Mohon tunggu...
Evi Ghozaly
Evi Ghozaly Mohon Tunggu... | Penulis | Praktisi pendidikan | Konsultan pendidikan |

Tebarkan cinta pada sesama, melalui pendidikan atau dengan jalan apapun yang kita bisa.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Meramu Kurikulum

3 Juli 2019   09:13 Diperbarui: 3 Juli 2019   09:38 56 3 3 Mohon Tunggu...

Dulu, saya termasuk yang sering nyinyirin pemerintah untuk urusan pendidikan. Baru jadi guru di SD dan SMP sak nyu'an aja sudah merasa paling tahu masalah pendidikan negri ini. Mungkin karena saya alumnus PGAN ya, salah satu sekolah pabriknya guru yang sejak kelas satu sudah belajar teori kependidikan, lalu praktik ngajar dan ngajar beneran kanan kiri. Jadi tahu sedikit lubang dan miringnya sistem persekolahan, lalu merasa sok gitulah. Duh Gusti, nyuwun ngapura saya yang dulu
Sering mrepet macem-macem. "Apa sih Indonesia ini? Nggak banget deh kurikulum pendidikannya. Masak gebyah uyah. Potensi anak kan bermacam-macam. Masak iya, anak cerdas kinestetik, bukannya dibimbing agar bagus potensi geraknya. Eh malah dipaksa belajar matematika sampai ndakik. Ya jelas nggak mashook. 

Bagaimana mungkin ikan patin dipaksa terbang? Alih-alih dia bisa melesat miber, justru akan stres dan kehilangan kemampuannya berenang. Harusnya kan begini...begitu". Keren kan omelan saya.

Hm, yah. Ada banyak seharusnya di negri ini. Sangat banyak. Ratusan, ribuan, berlapis. Dan itu, tak akan pernah berkurang hitungannya jika kita tak berbuat apa-apa. Sering saya katakan pada pimpinan sekolah yang ikut materi saya, "Jangan berharap banyak pada negara. Pasti kecewa nanti. Kurikulum misalnya, nyaris tiap ganti mentri ganti kurikulum. Tujuannya bagus. 

Dari atas ideal banget. Tapi sampai bawah mlempem dan jauh dari harapan. Mbenerinnya dari mana? Wong ruwet poll. Jadi ya sudahlah, ayo kita lakukan saja yang terbaik. Kurangi nyinyir yuk. Kecuali punya kritik yang bisa sekalian memberi alternatif solusi. Ngeluh dikit bolehlah. Tapi jangan sering-sering menghujat pemerintah, kan kita tidak tahu masalah sebenarnya apa. Lagipula, mencela beliau-beliau yang nggak kenal itu susah minta maafnya"

::

Lalu mulailah saya belajar kurikulum. Dari analisa silabus, hingga membuat Satuan Pelajaran yang kemudian berubah istilahnya menjadi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. Menyesuaikan target kompetensi dengan kalender akademik, sampai bagaimana membuat rapor.

Tahun 2006 menjadi tahun pembelajaran yang keren buat saya. Mulai mengenal ANPS, sebuah asosiasi sekolah nasional plus. Saya belajar banyak pada pengurus atau anggota seniornya. Bahwa kalau kita mau perubahan, ya ayo kita mulai. Kalau kurikulum nasional kita kurang oke, ya ayo kita okein. Tetap menggunakan kurikulum yang sudah ditentukan pusat, tapi kita inovasi. Kalau perlu, kita tambah sesuai kebutuhan.

Standar sekolah nasional plus memang berbeda dengan sekolah nasional. Jumlah siswa dibatasi sekelas maksimal 24 anak agar interaksi dan pembinaan bisa maksimal. Pelajaran disampaikan dalam bahasa Inggris. Buku panduan sangat menarik.   Konsep pembelajaran menekankan siswa aktif, lebih banyak praktik dan demonstrasi.

Belajar berat benda misalnya, anak membawa kapstok, guru harus bisa menjelaskan konsep kesetimbangan kesejajaran dengan cara menarik. Belajar tentang sampah, target anak tahu bagaimana memilah sampah, memanfaatkan sampah sampai menabung sampah dan menjadikannya sebagai sumber penghasilan. Maka, mengajak anak langsung ke penampungan sampah juga perlu dijadwalkan.

Observasi dan eksplorasi di sekolah nasional plus ditekankan sejak Taman Kanak-kanak. Tentu saja dengan tetap memperhatikan ilmu psychologi perkembangan. Sebelum belajar huruf dan angka, anak dikenalkan dulu dengan bentuk, garis dan gelombang. Untuk menulis huruf B, anak harus diajarkan garis dari atas kebawah ples dua kali setengah lingkaran.

Ribet ya? Enggak kok.
Memang guru akan sedikit repot diawal, tapi selanjutnya menyenangkan sangat.

Di ANPS juga ada pembinaan berkala. Pertemuan dan pelatihan dilaksanakan sekian kali dalam setahun. Ada group diskusi. Isue terbaru pendidikan dunia dibahas segera. Sejak didirikan tahun 2000 dengan hanya 5 sekolah terakreditasi versi ANPS, tahun berikutnya terus bertambah anggota. Sungguh saya merasakan betul manfaat asosiasi ini, meski hanya sebentar dan sudah lama off.

::

Tahun 2009 saya bertemu Kang Munif Chatib. Penggagas konsep Sekolahnya Manusia ini sangat rendah hati. Saya riwa-riwi mengikuti pelatihan khusus kepala sekolah dan pengelola pendidikan se-Indonesia hingga level 8. Beliau juga punya Guardian Angel, semacam sekolah yang melahirkan konsultan pendidikan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN