Mohon tunggu...
Ekriyani
Ekriyani Mohon Tunggu... Guru - Guru

Pembelajar di universitas kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Sahabat yang Hilang

19 Desember 2021   08:02 Diperbarui: 19 Desember 2021   15:45 222 24 2
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ilustrasi gambar: pixabay

Malam sering kulalui hanya menatap kerlipan taburan bintang, dan coba mencandainya meski rembulan sembunyi malu di sela awan tipis. Nyanyi sunyi angin terus menampar ingatan. Aku mencari jejak bayangmu di lorong malam yang kian pekat.

Dulu, senyum rembulan dan kerlipan bintang setia menemani canda tawa kita. Bersama melayari malam penuh cerita mengaramkan emosi. Hingga tak terasa malam dimangsa pagi.

Sahabat, kini aku hanya menghitungi jejak-jejak pagi yang mulai terlupa. Rekahan senyuman diantara wewangian melati kini sudah lenyap dimangsa kesunyian. Hanya mampu berceloteh dengan ampas kopi dan jarum jam yang pelan melaju. Bayang wajahmu sudah tak tersisa di sini.

Aku tertunduk di sudut taman kota ini. Menunggu kabar angin diantara wajah-wajah sibuk berlalu lalang. Sejenak kuterperangah pada sebuah sosok melintas cepat. "Itukah engkau sahabatku?". Kembali mata ini berkaca kecewa.

Tak terasa berjuta detik telah meluruhkan wajahmu hingga menyisakan debu kenangan. "Haruskah perjalanan mencari rekam jejakmu harus berakhir di sini?" Nuraniku pasrah.

Biarlah namamu terus merimbuni tiap mimpiku dan bayang candamu terus membedaki malam di dalam ilusi. Andai kau telah pergi jauh, aku ikhlas. Namun setidaknya ada setitik berita pelega di ruang dada.

(Sungai Limas, 19 Desember 2021)

Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan