Mohon tunggu...
Fatima Aulia Khairani
Fatima Aulia Khairani Mohon Tunggu... Seorang ibu dan dokter spesialis kulit dan kelamin, yang selalu berkhayal dan bermimpi menjadi penulis.

Those who wish to sing, will always find a song. Those who wish to dream, will always find a way. IG: @drfatimauliaspdv @fatimauliakhairani

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Belajar Menghadapi Kehilangan

26 April 2021   12:33 Diperbarui: 26 April 2021   12:38 53 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Belajar Menghadapi Kehilangan
dok. pribadi

Saya bukan tipe orang yang mudah mengutarakan perasaan sejak dulu. Saya ingat pernah suatu kali saya bermimpi ayah saya meninggal, kemudian saya seketika terbangun dan berlari ke kamarnya karena takut itu kenyataan. 

Hati saya lega melihat dirinya masih tertidur sambil bernafas, tapi beliau sempat terbangun dan bertanya, "Ada apa?"

Saya sambil berusaha menahan tangis hanya menjawab ,"Enggak apa-apa yah." Padahal saat itu saya sangat ketakutan kehilangan dia.

Saya juga ingat ketika suatu kali ibu saya belum pulang bekerja, padahal biasanya ibu saya sudah pulang. Hari itu sudah menjelang malam, dan pada zaman itu tentu belum ada ponsel atau telepon genggam. Saya sangat khawatir, takut ibu saya kenapa2. Saya terus memanjatkan doa agar Tuhan tidak mengambil ibu saya sekarang. Begitu ibu saya datang, saya sangat lega tapi tak mampu berkata-kata. Saya bahkan tak mampu untuk bilang bahwa saya sangat merindukan dan takut sekali kehilangannya. Saya melihatnya pulang, lega, kemudian semua berjalan normal.

Saat saya beranjak remaja dan dewasa, saya semakin menyadari sifat saya yang "berbeda" ini. Terkadang saya "iri" dengan perempuan yang sangat mudah berbicara dengan mengutarakan perasaan mereka. Bahkan untuk mengucapkan "hati-hati ya di jalan", susahnya juga luar biasa, padahal saya jelas menginginkan mereka baik-baik saja, bukan sekedar basa-basi.

Kadang-kadang yang keluar dari diri saya justru adalah sifat dingin atau cuek terhadap orang-orang yang saya sayang. Entah krn saya takut mereka tidak merasakan perasaan yang sama. Itulah mengapa dulu, saya bisa punya diary hingga berpuluh bahkan beratus lembar.

Lambat laun, sekarang saya mulai belajar mengutarakan apa yang saya rasakan. Mencoba lebih terbuka dan mengutarakan apa yang saya rasakan. 

Bila sangat sulit, saya terkadang menuliskannya dalam tulisan yang dikirimkan langsung pada yang dituju. Jauh lebih baik daripada dulu. 

Untungnya, partner saya sekarang adalah tipe yang sangat apa adanya, terbuka, dan santai. Haha. Saya jg mencontohkannya untuk anak-anak, agar mereka juga tumbuh menjadi anak-anak yang mudah mengutarakan apa yang mereka rasakan.

Salah satu alasan saya mengapa saya mulai belajar mengutarakan perasaan adalah karena setiap saat kita bisa hilang karena kita akan menghadapi kematian. Ya, menghadapi kehilangan, dengan belajar mengutarakan perasaan sebelum semua terlambat dan menyesal kemudian.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x