Mohon tunggu...
Efrem Siregar
Efrem Siregar Mohon Tunggu... Jurnalis - Tu es magique

Peminat topik internasional. Pengelola FP Paris Saint Germain Media Twitter: @efremsiregar

Selanjutnya

Tutup

Money Pilihan

Alasan Indonesia Butuh Impor dan Harus Pakai Produk Asing

8 Maret 2021   01:14 Diperbarui: 8 Maret 2021   02:01 666
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Kebijakan lain yang masih berlaku adalah mendorong tingkat komponen dalam negeri bagi industri manufaktur. Perpres 12/2021 tentang pengadaan barang dan jasa mengamanatkan kewajiban penggunaan produk dalam negeri apabila memiliki penjumlahan nilai TKDN ditambah nilai Bobot Manfaat Perusahaan (BMP) paling sedikit 40 persen.

Regulasi yang ada sebenarnya sudah memadai. Pada akhirnya, ungkapan membenci produk asing bisa ditangkap sebagai taktik pemasaran. Cintai produk Indonesia. 

Cara penyampaiannya harus luar biasa supaya bisa memancing atensi banyak orang. Kalau dengan cara biasa, niscaya jargon tersebut hanya menjadi bumper sticker atau menjadi pemanis di spanduk seminar.  

Manfaat menggunakan produk lokal

Sudah bukan rahasia umum bagaimana kebanyakan orang Indonesia sebenarnya menyukai barang harga murah hingga gratis. Bahkan ini juga menjadi preferensi kepada beberapa kelas menengah dalam memilih produk.

Konsumen memiliki preferensi sendiri, sementara produsen dan pelapak memiliki pertimbangan efisiensi, efektivitas dan tentunya keuntungan.

Impor barang murah menguntungkan konsumen di satu sisi, tetapi bisa berakibat buruk jika dibiarkan lama karena menggerus pasar lokal atau menjadi kelaziman untuk melakukan hal-hal absurd, jika ingat pada 2019, cangkul pun harus impor dari China dalam bentuk plat baja. Entah apa keistimewaan barang tersebut, toh juga akhirnya panganan harus impor.

JS Mill menyebutkan perlu ada keseimbangan dalam perdagangan antarnegara untuk menjaga stabilitas perekonomian dunia (teori reciprocal demand). Negara harus memberikan kontribusi seimbang dalam menyusun neraca perdagangan sehingga arus masuk dan arus keluar barang dan modal dapat terjaga baik.

UMKM memang punya peluang ekspor, namun butuh perjuangan, SDM, dana dan waktu yang tidak sebentar. Lagi-lagi, ini pekerjaan yang sedang diupayakan pemerintah dan pelaku UMKM.

Sekarang, fokusnya adalah konsumen dalam negeri mengutamakan produk lokal. Strateginya, mungkin bisa dimulai dengan komitmen pendukung Pakde Jokowi, misalnya. Jumlahnya pasti besar di Indonesia. Cinta Jokowi, beli produk lokal. Bisa juga dengan meluncurkan berbagai bentuk kampanye menarik lain.

Intinya, meningkatkan konsumsi. Dengan meningkatnya konsumsi, maka membantu kenaikan produksi yang ujungnya membuka lapangan kerja baru. Daya beli pun meningkat. 

Karena itu, kita tidak perlu heran bila mendengar pejabat sering melontarkan hal-hal sepele supaya kita harus sering 'jajan'. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun