muthiah alhasany
muthiah alhasany Penulis

Pengamat politik Turki dan Timur Tengah. Moto: Langit adalah atapku, bumi adalah pijakanku. hidup adalah sajadah panjang hingga aku mati. Email: ratu_kalingga@yahoo.co.id IG dan Twitter: @muthiahalhasany fanpage: Muthiah Alhasany"s Journal

Selanjutnya

Tutup

Kisahuntukramadan Pilihan

Ngabuburit Asyik dengan Wisata Religi Safari Masjid

16 Mei 2019   05:09 Diperbarui: 16 Mei 2019   05:49 26 7 1
Ngabuburit Asyik dengan Wisata Religi Safari Masjid
Grup wisata religi (dok.asep)

Bulan Ramadhan ini kalau di rumah saja tentu akan merasakan kebosanan. Di antara padatnya jadwal beribadah, sesekali kita perlu keluar untuk refreshing.

Namun untuk menghindari perbuatan yang sia sia dan tidak bermanfaat, carilah cara ngabuburit yang paling asyik. Kegiatan yang justru tidak menggerus upaya kita untuk meraih pahala sebanyak-banyaknya.

Kalau saya dan teman-teman backpacker punya cara tersendiri untuk ngabuburit. Cara yang membuat kita tambah bersemangat untuk beribadah, yaitu dengan wisata religi melakukan safari dari masjid ke masjid.

Masjid yang kami datangi diutamakan adalah masjid yang memiliki sejarah dan merupakan cagar budaya. Ada beberapa masjid di Ibukota yang bukan hanya antik tapi juga memiliki nilai sejarah yang tinggi.

Minggu yang lalu, kami melakukan safari masjid dengan menggunakan motor. Bagi yang memiliki motor, bersedia membawa dan memboncengkan teman lainnya.

Karena saya tidak memiliki motor, maka saya adalah yang membonceng. Kami berkumpul di tempat yang telah ditentukan yaitu kota tua.

Safari masjid dimulai pukul dua siang. Setelah semua anggota datang, kami beriringan menuju masjid yang telah ditentukan.

Pertama adalah masjid Kebon Jeruk yang berada di belakang jalan Hayam Wuruk, Jakarta Pusat. Masjid ini adalah masjid bersejarah karena telah berdiri sebelum abad 19. Arsitektur masjid ini tampak kuno.

Memang masjid ini tidak begitu besar, sehingga kami bergantian masuk dan melakukan shalat Sunnah Tahiyatul masjid. Lagipula kami harus bertingkah laku sopan dan tidak berisik agar tidak menggangu orang lain yang sedang beribadah.

Setelah itu kami kembali menyusuri jalan raya menuju kawasan planet Senen. Masjid ini tak jauh dari stasiun, ada di belakang gedung pasar Senen, tepat di pinggir jalan, berseberangan dengan gelanggang remaja planet Senen.

Masjid ini juga memiliki arsitektur yang masih asli meski telah direnovasi beberapa kali. Luasnya juga tidak seberapa dan dalam bulan puasa ini dipenuhi orang-orang. 

Biasanya masjid ini menjadi tempat persinggahan orang orang yang berbelanja. Tapi juga tempat beristirahat orang orang yang bekerja, baik di pasar maupun kantor.

Setelah melakukan shalat Sunnah Tahiyatul masjid dan  shalat Adhar,  kami meluncur lagi ke arah Tanjung Priok. Di sana ada masjid di Pitung, pendekar Betawi yang menjadi pahlawan karena melawan penjajah Belanda.

Masjid ini berada di kawasan pantai Marunda, dekat dengan laut. Karena itu cuacanya lebih panas. Tetapi kalau sudah ke masjid, suasananya menjadi berbeda.

Ada kesejukan tersendiri jika sudah berwudhu dan melakukan shalat Sunnah Tahiyatul masjid di sana. Masjid itu memberikan ketenangan.

Masjid di Pitung ini beberapa kali direnovasi. Terakhir karena terkena bencana kebakaran. Tapi untungnya segera dibangun kembali karena merupakan cagar budaya.

Setelah itu kami kembali ke arah kota tua ke dekat museum Fatahillah. Motor motor dititipkan di area parkir, kami mencari tempat berbuka yang nyaman.

Di sebuah restoran dekat museum kami istirahat dan menunggu adzan Maghrib. Senangnya berkumpul sambil wisata religi.