Mohon tunggu...
Fatah Baginda Gorby Siregar
Fatah Baginda Gorby Siregar Mohon Tunggu... -

-Anggota Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia - Ketua Komisi Politik Konferensi Cabang XIX GMNI Kota Medan -Ketua Lembaga Studi Elang-Rajawali Indonesia - Alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis USU

Selanjutnya

Tutup

Politik

Ahok dan Politik Taichi-nya

31 Juli 2016   02:14 Diperbarui: 2 Agustus 2016   02:53 542
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumber Gambar :https://scontent.cdninstagram.com

Taichi adalah sebuah bentuk seni bela diri dari senam kesehatan aliran halus, yang berasal dari Tioangkok. Taichi terbagi menjadi berbagai “gaya” yang berasal dari satu akar dan konsep dasarnya hampir sama, namun memiliki gerakan yang berbeda-beda. Adapun gaya-gaya yang terkenal dibanyak kalangan yakni gaya Chen, gaya Yang, gaya Wu, dan gaya Sun. Taichi menjadi sangat terkenal dikalangan luas karena jurus ini yang pernah dipopulerkan dalam berbagai film kungfu yang sebagian besar diperankan oleh Jet Li.

Menurut legenda Taichi diciptakan oleh Thio Sam Hong, seorang pendeta Tao yang hidup di abad ke-12, yang kemudian terus di kembangkan oleh para penerusnya. Pada akhirnya senam Taichi berkembang menjadi bentuk latihan yang digemari, dan bisa digunakan dalam pembelaan diri. Oleh karena itu, pemerintah Tiongkok menetapkan senam Taichi kedalam bagian olahraga Wushu (Wikipedia.org).

Gerakan Taichi berupa campuran antara kontak ringan (tanpa serangan-menangkis) dan kontak penuh (serangan, tendang, dll). Inilah alasan penulis mengibaratkan jurus politik ahok yang bentuknya halus dibandingkan kelugasannya didalam kata-kata dan tindakannya dalam memimpin DKI Jakarta. Ketika ia berpolitik, ia lebih halus, banyak menghindar walau sesekali dapat menyerang.

1. Awal Mula Gubernur Ahok

Jika kita melihat lebih jauh kebelakang pasca terpilihnya Joko Widodo menjadi presiden,Ahok seakan menjadi “single fighter” di pemprov DKI Jakarta. Ditambah lagi ia kemudian tidak sejalan dengan si “empunya” partai Gerindra ia di keroyok oleh partai-partai yang berkomplot di parlemen DKI.

Masih segar di ingatan kita bagaimana hubungan ahok dengan “mitra” legislatifnya, meruncingnya hubungan Ahok dengan Pimpinan DKI Haji Lulung cs. Tidak main-main Haji Lulung ingin melengserkan ahok dari kursi Gubernur DKI Jakarta. Namun ahok tidak tinggal diam, ia membalas dengan nyanyian “merdu” UPS yang menghebohkan. Adanya manipulasi anggaran, tender-tender yang dimenangkan badan usaha fiktif hingga milyaran rupiah yang cukup menghebohkan publik tanah air.

Haji Lulung cs (cs maksudnya dengan teman-temannya) sempat berkali-kali dipanggil menjadi saksi oleh pengadilan Tipikor Jakarta dan sempat mendadak artis didunia maya karena pernyataan-pernyataannya yang menghebohkan. Kisruh ahok dengan DPRD tidak hanya sampai disitu, tentu saja kita sama-sama tahu alotnya pembahasan APBD DKI tahun 2015 hingga mengakibatkan “dissenting opinion” dengan kemendagri.

Dari beberapa perihal diatas menjadi catatan kepada kita bagaimana ahok sebenarnya, didalam hati kecilnya mungkin saja ia ingin melakukan konsolidasi politik, agar agar pemerintahannya tidak diganggu oleh parlemen. Disisi lain entah mengapa media terus menggambarkan ahok sebagai pendekar yang mendapat jurus dari langit untuk memperbaiki ketidak-beresan birokrasi yang ada didalam pemerintahannya. Jika kita melihat apa yang dilakukan Ahok dalam “membina” bawahannya, bagaimana gaya ia memimpin rapat dengan para Walikota, kepala dinas dan unsur pemerintahan DKI lainnya, ditambah lagi pemecatan ditempat kepada bawahannya yang ketahuan nyeleweng dan masih banyak lagi.

Ahok dapat memenangkan hati rakyat Jakarta dengan program-programnya yang membumi, mulai dari membangun rusun, optimalisasi waduk, relokasi Kalijodo hingga program-program lainnya. Terlepas dari pro dan kontra bagaimana langkah teknis yang dilakukan para bawahannya, namun ia telah berhasil memenangkan massa rakyat hingga grass roots (akar rumput).

Karakter masyarakat Jakarta memang agak berbeda dibandingkan dengan masyarakat kota lainnya, seperti masyarakat Medan, Ambon hingga Papua. Masyarakat Jakarta jauh lebih “melek” politik, kuatnya jaringan informasi yang dihasilkan oleh media, dan pola-pola distribusi informasi yang tersebar merata, membuat rakyat dari kalangan atas hingga kalangan marhaen tidak gagap dalam berpolitik. Mereka bisa membahas isu yang hangat , yang terbaru, ketimbang isu yang telah usang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun