Mohon tunggu...
M. Alhasany
M. Alhasany Mohon Tunggu... Penulis - Pemerhati politik Turki dan Timur Tengah

Pengamat politik Turki dan Timur Tengah. Moto: Langit adalah atapku, bumi adalah pijakanku. hidup adalah sajadah panjang hingga aku mati. Email: ratu_kalingga@yahoo.co.id IG dan Twitter: @muthiahalhasany fanpage: Muthiah Alhasany"s Journal

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Tarik Menarik Kepentingan dalam Pilkada dan Pemilu 2024

12 September 2021   11:44 Diperbarui: 12 September 2021   11:54 264 20 3
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ilustrasi (dok.mediaindonesia.com)

Pemilu 2024 bakal lebih ketat dari pemilu sebelumnya. Mengapa? Karena presiden Jokowi telah habis dua kali masa jabatan. Maka partai-partai politik pun berancang-ancang mengambil alih kekuasaan.

Maka pilkada sebelum pemilu 2024 adalah sangat penting sebagai pondasi kekuatan partai. Ya, antara pilkada dan pemilu sangat erat kaitannya. Partai-partai menancapkan kakinya melalui pilkada.

Jika dalam pilkada partai A lebih banyak menang, maka besar kemungkinan kepala daerah jagoannya memberikan sumbangsih untuk kemenangan dalam pemilu. Setidaknya, dia akan mengarahkan rakyat di wilayahnya untuk memilih partainya dan capres pilihan mereka. Minimal, juga menyumbang dana untuk kemenangan partai.

Tak heran jika partai-partai berjibaku untuk memenangkan pilkada. Segala cara ditempuh agar mereka berhasil menguasai wilayah-wilayah yang menjadi kantong suara. 

Pemilu 2024 menyesuaikan diri dengan hasil pilkada. Maklum, yang menentukan kebijakan adalah partai-partai yang bercokol di gedung Nusantara. Tak heran jika undang-undang pemilu terkesan tarik ulur. Ada beberapa kepentingan yang saling berbenturan.

Inilah beberapa kepentingan di balik pembuatan undang-undang pemilu:

1. Kepentingan partai terbesar yang sekarang berkuasa.

Partai ini tentu tidak mau tergeser kedudukannya sebagai penguasa. Mereka akan mempertahankan dominasi mati-matian, terutama di daerah yang menjadi basis mereka.

Ketua umum partai telah menyiapkan pengganti dari presiden Jokowi yang habis masa jabatannya. Sudah pasti, yang bisa patuh pada perintah dan mau mengangkat putri kesayangannya. 

Bayangkan, seumur hidup, impian sang ketua umum adalah mendudukkan anak ke tahta tertinggi. Baginya, sudah wajar jika tahta tersebut kembali pada keluarganya. Padahal kemampuan si anak tidak seberapa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan