Mohon tunggu...
Fauzan Muhammad
Fauzan Muhammad Mohon Tunggu...

Direktur Eksekutif Lokomotif Perubahan. Dapat ditemui di alamat fauzansjr@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Novel

Kenapa Aku Harus Menunggu?

12 Mei 2012   13:49 Diperbarui: 25 Juni 2015   05:23 0 0 0 Mohon Tunggu...

Kubalik kartu itu. Cap posnya dari Sevilla, dan satu-satunya yang tertulis di sana adalah: "Aku sering memikirkanmu. Bisakah kau menunggu sedikit lebih lama?" Aku mencoba berpikir jernih. Aku mencoba mengatakan kepada diri sendiri bahwa aku tidak bisa berharap langsung berjumpa dengan si Gadis, barangkali tidak dalam beberapa hari pertama. Jadi, aku tidak tinggal di kebun itu lebih dari tiga jam. Tapi, untuk berjaga-jaga sebelum pergi, aku tinggalkan catatan untuknya di sebuah air mancur tua di tengah kebun itu. Kutulis, "Aku pun selalu memikirkanmu. Tidak, aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi". Aku taruh sebuah batu kecil di atas kertas itu. ------------------------------------------------------------ Kurang dari satu jam kemudian, ketika aku sudah masuk jauh ke dalam kota itu lagi, baru kusadari dengan penuh kekecewaan betapa aku mungkin sudah melakukan sesuatu yang sangat keliru. Dia dulu mengatakan: "Kamu mesti bisa menunggu enam bulan. Jika kamu bisa menunggu selama itu, kita bisa saling berjumpa lagi". Kemudian, aku bertanya mengapa aku harus menunggu selama itu si Gadis hanya menjawab: "Karena memang selama itulah kamu harus menunggu. Tapi, jika kamu bisa melakukan itu, kita bisa bersama setiap hari sepanjang enam bulan berikutnya". ------------------------------------------------------------ "Kamu gagal," katanya. "kamu tidak bisa menungguku!" "Tidak," aku akui. "Karena kini hatiku berdarah lantaran derita". Aku menatapnya, dia masih tersenyum. Aku mencoba untuk tersenyum juga, tapi tidak berhasil. "Jadi, aku sudah kalah bertaruh?" aku menambahkan. Dia berpikir sejenak, kemudian berkata, "Dalam hidup, kita kadang-kadang perlu untuk bisa sedikit merindu. Aku menulis surat kepadamu. Aku mencoba untuk memberimu kekuatan merindu sedikit lagi. Aku minta kamu untuk setia kepadaku. Aku minta kamu untuk sedikit memercayaiku". "Jadi aku sudah kalah?" kataku. "Ya, kamu gagal, tapi situasi ini bukan tak bisa berubah". "Tapi bagaimana caranya?" balasku lagi. "........ " ------------------------------------------------------------ SAMBUNGAN KE BAGIAN 2

KONTEN MENARIK LAINNYA
x