempromosikannya kepada generasi yang lebih muda, sehingga generasi muda Indonesia akan menyukai warisan mereka, (2) melindungi alam, (3) memberdayakan masyarakat dan membantu perekonomian lingkungan sekitar, sehingga menimbulkan dampak sosial ekonomi.

Isu utama di green industri sebagai bagian dari green chemistry adalah penghematan energi yaitu menghemat bahan baku dan konsumsi energi agar bisa mendapatkan kelestarian bahan baku dan pasokan energi bagi generasi mendatang. Ada tiga hal yang harus dilakukan oleh satu industri untuk menjadi green, yaitu (1) mengurangi konsumsi energi, (2) efisiensi penggunaan energi, (3) meminimalkan limbah beracun dari proses produksi.

Pada batik Kanawida, konsumsi air, gas dan minyak tanah diperhatikan terlebih dahulu. Untuk menghemat bahan bakar, produk batik tidak diproses satu per satu namun oleh sekaligus 20 produk yang dikelola dalam satu siklus proses produksi. 

Cara kedua untuk menghemat bahan bakar dilakukan dengan menggabungkan beberapa alat yang digunakan oleh pengrajin dengan rasio 4: 1. Ini berarti bahwa 1 alat digunakan oleh 4 pengrajin. Produksi limbah batik beracun yang berasal dari pewarna buatan telah dieliminasi karena batik Kanawida sudah menggunakan pewarna alami dari tumbuhan. Batik kanawida juga telah menggunakan lilin lebah untuk menggantikan lilin bahan bakar minyak seperti parafin.

Selain mengurangi dampak kesehatan dan lingkungan dalam skala mikro, dalam konteks penggunaan green batik itu sendiri, produksi batik Kanawida memiliki dampak makro dalam waktu yang lebih lama, di bidang ekologi, ekonomi dan sosial. Batik kanawida menciptakan lapangan kerja bagi perempuan yang tinggal di sekitar lingkungan untuk mendapatkan penghasilan tambahan dengan menjadi pengrajin batik, sehingga mereka memiliki kesempatan untuk bekerja dan membantu ekonomi keluarga mereka. 

Kanawida juga mengajar anak jalanan tentang pembuatan batik sehingga mereka memiliki kesadaran akan tindakan ramah lingkungan, keterampilan dan pengetahuan tentang warisan budaya mereka. Dengan demikian, batik Kanawida, pada tingkat tertentu, sudah memiliki karakter hijau dan lestari.

Warna-warni nan Ayu Batik Kanawida dalam Meet The Makers 12

Minggu, 7 Oktober 2017 yang lalu saya berkesempatan datang di acara Meet The Makers 12 yang berada di Nusa Gastronomy, Kemang, Jakarta Selatan. MTM12 kali ini dilaksanakan tanggal 5-7 Oktober dengan mengangkat tema "Mengakar". Datangnya saya di acara ini tidak luput dari ajakan sehari sebelumnya dari teman saya yang memang sudah pernah datang pada perhelatan tahun sebelumnya. 

Melihat antusiasme teman saya dan kepo instagram @mtmindonesia akhirnya saya memutuskan untuk datang, sebelum menyesal, karena acara ini hanya digelar satu kali dalam setahun. Kapan lagi bisa bertemu seni kriya kekayaan Indonesia sekaligus bertemu pembuatnya.

Di acara inilah saya bertemu dengan Creative Kanawida dan jatuh cinta dengan warna-warna cantiknya, terutama warna biru yang sudah dalam bentuk pakaian jadi. Belakangan saya ketahui bahwa pakaian ini berlabel kanagoods yang memang menyasar anak muda, dengan tujuan memperkenalkan batik berkonsep eco fashion. 

Sancaya Rini sebagai pendirinya ingin generasi muda tertarik dan ikut melestarikan batik dengan teknik pewarnaan alami melalui ciri khas busana casual berwarna biru, warna alam dari tanaman indigofera atau dikenal sebagai tanaman indigo atau tarum. Saking cantiknya warna biru ini, saya hampir tidak percaya bahwa pewarnanya berasal dari pewarna alami. 

Diakui Rini, proses pewarnaan batik dengan menggunakan pewarna alami memang membutuhkan ketekunan dan kesabaran. Prosesnya lebih lama dibandingkan dengan pewarna sintetis, serta dibutuhkan sederet persyaratan lainnya untuk mendapatkan batik dengan warna alami yang bagus.

Kekhasan lain dari batik Kanawida yaitu menggunakan bahan baku kain yang ramah lingkungan untuk dibatik, antara lain dari serat nanas, rami dan sutera. Harus kain yang dibuat dari serat alami agar pewarna alaminya tahan lama menempel di kain. Namun untuk kain-kain ini Rini tidak membuat sendiri, melainkan dengan menggandeng perajin dari beberapa daerah sebagai pemasok kain.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2