Mohon tunggu...
Fazil Abdullah
Fazil Abdullah Mohon Tunggu... menulis itu meluruskan pikiran yang kusut.

Gratis buku saya. Silakan yang berminat ke https://play.google.com/store/books/details?id=-L4pDgAAQBAJ

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup Pilihan

Jangan Melupakan Orang yang Tak Melupakanmu

9 Agustus 2016   22:13 Diperbarui: 9 Agustus 2016   22:39 0 1 0 Mohon Tunggu...
Jangan Melupakan Orang yang Tak Melupakanmu
Sumber Gambar: zaprokul.org.rs

Sudah lama tak bercerita. Ini kisah bagus untuk kuceritakan padamu. Tentang dua kawan, seorang sehat jiwa dan seorang lagi sakit jiwa (semacam skizofrenia). Keduanya teman kuliah saya semasa di UGM. Meski dijauhkan jarak dan waktu, kami masih komunikasi sampai kini. Tapi seorang kawan yang sehat ini, setiap dia ke Yogya, tak lupa menjenguk kawan sakit ini. Sangat-sangat senang kawan yang sakit ini menyambut kawan sehat ini.

Tak semua orang mampu, sabar menghadapi pengidap skizofrenia. Kawan sehat ini mampu luangkan waktunya menjenguk (Dia kerja di Kalimantan), dan mampu menghidupkan kembali jiwa si kawan sakit dengan ingatan-ingatan baik semasa kuliah.

Ingatan soal masa kuliah, sangat baik dan terang buat si kawan sakit dan jadi bahan obrolan dengannya. Apa-apa yang kita lupa, dia bisa urai. Hal-hal berkesan, moment berkesan, dia ingat, padahal kami sudah 10 tahun berlalu masa itu untuk mengingat hal-hal kecil itu.

Padanya kita disadarkan, hal-hal yang kita anggap tak penting dan tak berarti, ternyata menjadi sangat berarti buat seseorang, baginya. Menjadi obat ingatan, menyegarkan jiwa dari kecamuk masa kini yang dialaminya. Bukankah kita pun kadang begitu; lari ke masa lalu ketika lelah menghadapi dan mengalami masa kini, yang kita poles dengan acara komunal seperti reuni?Sepertinya, perlu juga kita rawat dan jaga ingatan apa-apa yang baik di masa lalu sebagai persinggahan jiwa yang lelah saat masa kini. Bisa seperti itu.

Cerita tentang kebaikan teman yang sehat ini, tersentuh saya. Ada rentang masa hubungan kawan yang sehat dan kawan yang sakit ini, putus setelah selesai kuliah. Katakanlah di tahun ke lima, mereka dipertemukan. Menemui kawan masa kuliah yang sangat drastis berubah. Hitam, brewokan,mata kosong, dan tak mengenal diri sendiri dan dirinya. Asing.

Kawan sehat ini bercerita, sangat-sangat sedih melihat kawan akrab kami ini, kawan sepermainan semasa kuliah, kawan baik ini yang kini jadi begitu asing saat ditemui. Saya pun merinding mendengarnya. Pertemuan-pertemuan selanjutnya, kawan sakit ini baru mengenal kawan sehat ini setelah diungkit ingatan masa lalu dan terbukalah jiwa si sakit. Hidup jiwanya. Akhirnya banyak bercerita dia dari biasanya, dari sebelum-sebelumnya.

Pada kawan sehat ini, kawan sakit ini banyak bercerita; tentang masa lalu, tentang masa kini yang dijalani, dan tentang apa-apa yang diinginkan. Semua cerita menyenangkan dan baik bisa kamu dapatkan darinya yang mungkin télah kamu lupa.

Pernah saat ke Jogja, kawan sehat ini tak ada niatan atau lupa untuk menjenguk kawan sakit ini. Tapi takdir seakan mempertemukan kawan ini di Malioboro Jogja. Aneh, unik. Di antara keramaian manusia di Malioboro, dan mengingat sangat jarangnya kawan sakit ini keluar rumah, sungguh ajaib mereka bisa bertemu.

Saya merinding mendengarnya seakan tangan-tangan takdir mengatur mereka bertemu; "Jangan lupakan kawanmu ini. Jangan lupakan. Karena keadaannya kini yang terasing dan didiamkan manusia, menghabiskan hari-hari dengan kesendirian, tak ada tempat bercerita, sungguh makin menyudutkan jiwanya ke tempat sepi yang tak kalian ketahui. Padamu ia bisa bercerita dengan nyaman, terbuka, dan percaya.

"Jangan lupakan..... Meski jauh tak bisa bertemu fisik, komunikasi bisa dijalin dengan ragam tehnologi komunkasi masa kini. Pokoknya, jangan lupakan dia saat kalian bisa hadir meluangkan waktu dan diri bertemu. Ingatlah, isi jiwanya yang baik, sehat, dan hidup itu sebagiannya terisi oleh kalian yang tak pernah bisa ia lupakan dan mampu menghidupkan jiwanya yang sehat."

Jika ia menelpon, kadang bisa se-jam-an lebih obrolan yang tak tahu awal dan ujung. Memang harus sabar menyimak dan mendengar meski loncat sana-sini obrolannya. Kadang kita harus mengiring atau memancing obrolan ke hal-hal yang menyenangkan, atau bertanya detil hal-hal kecil yang dilakukan hari-harinya; seperti cara melinting rokok nipah yang dihisapnya, soal game yang dimainkannya, memintanya menceritakan detil buku-buku novel yang dibaca. Ia pun bisa menceritakan kembali dengan jelas apa-apa yang sudah dibacanya. Mendengar keinginan dan apa-apa yang ingin dilakukan di masa mendatang. Apa saja.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x