Mohon tunggu...
Fahrizal Muhammad
Fahrizal Muhammad Mohon Tunggu... Faculty Member Universitas Prasetiya Mulya

Energi Satu Titik

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Tersesat di Jalan yang Benar

26 Maret 2020   12:22 Diperbarui: 26 Maret 2020   12:30 144 6 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Tersesat di Jalan yang Benar
dokumen pribadi fahrizal muhammad

Rasa penasaran akan memberikan energi lebih untuk itu. Rasa itulah yang pada gilirannya menjadi pembeda. Meskipun begitu, penasaran tidak boleh membunuh kesabaran. Biarlah proses itu menjadi salah satu kenikmatan kita menjalaninya.  Jangan terburu-buru dan jangan asal-asalan.

Kelima, visualisasi pada akhirnya mensyaratkan realisasi. Rencana tetap ada di benak dan di atas kertas dan itu belum nyata. Orang yang berencana menjadi dokter tidak akan jadi dokter tanpa aksi, tanpa melakukan segala rencana yang telah ditulisnya. Yang berhenti pada tataran ingin, ia meremehkan dirinya sendiri. 

Yang puas hanya pada tataran rencana, justru ia telah menipu nuraninya dan berkhianat pada kemampuannya berbuat. Nah, realisasi inilah yang mesti ada di wilayah real berupa kerja dan aksi. Setidaknya, di tataran inilah kemalasan kita ditantang.

Tiba Masa Tiba Akal

Seluruh penumpang Lion Air telah duduk di kursinya masing-masing. Pesawat pun didorong towing car menuju run away. Persiapan take off dimulai. Seorang pramugari menyapa para penumpang, "Bapak, Ibu, pelanggan kami yang terhormat. Selamat datang di Boeing 737 seri 900-ER, Lion Air. Kita akan terbang ke Polonia, Medan. Waktu tempuh Jakarta-Medan selama 2 jam. Tidak ada perbedaan waktu antara Jakarta dan Medan. Kita akan terbang 37.000 kaki di atas permukaan laut. Selamat menikmati penerbangan Anda!"

Alhamdulillah...ada waktu dua jam. Kita bisa melanjutkan mimpi yang terputus karena mesti berangkat setelah tahajud untuk kemudian menembus lalu lintas Jakarta di pagi-pagi buta; kita bisa sarapan nasi ulam yang kita beli di depan gerbang masuk kompleks perumahan; kita bisa melanjutkan baca Bayang-Bayang Pohon Delima-nya Tariq Ali  yang tertunda-tunda seminggu ini karena kesibukan; kita bisa baca Lion Mag edisi bulan ini yang terselip di belakang kursi di depan kita; 

Kita pun bisa menikmati pemandangan Jakarta yang bergegas dalam deru asap kendaraan dan kesibukan hari kerja dari ketinggian sambil mensyukuri atas nikmat Allah terbebas sejenak dari rutinitas seperti itu. Pendek kata, waktu dua jam yang diwartakan pramugari tadi dapat dipergunakan untuk berbagai aktivitas sesuai kebutuhan kita masing-masing.

Pesawat pun take-off. Kita pun duduk manis, tenang, dan nyaman. Bismillah...

Namun, suasana itu akan sangat kontras bila pada kesempatan yang sama, pramugari mengatakan demikian,"Bapak, Ibu, pelanggan kami yang terhormat. Selamat datang di Boeing 737 seri 900-ER, Lion Air. Kita akan terbang ke Polonia Medan. Waktu tempuh Jakarta-Medan selama 2 jam. Tidak ada perbedaan waktu antara Jakarta dan Medan. Kita akan terbang 37.000 kaki di atas permukaan laut. Mudah-mudahan bahan bakarnya cukup!"

Ups! Saya yakin, meskipun tiket yang kita beli itu lebih mahal dua kali lipat daripada harga normal, kita akan berebutan menuju pintu keluar. Saya juga yakin, ada yang akan nekad membuka pintu darurat dan melompat ke luar. Ini masalah hidup, coy! Masa' iya ingin kita korbankan hidup yang cuma sekali dan sangat berharga ini hanya untuk sebuah penerbangan nekad tanpa persiapan dan rencana. Gak la yaw!

Sahabat, tanpa kita sadari, jangan-jangan selama ini kita hidup seperti halnya ujaran pramugari yang kedua di atas. Yang penting jalan. Yang penting hidup. Padahal, hidup begitu sangat berharga untuk disia-siakan. Kita harus punya rencana dan visualisasi masa depan. Ketika hidup asal hidup, maka buah dari kehidupan seperti itu pasti asal-asalan. Malu, dong, kalau khalifah Allah hidup dengan cara dan hasil yang asal-asalan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x