Mohon tunggu...
Fahed
Fahed Mohon Tunggu... Saya berasal dari cirebon

Luruskan niat, perbanyak shalawat

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

"INTI" Pengabdian Tiada Henti!

8 Mei 2019   15:15 Diperbarui: 8 Mei 2019   16:08 0 0 0 Mohon Tunggu...
"INTI" Pengabdian Tiada Henti!
Pemaparan program GERIK di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam acara Karya Gemilang 2019 | dokpri

Assalamu'alaikum guys, gimana kabarnya nih? Semoga selalu baik-baik disana ya hehe. Alhamdulillah kabar saya baik gaes. Sambil mendengarkan lagu koplo, paling mantab kita berbagi dulu nih. Alhamdulillah lomba karya gemilang di kementerian lingkungan hidup dan kehutanan berjalan lancar gaes. Banyak kisah yang dapat dipetik dari pertemuan 4 pembicara dari berbagai kalangan praktisi peduli lingkungan seperti bagaimana hukum dari pengelolaan sampah hingga prakteknya di lapangan.

Lingkungan memang harus dijaga bersama, karena Ibu Sri Babarsari selaku praktisi lingkungan berkata masih banyak yang harus diperbaiki dari aspek hukumnya. Karena selama ini baru Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan Kementerian PUPR yang sangat giat mengelola sampahnya. Ketika berbicara dengan kementerian lainnya masih sulit untuk mendapatkan dukungan. Padahal jika kita menginginkan lingkungan bersih harus adanya pakta integritas yang disepakati oleh semua Menteri seperti halnya di Jepang. Ketika sudah adanya pakta integritas pun Jepang masih membutuhkan waktu kurang lebih 20 tahun dalam menerapkan sistem pengelolaan sampahnya.

 Acara tersebut juga dihadiri oleh ibu Lanny selaku penanggung jawab bagian marketing dari produk enviplast. Produk Enviplast merupakan produk plastik ramah lingkungan yang terbuat dari bahan organik yakni dari limbah telo. Menariknya plastik ini akan dapat hancur ketika dicampur dengan air panas. Tantangan dari plastik ini adalah harganya sedikit lebih mahal. Walaupun demikian produk enviplast ini sudah terbukti mengurangi pencemaran lingkungan, hal ini ditandai dengan suksesnya wilayah Bali yang sudah menolak sampah plastik dan menggantinya dengan produk enviplast. Hasilnya Bali menjadi lebih bersih dan asri.

Dalam perbincangan karya gemilang, alhamdulillah saya diberi kesempatan untuk berbagi dari bagaimana sih praktek dilapangan dalam mensosialisasikan pengurangan sampah plastik. Dalam hal tersebut saya mengambil topik GERIK atau Gelas Piring Unik, dimana GERIK ini sudah sukses mengurangi sampah plastik dan sterofoam sebanyak 13 ember setiap hari. Saya bergerak bersama tim berlin untuk mengajak elemen Yayasan membawa gelas dan piring sendiri di Sekolah. Dalam penerapan konsep GERIK ini kami memakai sistem 5M yakni, Membawa Gerik, Membeli Makanan dengan GERIK, Meraih Bintang Semangat, Mengumpulkan Bintang Semangat dan Menukarkan Bintang Semangat. Alhamdulillah setelah acara selesai saya diajak untuk bekerjasama dengan Ibu Ayu selaku perwakilan dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan Ibu Astuti dari Ketua PKK Provinsi Jakarta untuk menerapkan sistem GERIK di Indonesia.

Semua pengalaman ini tidak saya dapatkan dengan mudah. Pada saat itu saya pernah mendapatkan perbincangan "kok kuliah jauh-jauh ujung-ujungnya ngurusinnya sampah". Pada saat itu saya langsung teringat ucapan Pak Fajar yakni "Percuma kuliah jauh-jauh kalau kampung halamanmu sendiri tidak kamu kembangkan potensinya". Disinilah saya mulai belajar untuk bersikap Satu Cacian Satu Goyangan. Saya harus dapat menganggap cacian atau hinaan dari masyarakat menjadi goyangan atau lagu menarik untuk mengajak masyarakat mengelola sampah. Saya ingin menunjukkan bahwa pemuda desa dapat berkarya untuk desanya. Karena Kemajuan Indonesia dapat dilihat dari kemajuan desanya. Dengan demikian semakin banyak cacian yang saya dapat maka semakin banyak karya yang saya hasilkan. Seperti halnya contoh Goyang Anti Platik berikut ini.


Saya menyadari diri ini yang masih banyak kekurangan dalam tindak tanduk di masyarakat. Saya sangat senang ketika GERIK ini dapat diajukan menjadi bahan thesis atau bahkan S3. Namun satu hal yang saya khawatirkan ialah semakin banyaknya robot pendidikan, dimana mematikan kreativitas tanpa melihat realitas. Mengambil penelitian tanpa mengerti makna pengabdian. Mengenal title tanpa harus terjun dan battle di lapangan. Selalu mengambil gambar seperti halnya kaum barbar. Memanusiakan manusia namun lupa akan menyatukan hati manusia. Semoga semua yang dikhawatirkan tidak benar adanya dan selalu berjalan untuk melihat realitas, mengerti makna pengabdian, adanya sikap pejuang di lapangan dan tidak menjadi kaum barbar amiin.

INTI merupakan singkatan dari Inovasi dari Hati. Jika memulai semua pengabdian itu dari hati maka kita akan terus mencoba mempertahankannya sampai mati. Karena pendidikan setinggi langit bukanlah tujuan dari diciptakannya seorang manusia. Ketika kita memandang langit dan laut maka akan ada pelajaran yang dapat dipetik. Pelajaran ini saya dapatkan dari seseorang pejuang yang sedang merantau di Jakarta. Terkadang kita hanya melihat langitnya saja tanpa mengerti makna didalam langit tersebut. Langit memiliki bintang dan bulan, keduanya memberi pelajaran untuk bersedekah, walaupun bintang dan bulan tidak memiliki sinar sendiri, namun bulan dan bintang selalu mencoba untuk menyinari bumi di malam hari dan membagikan keindahan tersebut kepada manusia. Maka jadilah seperti bulan dan bintang yang selalu menyinari atau bersedakah ke siapapun. Karena tidak ada orang yang merugi  dengan bersedekah.

Setelah kita memahami makna langit, mari kita pahami makna laut. Laut selalu menerima apapun yang mengalir ke laut. Namun laut selalu akan menjadi suci airnya. Karena laut sendiri dapat mensucikan diri. Pelajaran yang dapat dipetik ialah jadilah manusia yang selalu dapat mensucikan diri dan bersyukur dengan keadaan yang dihadapi. Caranya ialah dengan perbaiki sholat kita gaes. Ketika sholat kita baik insyaallah perilaku kita juga akan baik. Yuk mari terus berinovasi dari hati dan terus mengharapkan ridha illahi. Semoga bermanfaat dan berkah amiin.