Mohon tunggu...
Reinard L. Meo
Reinard L. Meo Mohon Tunggu...

Pemuda baik-baik.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

"O Uwi" Bukan Itu! (Tanggapan Terbuka Atas Liputan Metro TV)

20 Januari 2019   17:42 Diperbarui: 20 Januari 2019   18:02 607 6 5 Mohon Tunggu...
Lihat foto
"O Uwi" Bukan Itu! (Tanggapan Terbuka Atas Liputan Metro TV)
(Tarian 'O Uwi' yang sesungguhnya. Foto: Anselmus Rema on Twitter)

Beberapa hari lalu, saya menonton liputan yang diturunkan oleh Metro TV, yang sekarang mulai dibagikan di FB (dapat dinonton di sini).

Awalnya, sebagai orang Bajawa, Ngada, saya tentu senang dan tanpa menunggu lama, menontonnya sampai selesai "Perayaan Reba di NTT", tepatnya di Langa, Ngada, Flores itu. Namun, senang itu akhirnya terbalik. Perasaan saya campur aduk selepas menyaksikannya.

Berikut ini sejumlah cacatan penting yang mau saya berikan atas liputan itu. Terlepas dari kesediaan Metro TV menurunkan liputan dimaksud, yang jelas kekayaan budaya di Ngada dipromosi (saya berterima kasih, tentunya), saya bertanggung jawab untuk mengoreksi beberapa hal, yang jelas-jelas keliru dan dapat berujung pada salah kaprah pemahaman orang (baca: di luar kebudayaan di Ngada). 

Saya buat ini karena saya cinta budaya saya!

(1) Penyebutan kata 'Reba' oleh presenter.

Dia menyebut 'Reba' dengan 'e' seperti pada penyebutan kata 'enak'. Saudari/a, ini jelas salah. Bahwa mungkin ada kesulitan penyebutan, kita maklumi, tapi yang betul seharusnya 'e' disebut seperti penyebutan umum kata 'elang' (pengecualian Orang Timor, NTT).

Penyebutan 'O Uwi' dan 'Su'i Uwi' yang seharusnya ada penekanan khusus pada huruf 'O' dan 'U', saya pribadi maklumi, meski sebetulnya tidak disebutkan demikian.

(2) Ketidaksesuaian antara narasi dan tayangan. Ini paling fatal.

(2a) Disebutkan "Berkumpul di halaman permukiman warga.." Bagian ini seharusnya diganti dengan "berkumpul di tengah kampung". Permukiman terlalu umum dan kabur. Kampung, jelas.

(2b) Disebutkan, ".... puluhan orang bersama-sama menarikan tarian adat O Uwi", tapi yang ditampilkan adalah tarian kreasi yang diiringi/untuk menyempurnakan lagu-lagu yang dinyanyikan saat Perayaan Ekaristi atau lazim disebut Misa Reba.

Persis di sinilah, saya mengharapkan kepada semua yang menyaksikan liputan ini, lebih-lebih yang berbeda kebudayaan, untuk tidak membenarkan bahwa itulah tarian 'O Uwi'. Saya tegaskan, sekali lagi dengan tegas, itu bukan tarian 'O Uwi'.

'O Uwi' adalah tarian yang monoton, membentuk lingkaran, tanpa musik - sekali lagi tanpa dipandu alat musik apa pun -, dan beberapa dari penari, khususnya laki-laki, akan menyanyikan sahut-menyahut sejumlah sajak yang akan dijawab atau disambut penari lainnya membentuk harmonisasi yang memungkinkan tarian semakin enak dan seru ditarikan.

Sekali lagi, yang Anda saksikan itu bukan tarian 'O Uwi', itu tarian kreasi yang dipakai/dibuat termasuk dalam perayaan yang bukan Reba. Soal tarian 'O Uwi', akan segera saya tulis lagi, lengkap dengan gambar pendukung untuk memberikan gambaran yang sebenar-benarnya soal 'O Uwi'.

(2c) Narasi liputan terlalu lengkap dan kaya untuk hasil penggabungan potongan video yang terlalu singkat dan miskin. Narasi bicara hampir seluruhnya tentang Reba, yang ditayangkan hanya potongan Misa Reba dan acara singkat sesudahnya. Reba lebih kaya dan kompleks dari itu.

(3) Anjuran.

(3a) Judul liputan diganti. Bukan: 'Perayaan Reba' melainkan 'Perayaan Misa Reba', meski untuk kedua judul ini pun, narasi dan cuplikannya mesti dibuat lebih lengkap.

(3b) Liputan mestinya tidak buru-buru diturunkan, kalau memang yang mau diliput itu Perayaan Reba. Bisa menanti sampai Reba selesai, agar dapat menampilkan tarian 'O Uwi' dan acara inti lainnya yang sesungguhnya.

(3c) Anda yang ingin tahu lebih dalam tentang Reba, dengan menjadikan liputan ini sebagai acuan, dapat melakukan: (a) riset serius, (b) hadir langsung untuk sekadar menyaksikan, (c) bertanya pada narasumber yang kredibel (karena sejujurnya banyak orang Ngada sendiri mulai gagap atas budayanya sendiri), atau (d) membaca lebih banyak sumber lain.

(4) Sedikit catatan

Misa Reba adalah penggabungan yang terpaksa diterima oleh sebab intervensi Gereja lokal. Misa adalah misa, Reba adalah reba. Menggabungkan keduanya, mestinya tidak bisa diterima begitu saja, atau diterima, dengan sejumlah catatan penting. Poin ini bisa kita diskusikan lebih dalam, terlepas dari liputan Metro TV yang jadi fokus tanggapan saya kali ini. *

- Reinard L. Meo

VIDEO PILIHAN