Mohon tunggu...
Elsa Fy
Elsa Fy Mohon Tunggu... :)

reading and writing

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Kita Terobsesi Catatan

7 April 2020   11:04 Diperbarui: 7 April 2020   17:10 28 8 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kita Terobsesi Catatan
Source: Unsplash: @grakozy

Kalian ingat lagu yang berjudul  “Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada“  yang di nyanyikan Ahmad Dhani dan almarhum Crhisye pada tahun 2004?. Lagu ini populer pada masanya, di putar di radio-radio, teman-teman sekolah saya sering menyanyikannya di dalam kelas, di desa-desa, di warung-warung lagu ini di putar. Dulu saya sering mendenger lagu  ini, menikmati irama musiknya dan tidak pernah terlintas di pikiran bahwa lagu ini memilki makna yang dalam. Di tahun 2020 makna dari lagu tersebut masih sangat relevan dengan keadaan sekarang. Keadaan dimana kita mengukur segala sesuatu hanya karena catatan, catatan yang akan memberikan kita imbalan.

Kita berpuasa agar amal kita di catat

Kita berbuat baik agar amal kita di catat

Kita sholat agar amal kita di catat

Kita naik haji agar amal kita dicatat

Kita membayar zakat agar amal kita dicatat

Kita ber-kurban di hari raya idul adha agar amal  kita dicatat

Kita memberi sumbangan ke masjid supaya di catat oleh panitia masjid .Agar nanti nama kita menggema di seluruh penjuru rumah, ketika panitia dengan TOA (pengeras suara)  mengumumkan nama-nama yang memberi sumbangan . Agar semua orang tau kita orang dermawan.

Bahkan mahasiswa tidak apa-apa  tidak datang kuliah asal namanya di catat di absen, nitip teman supaya namanya di catatatkan di absen, supaya kelihatan hadir. Bukankah kuliah itu yang terpenting ilmunya bukan catatan absennya? Logika terbalik.

Saya sering mendengar  karyawan buru-buru datang ke kantor karena waktu absen pakai finger print nya sebentar lagi habis .Katanya kalau sering terlambat absen, gajinya di potong, nah loh!. Mereka bukan buru-buru datang ke kantor karena mengejar pekerjaan atau karena mematuhi aturan tapi mengejar catatan absensi agar gajinya  tidak di potong!.

Bisakah kita berbuat baik dan beribadah tanpa embel catat-mencatat tersebut. Bisakah kita berbuat baik dan beribadah hanya karena kita memang ingin melakukananya. Bisakah kita terbebas dari hamba catatan ?.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN