Mohon tunggu...
EVRIDUS MANGUNG
EVRIDUS MANGUNG Mohon Tunggu... Guru - Pencari Makna

Berjalan terus karena masih diijinkan untuk hidup. Sambil mengambil makna dari setiap cerita. Bisikkan padaku bila ada kata yang salah dalam perjalanan ini. Tetapi adakah kata yang salah? Ataukah pikiran kita yang membuat kata jadi serba salah?

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Kita Berbeda dalam Menanggapi

18 November 2022   17:46 Diperbarui: 18 November 2022   18:10 163
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Kuberjalan sepanjang lorong alam. Memasang mata dan menjaga telinga. Ada banyak tanggapan pada satu kejadian.

Seorang bocah kecil berlari di tengah hujan. Badan setengah telanjang. Melompat tinggi sambil berteriak. Senyumnya lebar selebar wajahnya. Berlari dengan kencang mengikuti alunan irama hujan seperti lagu reggae.

Beberapa orang petani di hamparan sawah membentang menggerutu dengan wajah merengut. "Ah, hujan ini menjengkelkan, tak pernah berhenti", kata mereka.

Lalu aku duduk termenung di bawah pondok ini. "Seandainya musim diatur manusia, apakah pengaturnya tidak pusing mendengar berbagai keluhan tentang hujan yang sama. Yang satu gembira, yang lain sedih. Yang lain melompat kegirangan dan yang lain muka merengut".

Aku mensyukuri apapun pemberiaanmu sang pencipta langit dan bumi. Apapun yang kau berikan adalah rahmat.  Dengan hati yang ikhlas dan hati penuh syukur menerima semua pemberianMu.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun