Mohon tunggu...
Farah Shiddiqoh
Farah Shiddiqoh Mohon Tunggu... Psikolog - Psikologi | Vloger | Conten Visual

UNISA | Psikologi farahshiddiqoh@gmail.com Instagram : @farahshs_ It's Not a Perfect Person #mentalhealthranger

Selanjutnya

Tutup

Healthy

Reaktif Terhadap Kesehatan Mental di Masa Pandemi

24 Desember 2020   14:25 Diperbarui: 11 Januari 2021   14:20 166
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pada tahun 2019, terdapat wabah penyakit virus yang berasal dari Wuhan, salah satu kota di China. Virus ini menyebar dengan mudah dari manusia ke manusia yang terinfeksi. Disebut sebagai Virus Corona atau Coronavirus Disease (COVID-19) gejalanya sama seperi SARs. Virus ini menyebar keseluruh dunia  termasuk negara Indonesia juga terinfeksi COVID-19, pada bulan Maret tahun 2020 terdapat dua orang Indonesia yang pertama positif terinfeksi Covid-19 kemudian setiap harinya bertambah kasus positif dan meninggal akibat virus Corona. Pandemi COVID-19 membuat seluruh negara dan daerah melakukan pembatasan wilayah dan kegiatan. Masyarakat harus melakukan physical distancing atau menjaga jarak fisik, agar mencegah terinfeksinya virus.

Selain itu, pada kondisi ini masyarakat dihimbau untuk melaksanakan protokol kesehatan yang dibuat oleh Kementerian Kesehatan. Protokol kesehatan bertujuan agar masyarakat dapat beraktivitas secara aman dan tidak membahayakan kesehatan untuk diri sendiri dan orang lain. Kasus COVID-19 hingga saat ini mengalami peningkatan, maka segala aktivitas dilakukan di rumah. Kegiatan belajar, bekerja dan lain-lain dilakukan dari rumah sebagai kebijakan yang dilakukan pemerintah agar mencegah penyebaran COVID-19.

Dibutuhkan kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan di masa pandemi ini, karena pandemi COVID-19 tidak hanya mengancam kesehatan fisik tetapi juga kesehatan mental setiap individu. Apalagi di masa pandemi ini semua orang harus beraktivitas di rumah tidak bisa bertemu dengan teman, rekan kerja, sahabat bahkan keluarga. Selama pandemi kita mengalami stres, cemas, takut bahkan depresi karena pandemi ini. Hal ini bisa berdampak pada kesehatan fisik, jika mental kita menurun otomatis fisik juga ikut menurun sehingga virus akan mudah masuk ke tubuh kita.

Untuk itu kita harus cepat tanggap dan bereaksi dalam langkah menjaga kesehatan baik secara fisik dan mental selama pandemi. Dimana muncul berbagai pertanyaan terkait dengan Bagaimana bentuk sehat mental itu?, Apa saja yang membuat stress di masa pandemi ?, Apa  hrus dilakukan agar tetap sehat mental?

Sehat Mental ?

Sehat mental dapat diartikan sebagai kondisi individu yang berada dalam keadaan sejahtera, mampu mengenal potensi dirinya, mampu menghadapi tekanan sehari-hari, dan mampu berkontribusi di lingkungan sosial (WHO, 2015). Bentuk sehat mental selama pandemi yaitu ketika kamu tidak merasa tertekan dengan keadaan sekarang, mampu menjalani kehidupan dengan baik dan normal, pikiran yang positif dan tidak ada perubahan pola perilaku ke arah negatif. Manfaat menjaga kesehatan mental selama pandemi dapat membuat kamu produktif melakukan sesuatu kegiatan atau pekerjaan saat di rumah saja, menjaga fokus dan konsentrasi, meningkatkan daya tahan tubuh dan terhindar dari penyakit.


Pandemi ini membuat banyak orang menjadi stress karena interaksi sosial yang sangat dibatasi atau berkurang dan kondisi ekonomi yang mengalami penurunan pendapat karena PHK. Menurut WHO (2019), stres yang muncul selama pandemi COVID-19 dapat berupa :

  1. Ketakutan dan kecemasan mengenai kesehatan diri maupun kesehatan orang lain yang disayangi.
  2. Perubahan pola tidur dan/atau pola makan, terjadi karena tidak mengatur jadwal kegiatan  selama di rumah aja.
  3. Sulit tidur dan konsentrasi.
  4. Memperparah kondisi fisik seseorang ynag memang memilki riwayat penyakit kronis dan/atau gangguan psikologis.
  5. Menggunakan obat-obatan (drugs)

Jika mengalami stress yang berkepanjangan, mengarah ke depresi dan mengganggu aktivitas sehari-hari, maka segera konsultasikan ke tenaga profesional seperti psikolog dan psikiater

Lalu apa yang bisa kita lakukan agar tetap sehat mental? Beberapa cara yang bisa kamu lakukan di rumah, yaitu :

Self-Healing

  1.  Melakukan Mindfullness
    Suatu kondisi dimana pikiran, perasaan, dan tubuh kita berada pada saat ini, tidak menggembara ke masa lalu maupun masa depan, serta non-judgemental (Kabat-Zinn,1990).
  2. Melakukan Guided Imagery
    Dengan cara pejamkan mata, lalu bayangkan sesuatu yang menyenangkan, dengan berbagai modalitas seperti visual, auditori, dan kinestetik untuk membantu meningkatkan imajinasi.
    Meskipun kenyamanan ini bersifat jangka pendek, namun Guided Imagery bisa menjadi pertolongan psikologis dalam menanggulangi kecemasan berlebih.
  3. Melakukan Self-talk
    Berbicaralah pada diri sendiri dengan kalimat positif. Perlu diketahui bahwa emosi cenderung dipengaruhi oleh pikiran kita, yang mana pikiran kita sangat tergantung dari bagaimana kita menafsirkan suatu peristiwa. Untuk itu kita perbaiki kembali pikiran kita, menjadi pikiran yang positif akan meningkatkan kualitas emosi dan perasaan.
  4. Melakukan Expressive Writing
    Refleksikan pikiran dan perasaan yangBijak dalam Menyaring Informasi atau Berita Seputar COVID-19 anda alami selama pandemi ke dalam bentuk tulisan. Menulis bisa saja menjadi hobi baru saat pandemi.

Pendekatan Spiritualisme

Pahami bahwa ada hal-hal yang dapat kita kendalikan, dan ada hal-hal yang tidak dapat kita kendalikan. Pahami bahwa ada Dzat yang Maha Kuasa, yang Maha Mengendalikan segala sesuatu. Dengan memahami hal ini, hati kita akan menjadi tenang. Pendekatan spiritual bisa diterapkan dengan menulis jurnal kebersyukuran, baik nikmat sehat sampai hari ini, atau nikmat kebersamaan dengan keluarga. sebab tidak semua orang mendapatkan kenikmatan tersebut di masa pandemi. Ketika kita bersyukur, membuat menjadi pribadi yang sabar dan selalu berusaha menjaga diri dan orang lain untuk terhindar dari COVID-19.

 Bijak  dalam Menyaring Informasi atau Berita Seputar COVID-19

Informasi dapat diakses dengan mudah dan cepat, jika kita tidak menyaring informasi membuat kita menjadi panik, takut, dan cemas mempertanyakan kebeneran berita tersebut. Pada masa pandemi banyak informasi yang bermunculan, untuk itu kita harus mencari informasi yang dapat dipercaya, misalnya WHO. Kita juga harus bijak dalam menerima informasi dn menyebarkan informasi agar tidak menimbulkan kecemasan.

 Menerapkan Hidup Sehat dan Bersih

Penerapan protokol kesehatan harus kita lakukan baik di rumah maupun di luar untuk semua kalangan masyarakat dengan selalu mencuci tangan sebelum menyentuh area mata, wajah, dan hidung atau ketika akan makan. Gunakan masker dan sediakan handsanitizer bila terpaksa keluar rumah, serta bersihkan benda-benda yang sering disentuh dengan menggunakan desinfektan. Pastikan pola makan teratur dan asupan gizi tercukupi serta istirahat teratur.

Olahraga Teratur

         Olahraga memiliki dampak positif bagi kesehatan fisik dan mental, antara lain :

  • mampu meningkatkan level energi dan kapasitas oksigen
  • Meningkatkan self-esteem
  • Meningkatnya hormon endorfin (hormon yang berperan dalam kestabilan suasana hati atau mood serta mencegah stres) yang dihasilkan tubuh
  • Mampu menurunkan jumlah hormon kortisol yang menjadi pemicu stress dalam tubuh

Mari, kita usahakan selalu berolahraga setiap hari sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Bisa dilakukan sekitar 20 menit setiap harinya.

Itulah beberapa kegiatan yang bisa kita lakukan, agar di masa pandemi ini kita tetap sehat mental dan fisik. Penting bagi kita semua untuk berpikir positif bahwa semua elemen (pemerintah, WHO, peneliti, masyarakat yang peduli) sedang melakukan upaya yang terbaik untuk menangani pandemi COVID-19.  Berpikir positif dapat menjadi cara yang efektif untuk menanggulangi rasa cemas berlebihan. Berpikir positif juga harus diimbangi dengan sikap realistis bahwa pandemi COVID-19 ini memang berbahaya dan berpotensi mematikan.

Situasi pandemi munculnya banyak stigma terhadap tenaga medis dan pasien yang menderita COVID-19. Munculnya stigma justru akan menyakiti seluruh manusia dengan menciptakan ketakutan berlebihan. Stigma juga dapat mempengaruhi kesehatan mental kelompok yang distigmatisasi sekaligus masyarakat tempat kelompok tersebut tinggal. Jangan sampai kepanikan kita justru menimbulkan permasalahan kesehatan mental bagi orang lain. Saatnya masyarakat dan dan tenaga medis saling peduli dengan meningkatkan empati. Oleh  karena itu, reaksi yang tanggap terhadap kesehatan mental selama pandemi COVID-19 hanya akan berakhir bila ada kesadaran dari bersama untuk patuh terhadap prosedur selama masa pandemi dan saling jaga serta mendukung satu sama lain.

Referensi :
WHO (2019) Mental Health During Covid-19 Pandemic. Diakses pada tanggal 20 Desember 2020

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun