Mohon tunggu...
Nurdin Taher
Nurdin Taher Mohon Tunggu... Keberagaman adalah sunnatullah, karena itu pandanglah setiap yang berbeda itu sebagai cermin kebesaran Ilahi.

Lahir dan besar di Lamakera, sebuah kampung pesisir pantai di Pulau Solor, Flores Timur. Menempuh pendidikan dasar (SD) di Lamakera, kemudian melanjutkan ke SMP di Lamahala, juga kampung pesisir serta sempat "bertapa" 3 tahun di SMA Suryamandala Waiwerang Pulau Adonara, Flores Timur. Lantas "minggat" ke Ujung Pandang (Makassar) pada Juli 1989. Sejak "minggat" hingga menyelesaikan pendidikan tinggi, sampai hari ini, sudah lebih dari 25 tahun berdomisili di Makassar. Senantiasa belajar dan berusaha menilai dunia secara rasional dengan tanpa mengabaikan pendekatan rasa, ...

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

In Memoriam, Perginya Sang Begawan Teknologi dan Demokrasi Indonesia

12 September 2019   10:50 Diperbarui: 12 September 2019   16:48 96 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
In Memoriam, Perginya Sang Begawan Teknologi dan Demokrasi Indonesia
Sumber : https://www.sulselsatu.com

Innalillahi wainnaillaihi rajiun

Indonesia kembali berduka dan berkabung Nasional. Negeri ini kembali kehilangan salah seorang putra terbaik bangsa yang wafat pada Rabu, 11 September 2019 tepat pukul 18.05 WIB di RSPAD Gatot Soebroto Jakarta.

Seseorang yang selama hidupnya telah mendharmabaktikan seluruh kemampuan dan karya terbaiknya bagi perjalanan bangsa ini. Tidak hanya di bidang teknologi pada umumnya, dan teknologi kedirgantaraan khususnya, tapi juga memberikan sumbangsih yang tak terkira bagi perkembangan iklim politik dan demokrasi Indonesia. 

Beliau tidak hanya dikenal sebagai Bapak Teknologi Indonesia, tapi juga sekaligus mendapat predikat sebagai Bapak Demokrasi Indonesia dan ilmuwan dunia. 

Seperti testimoni Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Prof. Muhadjir Effendy, bahwa "di samping sebagai negarawan, reputasi beliau sebagai teknologiwan dan ilmuwan diakui dunia dan telah menginspirasi jutaan orang," (sumber). Beliau adalah Prof. Dr. Ing. Bachruddin Jusuf Habibie. Mantan Menteri Riset dan Teknologi (Menristek), Mantan Wakil Presiden, dan juga Mantan Presiden ke-3 RI.

Tidak banyak di dunia ini, di negara manapun ada tokoh yang mempunyai karier sesempurna beliau. Berbagai kelebihan tersebut hingga beliau menghembuskan nafar terakhir, dan entah berapa tahun dan dekade lagi, seakan tidak dapat tergantikan.  

Harus diakui bahwa tidak banyak anak bangsa dari negeri khatulistiwa ini memiliki kemampuan dan keahlian separipurna beliau. Meski beliau pernah berpesan dan berharap, agar setelah beliau ada generasi yang dapat menghasilkan karya yang melebihi dirinya (sumber).

Bacharuddin Jusuf Habibie, yang lebih dikenal sebagai B. J. Habibie meninggal dunia di usia 83 tahun. Lahir di Parepare, Sulawesi Selatan, pada 25 Juni 1936, pria keturunan Gorontalo itu meninggal dunia dalam usia 83 tahun 3 bulan, tepatnya hari Rabu, 11 Sepetmber 2019 pukul 18.05 WIB. Kegagalan kerja jantung sebagai akibat dari degeneratif karena usia, membuat beliau harus menyerah dan kembali ke pangkuan Sang Pemberi Hidup, Allah SWT.

Seperti disampaikan oleh anak bungsu (anak ke-2) beliau, Thareq Kemal Habibie, ayahnya Prof. B. J. Habibie wafat karena gagal jantung. Dan memang secara historis menurut Thareq, ayahnya memiliki riwayat penyakit jantung.

Sejak diberitakan sakit hingga wafat, banyak tokoh dari berbagai latar belakang menyambangi RSPAD untuk menjenguk dan melayat dan mendoakan almarhum. Tidak kurang dari Presiden RI ke-7, Joko Widodo, menyambangi dan bahkan sudah berada di RSPAD sesaat menjelang almarhum menghembuskan nafas terakhir.

Sebenarnya tujuan Presiden Jokowi datang untuk menjenguk dan sekaligus ingin melihat dan mengetahui kesehatan dan perkembangan penanganan kesehatan oleh tim dokter. Tapi sayang, sesaat setelah Jokowi tiba di RSPAD, sebelum Presiden sampai di ruang perawatan, almarhum sudah menghembuskan nafas terakhir di hadapan kedua putranya dan keluarga besar lainnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x