Lilik Fatimah Azzahra
Lilik Fatimah Azzahra Wiraswasta

Seorang ibu yang suka membaca dan menulis

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cermis | Friday the 13th, Tamu Terakhir

13 Oktober 2017   14:12 Diperbarui: 13 Oktober 2017   21:54 2568 35 25
Cermis | Friday the 13th, Tamu Terakhir
sumber gambar: Resultado de imagem para man photography black and white/ www.pinterest.com

Mark mendapat undangan jamuan makan malam dari Tuan Jim. Tetangga baru yang rumahnya berada di atas bukit.

Mark terlihat amat antusias dan gembira.

"Mark, kupikir aku harus menemanimu," Lisa memberi tanggapan usai membaca surat undangan yang tergeletak di atas meja.

"Undangan itu hanya untuk satu orang, honey. Sangat tidak sopan jika aku membawamu serta," Mark mengecup pipi Lisa, berharap istrinya itu mau mengerti.

"Mark, boleh-boleh saja kan, aku mengkhawatirkanmu?" Lisa menatap dalam-dalam mata cekung Mark.

"Hanya undangan makan malam biasa, Lisa. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."

"Today is Friday the 13th,  Mark," Lisa mengingatkan.

"Honey, kukira kau mulai mengidap  paraskavedekatriaphopia. Aduh, sulit sekali mengucapkannya," Mark tertawa.

"Ya, kau benar. Aku memang memiliki ketakutan berlebihan terhadap Jumat tanggal 13," Lisa menegaskan. Ia mulai kesal terhadap sikap Mark.

"Percayalah. Tidak akan terjadi apa-apa, honey," Mark menyentuh ujung hidung Lisa, lalu meraih jaket yang tersampir di belakang pintu. Sebentar kemudian ia sudah berada di jalanan.

Di luar udara sangat dingin. Kabut pekat baru saja turun. Mark mempercepat langkah. Ia berharap tidak akan terjebak kabut dan tiba di rumah Tuan Jim tepat waktu.

Rumah Tuan Jim sebenarnya tidak terlalu jauh. Berjarak sekitar satu kilometer dari kediamannya. Hanya, ia harus melewati jalan setapak yang sengaja dibuat melingkar, yang membuat perjalanan terasa agak lamban.

Jalanan kian menanjak. Membuat napas Mark terengah. Beberapa kali ia mesti berhenti untuk meluruskan lutut kaki yang pegal. 

Tinggal sedikit tanjakan lagi, huft, akhirnya...Mark menarik napas lega. Rumah Tuan Jim sudah tampak di depan mata.

Di pintu pagar Mark disambut oleh seorang laki-laki yang mengenakan jaket tebal semirip yang dikenakannya.

"Saya Jim. Bisa menunjukkan nomor undangan Anda?"

Mark terdiam sesaat. Ia lupa, kartu undangannya tertinggal di atas meja.

"Mungkin---saya adalah tamu Tuan yang paling akhir," Mark menjawab pelan.

***

Dipandu laki-laki yang mengaku sebagai tuan rumah itu, Mark berjalan menyusuri koridor panjang menuju ruangan semacam aula yang terletak di bagian bangunan paling ujung. Saat mereka sampai, beberapa tamu sudah duduk menunggu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3