Dzulfikar
Dzulfikar Freelance writer

Content creator, Full Time Blogger, Freelancer, SEO Geek. For inquiries contact me dzulfikar.alala[at]gmail[dot]com | bangdzul.com

Selanjutnya

Tutup

Kotaksuara Artikel Utama

Efektifkah Kampanye Hiperbola Prabowo-Sandi?

4 Desember 2018   23:37 Diperbarui: 5 Desember 2018   11:09 1219 11 7
Efektifkah Kampanye Hiperbola Prabowo-Sandi?
Prabowo-Sandiaga Uno. (Antara Foto/Sigid Kurniawan)

"Korupsi di Indonesia seperti Kanker Stadium 4" kata Prabowo.

Ucapan Prabowo dalam acara "The World in 2019 Gala Dinner" yang diselenggarakan oleh majalah The Economist di Hotel Grand Hyatt Singapura beberapa waktu lalu, menuai reaksi keras termasuk dari pimpinan KPK RI.

Ungkapan Prabowo tersebut memang terkesan hiperbola, berlebih-lebihan, seolah-olah korupsi di negeri ini seperti penyakit akut yang sudah tidak bisa diselamatkan lagi.

Lembaga anti rasuah Indonesia yang selama ini selalu melakukan kemoterapi terhadap sel-sel korupsi yang muncul termasuk dari Partai Allah sekalipun menampik pernyataan tersebut.

KPK bicara berdasarkan bukti data, bukan semata bicara tanpa ada bukti dan data yang valid.

Jelas saja Agus Rahardjo (Ketua KPK RI) juga merasa terusik dengan ucapan Prabowo. Menurutnya indeks korupsi di Indonesia kini jauh lebih baik daripada saat Orde Baru. 

Agus menyebutkan bahwa indeks persepsi korupsi Indonesia saat awal reformasi berada di urutan paling bawah di Asia Tenggara berada di peringkat empat di bawah Malaysia dan Brunei. Namun, saat ini Indonesia bisa memperbaiki peringkatnya dengan melampaui kedua negara tersebut.

Sebenarnya pernyataan-pernyataan Prabowo yang tidak berdasarkan data dan fakta bukan hanya kali ini saja. Beberapa kali Prabowo mengungkapkan pernyataan-pernyataan berlebihan yang justru menjadi senjata makan tuan.

Contohnya saja ketika keluar pernyataan bahwa angka kemiskinan di Indonesia naik 50 persen dalam lima tahun terakhir. Secara tersirat jelas kritik ini dialamatkan kepada siapa.

Alih-alih mendapatkan dukungan, justru omongan tersebut lagi-lagi dibantah oleh Kepala Badan Pusat Statistik Suhariyanto. Suhariyanto berpendapat angka kemiskinan justru mengalami penurunan selama lima tahun terakhir. Dan itu dijawab dengan data, bukan sekadar omongan saja.

Angka kemiskinan di Indonesia justru berkurang sekitar 7,4 persen berdasarkan data kemiskinan per September 2017 jika dibandingkan dengan data angka kemiskinan September 2012.

Anehnya, kampanye hiperbola ini justru diimitasi juga oleh Sandiaga Uno. Beberapa kali Sandiaga melakukan kunjungan ke pasar dan melontarkan pernyataan-pernyataan yang sensasional.

Sebut saja seperti tempe setipis ATM, duit Rp 100 ribu cuma cukup untuk beli cabai dan bawang, hingga membandingkan nasi ayam di Indonesia yang dianggap lebih mahal dengan nasi ayam di Singapura.

Pernyataan-pernyataan seperti itu rasanya tidak pas lagi jika disebut hiperbola, melainkan mengarah pada penyebaran informasi palsu, apalagi bicara tanpa data.

Padahal, keduanya dilahirkan dalam lingkungan yang berkecukupan dan mengecap pendidikan tinggi di luar negeri, bahkan malah disebut-sebut sebagai konglomerat paling tajir melintir diantara kandidat capres dan cawapres lainnya.

Seharusnya mereka berdua justru paling melek soal hitung-hitungan ekonomi. Antara ironis dan sedikit miris juga jika lulusan luar negeri tapi kerap kali bicara tanpa disokong dengan data dan fakta yang kuat.

Ya, tapi mungkin wajar saja. Keduanya bukan saja kerap kali menyampaikan informasi yang keliru tapi juga tertipu oleh tim pemenangannya sendiri.

Pernyataan-pernyataan pemimpin seperti mereka jelas sangat berbahaya ketika melontarkan statement yang menyesatkan tanpa data. Bisa timbul fitnah dan salah persepsi di tengah masyarakat.

Kalau memang mereka berdua hanya pandai merangkai majas hiperbola, kenapa tak jadi pujangga atau penulis fiksi saja?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2