Mohon tunggu...
Muthiah Alhasany
Muthiah Alhasany Mohon Tunggu... Penulis - Pengamat politik Turki dan Timur Tengah

Pengamat politik Turki dan Timur Tengah. Moto: Langit adalah atapku, bumi adalah pijakanku. hidup adalah sajadah panjang hingga aku mati. Email: ratu_kalingga@yahoo.co.id IG dan Twitter: @muthiahalhasany fanpage: Muthiah Alhasany"s Journal

Selanjutnya

Tutup

Inovasi Pilihan

Asmara di Tengah Bencana Efektif Membangun Kesadaran Penduduk Akan Bahaya Bencana

3 Juli 2017   16:57 Diperbarui: 3 Juli 2017   17:16 392
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Peluncuran sandiwara radio Asmara di Tengah Bencana di gedung BNPB (dok.pri)

Radio, yang tidak memerlukan gambar visual, lebih mudah ditangkap oleh pemancar rendah. Bahkan cukup dengan antena yang ada di radio, kita dapat mendengarkan berbagai siaran. Para penduduk yang tinggal di wilayah pedesaan, umumnya memiliki sebuah radio yang menjadi hiburan utama. Media ini memang fleksibel, dapat ditaruh dimana saja, dibawa kemana saja dan harganya jauh lebih murah.

Setiap acara yang disiarkan dari radio menjadi perhatian penduduk. Apalagi acara hiburan musik dan sandiwara. Ya, mereka yang jauh dari perkotaan memang haus akan hiburan. Mereka hanya bisa mendapatkan hiburan yang cepat dan murah meriah melalui radio. Tengok saja di warung-warung desa, biasanya ada saja orang yang berkumpul, minum kopi sambil mendengarkan radio yang disetel keras-keras.

Maka tak heran jika sandiwara radio bisa menjadi begitu populer dan fenomenal. Siaran sandiwara yang dibatasi waktu, akan membuat penasaran pendengarnya. Mereka ingin tahu bagaimana kelanjutan ceritanya setiap hari. Nah, menyimak dari kebiasaan penduduk ini, patutlah sandiwara radio menjadi sarana jitu dalam melakukan pembelajaran terhadap masyarakat.

Pembelajaran tentang sadar bencana sangat penting, mengingat bahwa negara kita rawan bencana alam. Kita tidak ingin mengulang kejadian dimana bencana alam memakan korban yang besar. Oleh sebab itu, pembelajaran ini disisipkan melalui acara sandiwara radio yang sangat digemari masyarakat. Sandiwara radio 'Asmara di Tengah Bencana' yang diputar tahun lalu dinilai sangat sukses. Untuk itu perlu dibuat sekuelnya.

Mengenal Indonesia dan bencana yang mengiringi

Pada tanggal 8 Juni 2017 yang lalu, Kompasiana kembali menggelar acara Nangkring bersama BNPB. Dalam acara itu, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Dr. Sutopo Purwo Nugroho, M.si APU,  memaparkan posisi Indonesia sebagai negara yang rawan bencana. Karena memiliki kondisi seismo tektonik, menyebabkan rawan gempa, tsunami dan gunung meletus. Posisi geografis berbentuk kepulauan dan samudera juga menyebabkan rawan bencana hidrometerologi.

Menurut UU No.24 tahun 2007 tentang penanggulangan bencana, jenis-jenis bahaya dikategorikan sbb:

1. Bencana alam; seperti gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan dan tanah longsor.

2. Bencana non alam; misalnya gagal teknologi, kebakaran hutan/lahan, epidemi, wabah penyakit.

3. Bencana sosial; antara lain konflik sosial antar kelompok atau antarkomunitas dan teror

BNPB telah melakukan pemetaan terhadap darah-daerah yang rawan bencana. Spesifikasi berdasarkan jenis bencana alam yang biasa melanda daerah tersebut. Ada peta bahaya gempa bumi, peta sejarah bahaya gempa bumi dan tsunami, peta sebaran gunung berapi aktif, peta bahaya tsunami, peta bahaya longsor, peta bahaya banjir, peta bahaya karhutla, dan peta bahaya kekeringan. Dengan pemetaan tersebut, BNPB merencanakan antisipasi dan penanggulangannya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Inovasi Selengkapnya
Lihat Inovasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun