Mohon tunggu...
Ermansyah R. Hindi
Ermansyah R. Hindi Mohon Tunggu... Lainnya - Free Writer, ASN

Bacalah!

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Dari Wujud Spiritual ke Wujud Seksual

4 November 2022   17:55 Diperbarui: 4 November 2022   18:00 160
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi wujud Spiritual yang Terseksualkan (Sumber gambar: amazon.com)

3 November di setiap tahun diperingati sebagai Hari Kerohanian. Kenyataannya, orang-orang lebih memilih kegiatan sehari-hari seakan-akan tidak ada kaitannya dengan pemenuhan spiritual (rohani) mereka. Dunia materi mungkin lebih kuat tarikannya ketimbang spiritual di zaman now.

Jika kita mendengar dan menyaksikan bagaimana seseorang atau kelompok orang di tempat tertentu dengan mengatakan, bahwa seseorang lebih senang pergi menonton orkes, konser musik, pasar malam, dan tempat keramaian lain, ketimbang mengikuti kajian agama, mendengar musik religi, merayakan hari besar agama atau sembahyang di rumah ibadah. 

Anak-anak sekarang lebih kepincut dengan TikTok, gaming hingga demam K-Pop. Buku pelajaran diganti dengan mainan di layar virtual. 

Begitulah gejala dan fenomena umum yang terjadi di sekitar kita. Masih banyak contoh lain yang menggambarkan wujud spiritual direnggut oleh hal-hal yang lebih ‘nikmat’.

Pada ksempatan ini, sedikit menelisik relasi antara hasrat seksual dan cahaya spiritual dalam kehidupan

Apakah relasi antara keduanya sudah muncul sejak manusia lahir atau tidak? 

Apakah keduanya hanyalah permasalahan relasi, yang silih berganti muncul dari salah satunya saat ada celah atau retakan?

Anak-anak atau sebagian dari orang dewasa pusing jika hanya monoton terhadap obyek atau hal-hal yang tidak asyik atau nikmat. Mereka mungkin “haus” akan hiburan. Seseorang nyaris seharian menghadapi permasalahan yang menegangkan, maka dia perlu penyaluran. Di situlah tantangan wujud spiritual.

Hingga abad ke dua puluh satu dan hingga abad kapanpun, permulaan yang menarik bagi politik, ekonomi, teknik, seni, hingga isu agama melalui rangsangan perbincangan tentang seks atau sesuatu yang seksual. 

Biarpun rezim kuasa negara mencoba memerangi hasrat seksual yang menubuh dalam media-melalui situs porno, tetap saja ia leluasa menyatakan wujudnya yang lain yang berpindah dari satu medium ke medium lain. 

Begitu pula ketika manusia sedang mengalami puncak kemakmuran material akan terjatuh dalam kehampaan jati diri dan ketidakhadiran makna dalam kehidupan yang pada akhirnya seseorang juga merindukan nuansa spiritual dalam dirinya, bahkan sekalipun tidak menganut ‘agama formal’. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun