Mohon tunggu...
Farhana Ameera Lubis
Farhana Ameera Lubis Mohon Tunggu... Lainnya - XI MIPA 3 - SMAN 28 Jakarta

:)

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Sonata Terindah

27 November 2020   15:03 Diperbarui: 27 November 2020   15:18 286
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber: pinterest.com

Aku memejamkan mataku, benakku kembali mengingat apa yang tak ingin kuingat. Dahulu aku tahu Eva akan pindah ke negeri lain. Sebelum dia pindah, kami akan melakukan audisi pemain piano untuk sebuah konser orkestra salah satu komposer ternama di Indonesia.  Aku dan Eva sama-sama menginginkan posisi tersebut. Kami berdua mempersiapkan segalanya demi menjadi yang terpilih. Selesai audisi ternyata aku lah yang mendapatkan posisi itu. Sejak peristiwa  itu, Eva mulai terlihat menjauh dariku. Ucapan selamat yang dia berikan hanya berupa kata-kata datar dengan wajah penuh kekecewaan. Saat itu aku ingin langsung menghiburnya, tapi pada saat yang sama aku harus menemui tim penyelenggara audisi. Aku memintanya untuk menunggu dan pulang bersama, tapi saat aku kembali ke tempatnya berada, dia sudah tidak ada di situ. 

Berhari-hari aku menghubunginya, tapi Eva tak pernah membalas pesanku. Aku pun mengunjungi rumahnya tapi selalu saja ada alasan untuk tidak mau menemuiku atau dia tak ada di rumah. Kebetulan aku pun disibukkan dengan jadwal latihan yang sangat padat, sampai suatu saat aku kembali berkunjung ke rumahnya, alangkah terkejutnya aku saat melihat rumah Eva sudah kosong dan ada spanduk bertuliskan “Dijual”. Eva pergi tanpa berpamitan denganku. Saat konser orkestra berlangsung, Eva tak tampak batang hidungnya untuk menonton penampilanku. Dia betul-betul menghilang tanpa pesan untukku.

Aku menghela nafas kembali dalam-dalam. Peristiwa-peristiwa itu sangat menyakitkan bagiku. Aku menjelaskan segala hal padanya. Bagaimana aku berusaha untuk mencari dan menghubunginya tetapi semua itu sia-sia belaka. Eva tampak tertunduk dan meneteskan air matanya. Sesekali dia menyeka matanya dengan tisu di tangannya. Tiba-tiba dia berkata dengan wajah sedih,

“Saat kau bilang tidak akan ikut audisi itu karena berbenturan harimu dengan acara keluarga, awalnya aku merasa lega karena sainganku yang ilmunya sama denganku berkurang dan aku sudah optimis akan lolos, tapi realita berkata sebaliknya. Kau jadi mengikutinya dan bahkan terpilih dalam audisi itu. Sedangkan aku hanya menjadi cadangan saja. Aku merasa kecewa dan sedih. Sebetulnya konser orkestra itu begitu berharga bagiku karena itu akan menjadi konser terakhirku di Indonesia. Dengan rasa kecewa dan sedih yang ada dalam diriku, juga berbaur dengan rasa iri, aku berusaha untuk selalu menghindar darimu, bahkan memutuskan untuk pindah tanpa pamit.”

Sambil menahan emosinya, dia terdiam sejenak lalu melanjutkan kata-katanya.

“Aku sangat menyesal atas perbuatanku, Ka. Selama hari-hariku di negara yang baru, aku selalu mempertanyakan perbuatan bodohku ini. Lama kelamaan kekecewaanku berubah menjadi keinginan untuk mengulang masa-masa indah persahabatan kita.Tapi aku tahu kamu pasti sedih dan marah, jadi aku tidak mempunyai keberanian untuk meminta maaf padamu. Untung saja kita kemarin bertemu. Takdir mempertemukan kita di sini. Maafkan aku, Ka. Kuharap kamu bisa memaafkanku.”

Aku tak bisa berkata sepatah katapun setelah mendengar semuanya. Mataku terasa hangat dan ada tetesan air mata yang jatuh. Semakin lama semakin banyak, aku terisak. Tak bisa kubayangkan bagaimana perasaan Eva dahulu ketika aku yang terpilih. Aku merasa bersalah. Selama ini aku hanya memikirkan diriku sendiri dan memandang dari sudut pandangku akan rasa kekecewaan terhadap persahabatan kami. Ini menjadi pembelajaran untukku.

 “Eva, Aku minta maaf juga padamu. Semua pertanyaanku tentang persahabatan yang selama ini selalu bermain di pikiranku, sudah terjawab. Aku pun bisa mengerti perasaan kecewamu. Maafkan aku.. Aku begitu tidak peduli padamu karena tidak menyadari betapa pentingnya konser orkestra itu bagimu. Kuterima maafmu dengan tulus dan kuharap kamu juga bisa memaafkanku. Semoga kita bisa kembali membuat memori sebagai sahabat.”

Kami berbaikan dan saling memaafkan atas peristiwa masa lalu. Kami kembali bersahabat dan membuat memori baru. Memori pertama dengan menonton konserku di negara ini. Eva hadir memberi dukungan untukku. Saat namaku dipanggil, aku segera menuju ke panggung. Tepuk tangan penonton menggema. Gema yang terdengar semakin lama semakin redup, menunjukkan bahwa penampilanku akan segera dimulai.

Aku mulai memainkan jari jemariku dengan menekan tuts, memainkan not demi not kemudian membentuk sebuah melodi yang indah. Ruangan terasa sunyi, hanya denting piano yang bersuara. Melodi lagu yang kumainkan seperti sedang menceritakan sebuah kisah penuh makna, penuh emosi, yang menarik pendengarnya menuju imajinasi tersendiri. Mahakarya ini kubawakan dengan segenap jiwaku, berharap aku bisa membawa para penonton ke dunia dibalik cerita lagu.

“Aku berhasil.” Suara hatiku terdengar sayup di dada.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun