Mohon tunggu...
suryanto soenarjo
suryanto soenarjo Mohon Tunggu... -

Intensive reader

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Nanik Ingin Jadi Presiden

29 Maret 2019   07:26 Diperbarui: 29 Maret 2019   07:50 99
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

"Nik, habis buang air jangan lupa siram yang bersih!" ibu meneriaki Nanik dari dapur yang merebakkan harum tempe goreng.

"Sudah habis dua ember, Bu! Nggak bisa bersih juga!" balas Nanik dari kamarnya sambil menyiapkan uang recehan untuk kembalian. "Emang udah waktunya disedot," gerutunya dalam hati.

Nanik pergi ke dapur yang seluruh dindingnya sudah menghitam dan dipenuhi jamur di mana-mana. Dia mengambil tampah untuk tempat gorengan yang sudah disiapkan ibu sedari subuh.

"Bakwannya banyak sekali hari ini, Bu? Kemarin nggak habis. Tempe lebih laku," protes Nanik sambil menaruh tahu di sebelah lempengan-lempengan tempe yang masih berasap.

"Itu sama yang sisa kemarin sudah ibu goreng lagi. Hari ini kamu coba di depan gedung KPU, Nik. Katanya akan ada banyak orang demo di sana pagi ini. Si Asep, dari pagi sudah bawa satu gerobak minuman dingin ke sana tuh. Cepat sana jemput rizki. Semoga hari ini laku semua," doa ibu selalu sama setiap hari.

Sudah setahun Nanik berhenti sekolah. Lebih baik membantu ibu katanya. Lagipula pelajaran SMP terlalu susah baginya. Di sekolah dia lebih sering menyendiri karena untuk bergaul dengan teman-temannya biayanya tidak murah. Setiap hari paling tidak dia harus keluar uang untuk makan di kantin. Sekali seminggu harus jalan bareng mereka ke mall. 

Di sekolah teman-temannya memanggilnya Nenek Nanik karena rambutnya sudah banyak putihnya walau baru umur 13 tahun. Waktu di SD dia paling sering diejek karena kalau ditanya cita-citanya selalu mau jadi presiden jawabnya. Huuu, neneknya presiden! Dia masih ingat seisi kelasnya bersorak.

Tapi pagi ini, Nanik berjalan dengan semangat ke kantor KPU sambil mengempit bakul nasi di ketiak kanannya dan mengusung tampah berisi gorengan di atas kepalanya. Panas matahari pagi yang menggigit tak memperlambat langkahnya. Tetesan keringat di pelipisnya sesekali disekanya dengan ujung lengan bajunya.

Sepanjang jalan dia sudah berpapasan dengan arak-arakan orang yang berjalan ke arah yang sama. Berbagai macam pakaian orang-orang itu. Ada yang memakai jubah putih-putih, ada yang memakai kaos bersimbol ayat-ayat kitab suci, ada juga kelompok yang menutupi wajah mereka dengan kaos. Ada yang berjalan kaki, ada yang naik truk, ada yang berboncengan sepeda motor, ada juga yang naik bus metro mini. 

Kebanyakan membawa spanduk-spanduk ulang yang isinya menuntut pemilu ulang, atau caci maki kepada Ketua KPU yang dianggap tidak netral, ada juga spanduk yang bergambar calon presiden penantang, sementara tidak sedikit yang meneriakan tuduhan kepada presiden petahana yang kemarin dinyatakan menang oleh KPU.

Sepanjang jalan sudah banyak orang yang membeli dagangan Nanik. Nanik sangat senang karena semakin dekat ke kantor KPU, bebannya semakin ringan sementara kantongnya semakin penuh. Tidak percuma dia membawa dagangan dua kali lebih banyak hari itu. Ibu pasti senang sekali. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun