Mohon tunggu...
Efwe
Efwe Mohon Tunggu... Cuma sekedar berbagi

Penikmat tulisan dan tontonan Emailnya Ferywidiamoko24@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Keamanan Pilihan

Menurut Hanum Rais, Penusukan Wiranto Settingan

10 Oktober 2019   18:03 Diperbarui: 11 Oktober 2019   21:10 0 28 23 Mohon Tunggu...
Menurut Hanum Rais, Penusukan Wiranto Settingan
Twitter Hanum Rais

Belum habis rasa terkejut kita mendengar dan menyaksikan salah satu pejabat tinggi kita, Menteri Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) diserang secara fisik dengan cara ditusuk bagian perutnya, oleh 2 oramg tak dikenal, yang kemudian diketahui bernama Syahrial Alamsyah alias Abu Rara dan Fitriani Andiani.

Percobaan pembunuhan pejabat negara dengan cara seperti ini baru kali ini terjadi di Indonesia. Sepanjang 74 tahun Indonesia terjadi baru kali ini kejadian seperti ini terjadi.

Simpati terus mengalir kepada Wiranto karena kejadian ini membuat jiwanya benar-benar terancam. Saat ini ia sedang  di operasi di RSPAD Gatot Soebroto, kondisinya memang relatif stabil.

Namun ditengah suasana prihatin yang kini menyelimuti negeri ini akibat kejadian yang saat ini masih didalami pihak kepolisian. 

Seorang anggota DPRD Jogyakarta, anak dari seorang Profesor yang katanya tokoh bangsa Amin Rais. Hanum Salsabila Rais dengan teganya mencuitkan pikirannya melalui platform media sosial Twitter bahwa kejadian yang menimpa Jenderal (Purn) Wiranto adalah Settingan.

Ia menulis melalui akun twitternya @hanumrais

 "settingan agar dana deradikalisasi terus mengucur.

Dia caper. Krn tdk bakal dipakai lagi

Play Victim mudah dibaca sebagai plot.

Diatas berbagai opini yang beredar terkait berita hits siang ini. Tdk banyak yang serius menanggapi hal ini. Mungkin karena banyak hoax-framing yang slama ini terjadi," cuit Hanum. Tweetannya itu langsung dikomentari oleh 1436 akun, diretweet 89 kali.

Entah apa maksudnya ia mencuitkan hal ini. Tak adakah rasa empati sedikit saja. Bukan kali ini saja perempuan ini membuat masalah terkait postingannya di medsos.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2