Mohon tunggu...
FIRDAUS AGUNG
FIRDAUS AGUNG Mohon Tunggu...

Firdaus Agung lahir di Pasuruan, 29 April 1985. Menempuh sekolah dasar hingga perguruan tinggi di Kota Malang, Jawa Timur. Saat ini bekerja sebagai Marketing Staff di Erlangga Publishing, Jakarta. Rutin menulis di weblog pribadi www.widjojodipo.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

Jalan

13 Desember 2010   12:46 Diperbarui: 26 Juni 2015   10:46 39 0 0 Mohon Tunggu...




Da Vinci mungkin agak berlebihan ketika menganggit manusia, dalam beragam aspeknya, sebagai wujud mikro dari alam semesta. Melalui sketsa The Vitruvian Man yang ia kerjakan pada tahun 1487, Da Vinci menghadirkan manusia sebagai a cosmografia del minor mondo.

Kita tahu, lukisan yang terinspirasi oleh pemikiran Vitruvius dalam De Architectura itu sebenarnya merupakan satu di antara sekian banyak angan-angan para filosof Neo-Platonik yang mewujud dalam lembaran kertas, dan bukan dalam alam nyata. Sebab manusia, tidak seperti alam semesta, bukanlah benda mati yang hanya bisa larut dalam sistem yang terus berputar.

Dengan akal budi manusia bisa berfikir tentang jati diri dan tujuan hidupnya. Lebih dari itu, dengan segala potensi lahiriyah dan batiniyah yang dimiliki mereka pun bisa ‘merekayasa’ jalan hidupnya, sistem yang terus berputar itu.

Mari kita lihat bagaimana Siddhattha Gotama, yang lahir di lingkungan istana nan indah, dengan ratusan pelayan dan ribuan prajuritnya, mencampakkan kenikmatan duniawi yang telah ia kecap sejak kanak-kanak itu. Baginya, ‘pencerahan sempurna’ lebih berharga ketimbang gelimang harta. Juga Brandal Lokajaya alias Raden Sa’id, putra Tumenggung Wilatikta, yang nekat kabur dari rumah mewahnya sekadar untuk membagi-bagikan beras kepada rakyat Tuban yang tertindas.

Kehidupan kedua tokoh itu hanyalah tamsil sederhana: bahwa berkat akal budi jalan hidup yang semestinya mereka tempuh dari balik dinding istana yang angkuh kemudian berubah arah. Dan seperti mudah kita tebak, perubahan arah yang mereka kehendaki melahirkan guncangan hebat.

Kehidupan mereka berguncang, sebab kemewahan dan kenikmatan hidup yang biasa mereka peroleh berubah menjadi kesengsaraan yang tak ramah. Namun di balik guncangan itu dua orang tersebut justru menemukan ketenangan sejati, sebuah kemewahan dan kenikmatan yang jauh lebih ‘eksklusif’. Eksklusifitas itu adalah rasa intim dengan Sang Pencipta, sejenis kedekatan (atau mungkin penyatuan?) yang menghancurkan segala yang bukan aku atau Dia. Allahu a'lam.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x