Mohon tunggu...
Afifatun Nafisah
Afifatun Nafisah Mohon Tunggu... ibu rumah tangga -

You are what you eat

Selanjutnya

Tutup

Money

Membudayakan Hidup Tanpa Uang Tunai

29 Oktober 2016   08:19 Diperbarui: 29 Oktober 2016   16:24 205
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sejak dua tahun terakhir saya memutuskan untuk meminimalisir penggunaan uang tunai. Pemikiran awal adalah betapa ribetnya membawa uang berlembar-lembar ketika akan jalan-jalan atau belanja, selain itu pernah punya pengalaman buruk dompet raib dari kantong. Kalau menyimpan di rumah, rasanya tidak aman juga, apalah saya ini yang tidak mempunyai brankas pribadi di rumah. Biasanya uang tunai sekedar disimpan di lemari berkunci atau diselipin di bawah bantal. Iya, saya dulu seperti itu, sekarang sudah berbeda. Saya paling anti yang namanya pegang uang tunai, kecuali kalau mau belanja di pasar tradisional atau jalan-jalan via transportasi umum, semacam bus umum atau becak atau bajaj, wajib hukumnya bawa uang tunai berkecukupan.

Tidak memegang uang tunai itu gampang-gampang susah. Susahnya kalau belanja secara konvensional, di pasar atau warung dekat rumah atau penjual keliling, mereka pasti tidak bisa menerima pembayaran dengan uang elektronik jenis apapun. Dan lagi, jika belanja atau jalan-jalan memakai kendaraan pribadi, harus memikirkan biaya parkir, memang ada beberapa merchant atau layanan publik yang sudah menggunakan kartu uang elektronik, tapi hanya sebagian kecil.

Hidup tanpa uang tunai sebenarnya sangat praktis jika memiliki fasilitas yang memadai. Ah, hidup di era sekarang, apalagi tinggal di kota besar, fasilitas semacam gadget, uang elektronik, kartu debit/kredit serta dompet elektronik merupakan suatu yang lumrah, bahkan semacam kewajiban. Karena keadaan ini lah saya jadi terbawa era. Namun saya menikmati semua fasilitas itu, mudah dan praktis.

Ketika akan menaiki bus trans Jakarta, kita akan dipaksa membeli kartu untuk menikmati transportasi ini. Saya sendiri sudah mempunyai uang elektronik berbasis kartu jenis flazz BCA jadi bisa langsung dipakai asal saldo masih mencukupi. Berlanjut ketika ingin menikmati commuterline, lagi-lagi kita disuguhi e-ticketing dengan kartu trip atau kartu uang elektronik pribadi.Tentu saya lebih memilih kartu elektronik pribadi, tanpa antri panjang. Maka flazz BCA ini semacam pusaka wajib yang nangkring di dompet. Penggunaan flazz BCA juga bisa lebih luas, pembayaran di beberapa merchant yang bekerjasama, pembayaran tol, pembelian bahan bakar di SPBU bertanda khusus dan masih banyak lainnya.

Saya juga terkadang memakai kartu debit untuk melakukan pembayaran di beberapa restoran atau supermarket, apalagi kalau ada promo menarik, saya semakin semangat untuk transaksi menggunakan kartu debit. Bahkan harganya jauh lebih murah dibanding ketika membayar dengan uang tunai.

Selain itu, ada layanan favorit saya yang sudah nangkring di smartphone yaitu Sakuku BCA. Ini merupakan jenis uang elektronik dalam bentuk aplikasi yang diselipkan di smartphone, semacam dompet elektronik. Sakuku ini salah satu produk dari PT Bank Central Asia (BCA) Tbk. Semua orang bisa menikmati layanan ini, tidak hanya nasabah BCA. Caranya mudah, cukup install aplikasi Sakuku, kemudian isi data diri dan lakukan verifikasi,buat pin Sakuku dengan 6 digit numerik, selesai. Nantinya, nomer handphone kita lah yang menjadi nomer kepemilikan di Sakuku. Namun, untuk menikmati semua fitur yang ada harus mengaktivasi Sakuku plus. Bagi nasabah BCA cukup mengaktifkan Sakuku plus via aplikasi, masukkan nomer kartu ATM BCA dan tanggal lahir, selesai, secara otomatis Sakuku plus akan aktif. Bagi non nasabah BCA pun dapat menikmati fasilitas ini, caranya mudah, datang ke kantor cabang bank BCA dan meminta untuk aktifkan Sakuku plus, selesai. Anda langsung bisa menikmati semua fitur yang ada di Sakuku. Sakuku ini sangat bermanfaat dalam keseharian saya untuk meminimalisir pengunaan uang tunai.

Aplikasi Sakuku
Aplikasi Sakuku
Saya sendiri lebih menyukai belanja online, kenapa? Bagi saya hal ini sangat mudah dan menyenangkan. Belanja online jauh lebih murah dibandingkan belanja offline. Selanjutnya adalah bebas biaya kirim, perlu dicatat tidak semua toko online memberikan fasilitas ini, jadi kita harus pandai memilah toko online yang memberikan segudang promo menarik. Hampir semua produk di rumah saya beli secara online, mulai dari makanan kering (seperti : beras, tepung terigu, kecap, snack, mi instan, dll), peralatan rumah tangga (seperti panci, pisau, kasur, lemari, rak, dll), produk elektronik (kulkas, mixer, laptop, dll) serta pembelian pulsa listrik. Saya selalu membuat daftar belanjaan setiap bulan untuk belanja online. Karena pembelian online membutuhkan waktu beberapa hari dalam hal pengiriman, jadi saya harus pintar-pintar mengatur stok. Produk yang belum bisa saya beli secara online adalah bahan makanan segar, semacam lauk pauk, sayuran dan buah. Sebenarnya ada beberapa toko online yang sudah menyediakan produk tersebut, tapi saya masih ragu, terkait tidak bisa memilih barang secara langsung. Masih proses pengiriman yang membutuhkan waktu yang tidak sebentar, hal ini pasti akan mempengaruhi kualitas produk, maka saya belum berani mengambil risiko. Pembelian bahan makanan segar masih rutin saya lakukan di pasar tradisional atau abang sayur keliling. Di akhir pekan saya akan mengambil uang tunai seperlunya untuk belanja bahan makanan segar untuk stok selama 1 minggu. Seminggu kedepan saya bisa bertahan tanpa uang tunai. Karena kebutuhan yang lain saya beli secara online. Kalau mau belanja atau hangout, saya lebih memilih  merchant yang bisa bertransaksi menggunakan uang elektronik.

Saya selalu belanja secara online di e-commerce langganan saya, beruntungnya toko online ini bekerjasama dengan Sakuku, jadi proses belanja menjadi sangat praktis. Caranya mudah saja, pilih pembayaran dengan uang elektronik Sakuku, klik oke nanti akan ada instruksi untuk scan barcode dan selesai, saldo Sakuku akan terpotong otomatis sesuai jumlah belanja. Tak perlu keluar rumah dan tidak ada biaya administrasi yang akan menambah biaya belanja. Jadi kita bisa berhemat beberapa rupiah untuk biaya transportasi, biaya makan di luar dan biaya belanja ‘nafsu’. Mungkin ada beberapa orang yang masih meragukan belanja secara online, sedikit tips dari saya adalah pemilihan toko online untuk membeli, pilih toko online yang cukup besar dan memiliki kredibilitas yang bagus. Baca baik-baik mengenai deskripsi produk, kalau ada review pembeli akan lebih baik lagi, jika sudah mengetahui produk secara detil dan yakin akan produk tersebut baru deal-kan pesanan. Pilih juga toko online yang melayani refund atau return produk, jadi nanti tidak akan kecewa jika produk yang datang mengalami kerusakan atau cacat atau tidak sesuai ekspektasi. 

Pulsa juga semacam kebutuhan primer sekarang ini. Kegiatan pembelian pulsa juga diambil alih oleh Sakuku, sangat mudah, tinggal memasukkan nomer yang akan diisi, selesai. Tak perlu keluar rumah dan lagi tak ada biaya tambahan yang terbebankan. Bagi pengguna yang mempunyai saldo berlebih bisa mendonasikan saldo kepada keluarga atau teman yang juga mempunyai Sakuku dengan minimal transfer adalah Ro 5.000, mudah saja.

Bagi yang suka hangout sama teman bisa memakai fitur split bill, bayar tagihan secara patungan. Syaratnya teman-teman yang diajak harus punya Sakuku plus. Tagihan total bisa dibagi sesuai dengan bagian masing-masing atau mau dibagi secara rata, tergantung mufakat bersama saja. Fitur ini bisa berbagi ke maksimal 9 teman yang sudah mengaktifkan Sakuku plus. Sekarang ini sedang berlangsung promo Sakuku, ada cashback sebesar Rp 100.000 dengan melakukan minimal pembelanjaan sebesar Rp 100.000 di merchant offline yang bekerjasama dengan Sakuku pada hari jum’at, sabtu dan minggu selama periode berlangsung dan kuota masih ada. Untuk detil merchant offline yang bekerja sama bisa lihat disini. Hangout sama teman jadi makin all out.

Kalau butuh uang tunai, kita juga bisa memakai Sakuku untuk tarik tunai. Pengambilan uang tunai via Sakuku ini bisa dilakukan di ATM BCA berlogo Sakuku. Namun, ini hanya berlaku untuk Sakuku Plus, bisa menarik uang tunai kelipatan Rp 50.000 dengan maksimal penarikan Rp 1.250.000. Tapi saya sendiri belum pernah mencoba karena belum membutuhkan uang tunai secara mendesak dan lebih menyukai transaksi mengunakan uang elektronik ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun