Mohon tunggu...
Amri MujiHastuti
Amri MujiHastuti Mohon Tunggu... Praktisi Pendidikan Sekolah Dasar

Pengajar, Ibu, pemerhati pendidikan anak

Selanjutnya

Tutup

Novel Pilihan

"Gendis Sugar", Janji yang Tak Ditepati

9 Maret 2019   07:44 Diperbarui: 9 Maret 2019   07:52 0 3 1 Mohon Tunggu...

Bab 3

Sugara tahu Gendis gadis yang cerdas. Dia semakin menyadarinya ketika  Pramana  berkata bahwa Gendis mengirimi Sugara sebuah surat yang dikirim ke alamat Pramana. 

Saat orang tuanya mengajak Sugara berkunjung ke sana, Sugara mendapatkan surat itu dan dengan hati yang berdegup cepat -- cepat membaca surat itu.

 Terima kasih, Gendis karena tak membiarkan kami kehilanganmu begitu saja, batinnya.


Untuk Sugarku yang paling baik,
Apa kau masih ingat padaku? Kau bilang kau memberikan kudamu padaku dan sejak saat itu kita mempunyai hubungan istimewa. Setiapkali aku bersedih aku akan menghadirkan dalam pikiranku tentang kenanganmu dan itu membuatku merasa lebih baik.Aku hancur saat orang tuaku dan mbak Sekar meninggalkanku dan kali ini untuk selamanya. Aku mengirimkan surat ini untuk yang terakhir kalinya karena aku ingin mengucapkan selamat tinggal padamu. Kau adalah sahabatku selamanya. Maafkan aku karena aku takkan pernah lagi kembali ke rumah di kaki gunung itu.Sampaikan salamku pada orang tuamu, mereka orang yang sangat baik padaku dan keluargaku.
Sahabatmu Gendis.


Sugara melipat surat dari gadis kecil itu. Sejak saat itu dia bertekad akan menemukan Gendis dan menjaganya selamanya karena Gendis sudah tak punya orang tua lagi dan Gendis percaya padanya.


Gendis juga menulis dengan lengkap alamatnya di Solo. Malam itu juga di rumah di kaki gunung yang banyak menyimpan kenangan masa kecil mereka, Sugara membalas surat Gendis.


Gendisku yang termanis,
Aku sangat senang menerima kabar darimu. Aku sangat takut bahwa aku takkan pernah bertemu lagi denganmu. Sekarang karena kau sudah mengirimkan surat padaku, aku yakin kita pasti akan segera bertemu lagi. Ngomong -- ngomong, apakah kau betah tinggal di tempat barumu? Kabari aku tentang keadaanmu dan tentaang mas Bayu juga.Aku harus meminta maaf padamu karena aku tak bisa ada di samping sahabatku saat kedua orang tuamu dan mbak Sekar tiada. Kamu harus ikhlaskan mereka, aku tahu kamu gadis yang kuat dan sholeha.
Salam rindu persahabatan, Sugarmu.


Sejak saat itu mereka selalu saling membalas surat selama bertahun -- tahun hingga masa dewasa mereka. Lucunya, mereka tak pernah bertemu. Hanya melalui surat mereka masih merasa saling memiliki sebagai sahabat dan itu cukup.


Sugara bercerita pada Gendis tentang rahasia hidupnya tentang identitas orang tua kandungnya. Mereka selalu saling bercerita lewat pena tentang hari -- hari yang mereka alami masing -- masing. 

Hingga suatu hari Gendis bercerita bahwa Bayu marah saat mengetahui Gendis berhubungan dengan Sugara melalui surat -- surat yang saling mereka kirim lewat kantor pos.


Sugar, aku tak pernah melihat mas Bayu semarah saat itu. Dia merobek semua surat -- suratmu yang kau kirimkan padaku. Dia memintaku tak mengirimimu surat lagi. Dia memintaku tak berhubungan lagi denganmu. Apa kau tahu bahwa sebenarnya orang tuaku tak menjual rumah di kaki gunung itu pada orang tuamu? Mereka hanya meminjam uang dari om Riko, ayah kandungmu melalui om Pramana. Mas Bayu bilang selama mama dan papaku di luar negeri mereka selalu rutin mengangsur pinjaman mereka dan mentransfernya langsung ke rekening papamu, Papa Riko.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
KONTEN MENARIK LAINNYA
x