Mohon tunggu...
Felicia Meli Fonnenti
Felicia Meli Fonnenti Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

Bukan mencari yang sempurna, namun mencari yang tepat

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Alam & Teknologi Pilihan

Erupsi Gunung Semeru, Apakah Bisa Diantisipasi?

14 Desember 2021   18:11 Diperbarui: 14 Desember 2021   18:15 208 2 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Keindahan Gunung Semeru | Liputan6.com

Kini Erupsi Gunung Semeru hanya menyisakan kenangan akan keindahan alamnya juga meninggalkan banyak luka bagi para korbannya. Erupsi Gunung Semeru di Indonesia pada 4 dan 5 Desember menewaskan sedikitnya 43 orang, dengan 13 orang hilang dan sedikitnya 3.000unit rumah rusak hingga 9 Desember. Ribuan warga, khususnya Kabupaten Lumajang, Jawa Timur mengungsi ke desa-desa terdekat.

Gubernur Jawa Timur, tempat gunung berapi itu berada, mengklaim sistem peringatan dini gunung berapi (VEWS) telah aktif dan berjalan, mengutip Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

Erupsi Gunung Semeru | Detik.com
Erupsi Gunung Semeru | Detik.com

Tapi Mengapa Sistem Peringatan Dini Gagal Menyelamatkan Nyawa Warga Sekitar Semeru?

Untuk menjawab pertanyaan ini, penting untuk memahami bagaimana PVMBG Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mengklasifikasikan peristiwa fisik Semeru dan tingkat siaga yang sesuai. PVMBG memantau dan mensurvei status bahaya Semeru menggunakan VEWS yang berfokus terutama pada ancaman utama gunung berapi yaitu letusan, termasuk emisi abu yang lebih besar dan material lain ke atmosfer dari dalam.

Indonesia 'mengadopsi' klasifikasi bahaya gunung berapi AS, di mana status gunung berapi tertinggi adalah Awas (Tingkat Peringatan – Merah). Awas berarti “gunung berapi akan meletus, sedang meletus atau dalam keadaan kritis yang dapat mengakibatkan bencana. Tanda-tanda kritis ditandai dengan pelepasan abu ke atmosfer yang berpotensi memicu letusan dalam waktu kurang dari 24 jam”. Implikasinya, pesan peringatan di tingkat masyarakat hanya dikeluarkan di tingkat Awas dan tidak di tingkat bawah lainnya.

Menurut PVMBG, ledakan di sekitar Semeru bukan karena aktivitas utama dari dalam gunung berapi, melainkan ledakan akibat curah hujan. Curah hujan yang berlebihan berinteraksi dengan akumulasi lava yang akhirnya meluber ke bagian kubah lava gunung berapi yang terkikis. Hal ini memicu ledakan aliran piroklastik dan puing-puing panas padat. Karena ledakan itu disebabkan oleh faktor sekunder dan bukan aktivitas internal gunung berapi, PVMBG telah mempertahankan Semeru dalam status Waspada atau Siaga Kuning pada 10 Desember 2021.

Kepala PVBMG Andiani mengatakan kepada media bahwa kondisi bahaya Semeru masih dalam status quo dan masih di bawah tingkat bahaya tiga gunung berapi dengan status Siaga (Awas): Merapi di Yogyakarta, Lewotolok di Nusa Tenggara Timur, dan Sinabung di Sumatera Utara.

Berbagai media menyebut apa yang terjadi di Semeru sebagai letusan, tetapi mantan Kepala PVBMG Surono mengatakan terminologi yang lebih tepat adalah ledakan yang disebabkan oleh curah hujan dan karenanya merupakan 'ancaman bahaya sekunder (secondary hazard)'. Seperti yang ditunjukkan oleh data PVMBG, tidak ada letusan dari aktivitas gunung berapi internal, tetapi peningkatan kerusuhan di atas tingkat latar belakang di kawah dan interaksi antara hujan dan material lava menyebabkan kubah lava melepaskan longsoran awan abu panas. Sementara di bagian hilir, seperti yang juga terjadi tahun lalu, curah hujan mempercepat transportasi cepat Lahar.

Ledakan Mata Rantai Yang Hilang Dan Celah Tata Kelola Risiko

Pemerintah harus menyadari bahwa kemungkinan besar (dan terbukti secara empiris di Semeru) 'ancaman bahaya sekunder' tidak kalah mematikan dan merugikan. Jenis risiko ini nyata dan harus diintegrasikan dalam rencana kesiapsiagaan gunung berapi secara keseluruhan dan sistem peringatan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Alam & Teknologi Selengkapnya
Lihat Ilmu Alam & Teknologi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan