Mohon tunggu...
Erna Suminar
Erna Suminar Mohon Tunggu... Dosen - Pembelajar, sederhana dan bahagia

# Penulis Novel Gerimis di El Tari ; Obrolan di Kedai Plato ; Kekasih yang tak Diinginkan ; Bukan Cinta yang Buta Engkaulah yang Buta. Mahasiswa Program Doktor Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Ramadan di NTT dan Penghormatan pada Keragaman

30 Mei 2017   10:22 Diperbarui: 30 Mei 2017   13:20 1373
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Dok. Pribadi : Rumah di tepi samudera di Timor Tengah Selatan

Biasanya, mengawali Ramadhan dalam tahun-tahun belakangan ini, saya berada di Nusa Tenggara Timur. Tepatnya, di Kota Kupang.  Sayangnya,  pada  awal Ramadhan sekarang, sebelum menikmati ibadah puasa di sana, saya harus bersegera ke Yogyakarta. Sebenarnya, ‘harus bersegera’ itu adalah sebuah keputusan  pribadi  yang dipilih, jika pun mau, saya masih dapat memilih Ramadhan di Kupang. Ini hanya soal pilihan keputusan belaka. Dari Yogyakarta, saya mencoba mengingat-ingat, mengapa bagi saya yang orang Sunda ini, Ramadhan dan kehidupan lainnya di Nusa Tenggara Timur itu begitu berkesan?

Dok. Pribadi : Berkumpul di lopo
Dok. Pribadi : Berkumpul di lopo
Agama Minoritas

Di Nusa Tenggara Timur, Islam hanyalah agama minoritas. Ramadhan di NTT sangat berbeda tentunya dengan Ramadhan di Pulau Jawa atau Sumatera, di mana orang Islam menjadi mayoritas.  Orang-orang Islam di NTT, hampir tak pernah panik di awal Ramadhan dengan lompatan harga-harga daging yang selangit, dan terutama menjelang hari raya Iedul Fitri. Tak perlu pening kepala berdesak-desakan di pasar untuk menemukan bahan kolak pisang, dan makanan lainnya.  Ramadhan di NTT begitu bersahaja dan tak banyak tuntutan. Suara  azan maghrib, tanda berbuka puasa pun belum tentu terdengar. Mengerti saja sendiri, kapan tiba saatnya berbuka puasa.

Kehidupan bergulir seperti biasa. Jika ada pawai menjelang Ramadhan, dengan jumlah peserta yang lumayan, itu sebagian yang ikut adalah orang-orang Kristen dan Katolik yang ikut mengawal  dan membantu perhelatan pawai. Tak dipungkiri, selama ini jika ada perhelatan lainnya seperti Musabaqah Tilawatil Qur’an, orang-orang Kristen dan Katolik pun turut membantu – bahkan turut menjadi panitia. Tak ada jarak sosial yang demikian kentara.

Saat Ramadhan, seluruh kedai-kedai makanan milik orang Islam hampir semuanya buka, baik pagi, siang atau pun malam, untuk menyediakan makanan bagi orang-orang yang tidak berpuasa. Tak ada tuntutan dari orang-orang Islam  agar orang-orang non muslim untuk menghormati mereka yang sedang berpuasa. Iman yang dewasa, tak akan meminta perlakuan spesial. Sadar, bahwa berpuasa adalah untuk mensucikan jiwa dan raga. Mensucikan laku bathin dan perbuatan. Dan inilah latihan yang sesungguhnya, untuk membiasakan meluruskan hati, mensucikan pikiran.  Puasa hanya untuk Allah semata, bukan untuk dihormati dan diistimewakan orang-orang.

Dok. Pribadi : Rumah di tepi samudera di Timor Tengah Selatan
Dok. Pribadi : Rumah di tepi samudera di Timor Tengah Selatan
Mengapa Saya Mencintai  Kehidupan di NTT?

Saya tidak ingin menyebutkan, bahwa di  Indonesia ini, hanya NTT sebagai contoh bagaimana setiap keyakinan dapat hidup berdampingan. Jika pun terjadi beberapa gesekan  di sini cepat diredam. Di banyak wilayah lain di Indonesia, tradisi toleransi dan penghormatan pada keragaman tetap terpelihara, tanpa terpengaruh oleh panasnya berita di media, dan saling mencaci di media sosial.  Harus disadari, pada pendahulu bangsa sudah lebih mengerti tentang merajut perbedaan ini. Bahwa, tak mungkin negara ini, yang panjangnya sejauh antara Afghanistan hingga Perancis, dengan belasan ribu pulau, budaya yang beragam dan bahasa ibu yang jumlahnya ratusan (belum lagi dengan dialek dari masing-masing bahasa ibu yang sangat banyak) semuanya bersatu di bawah  Garuda Pancasila dan bendera Merah Putih, tanpa adanya penghormatan pada keragaman. Indonesia yang sangat ajaib dan kaya raya. Inilah jati diri dan wajah  Indonesia asli yang sesungguhnya, penuh penghargaan pada kebhinekaan.

 Indonesia,  idealnya, menjadi wilayah indah  sesama anak bangsa  menemukan ruang saling mencinta, memperjuangkan masa depan negeri yang aman, adil dan makmur sejahtera. Lalu, bagaimana penghayatan agama-agama dapat menopang kasih sayang sesama anak manusia  - mengukuhkan belas kasih dan penghormatan.  Perbedaan adalah sebuah kenyataan.  Agama idealnya adalah tempat pencerahan bagi setiap umatnya untuk melihat, bahwa perbedaan itu sesungguhnya adalah rahmat.  Jika umat beragama masuk ke dalam ruang-ruang konflik yang penuh kekerasan, jangan-jangan kita sendiri terlalu lemah dan tidak memiliki kapasitas menafsirkan ajaran agama?  Bukannya, semua ajaran  mengajarkan yang baik-baik, tinggi, suci, agung dan mulia itu dimiliki ajaran setiap agama?

  Ah, ya…nampaknya, topik saya sudah mulai keluar dari rel-nya.

  Kembali lagi bagaimana dengan pengalaman pribadi saya hidup di NTT.  Banyak kejadian-kejadian yang mengharukan diri saya, bagaimana saya diperlakukan oleh orang-orang  di sana  Berkali-kali diundang makan dalam pesta oleh orang-orang non muslim di NTT, mereka selalu memastikan bahwa makanan yang dimakan oleh saya halal. Karenanya, dalam pesta (jika ada orang Islam yang diundang)  hampir selalu ada menu untuk orang muslim, dan disajikan di tempat yang terpisah.  Beberapa keluarga, bahkan memiliki barang-barang untuk memasak khusus untuk orang Islam, karena khawatir tempat memasaknya tercampur dengan alat masak yang biasa dipakai memasak babi. Dan saat Iedul Fitri, orang-orang Katolik dan Kristen juga yang memenuhi ruangan rumah  di Kupang, sebagai tamu-tamu kami yang paling hangat.

Dan bukan sebuah keanehan yang luar biasa pula, mesjid dan gereja di NTT banyak yang bersisian. Keluar dari gereja dan mesjid  di antara mereka saling tersenyum dan berbincang.  Anak-anak berlainan agama bermain dengan gembira. Juga, sudah tradisi di NTT, saat membangun mesjid, orang-orang Kristen atau Katolik membantu pembangunannya, dan juga sebaliknya saat orang-orang Kristen dan Katolik membangun gereja orang Islam turut membantu.  Kehidupan begitu tenang, asyik dengan iman dan praktik ibadahnya sendiri-sendiri.  Setidaknya, hanya sejauh itu yang saya ketahui dan ini soal pengalaman pribadi. Selain itu, saya tidak mengerti.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun