Mohon tunggu...
Efrem Siregar
Efrem Siregar Mohon Tunggu... Jurnalis - Tu es magique

Peminat topik internasional. Pengelola FP Paris Saint Germain Media Twitter: @efremsiregar

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Albert Camus dan Nietzsche: Siapakah Manusia?

27 Januari 2020   08:10 Diperbarui: 27 Januari 2020   08:12 1609
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Tuhan sebagai satu-satunya penentu kehidupan manusia, satu-satunya sumber moralitas telah mati. Kematian Tuhan itu sebuah penanda bahwa subjek telah hilang dari kehidupan ini. Posisinya lantas jatuh kepada manusia. Nietzsche melihat dengan hilangnya subjek, maka kekacauan justru akan terjadi. Realita sedari lahirnya adalah sebuah chaos.

Lalu manusia menjadi subjek, makhluk yang berkehendak. Sanggupkah manusia mengemban tugas suci ini? Manusia menjadi penentu keadilan bagi kehidupan. Dia bertanggungjawab dalam menjawab dan memberikan keadilan itu bagi manusia. Ubermensch, manusia super rekaan Nietszche hanya sampai pada angan-angan tentang cerita indah kehidupan. Nietszche hanya meninggalkan angan-angan untuk sebuah fenomena yang terlalu sulit dicari jawaban mudahnya.

Tentang kematian Tuhan selanjutnya menggiring beberapa pemikir untuk menindaklanjuti persoalan ini. Mereka, sejauh penulis memandang, tak terlalu banyak memperdebatkan mengapa kematian Tuhan. Manusia mendapat perlakuan istimewa dalam filsafat dan dunia sastra. Apa yang menjadi kemajuan zaman dan peradaban akan menyelipkan kehendak manusia itu sendiri.

Dunia adalah objek bagi manusia. Dengan gairah tinggi, manusia memperkosanya. Inilah konsekuensi yang harus diterima manakala Tuhan telah mati. Baik dan buruk menyatu. Moralitas yang datang dari manusia hanyalah sebuah kejahatan baru pula, tampaknya. Kehendak untuk berkuasa bagi manusia tak lain adalah sebuah pembunuhan terhadap moralitas itu sendiri.

Kematian Tuhan bukan sebuah ketiadaan total bagi eksistensi Tuhan. Tuhan yang mati bukanlah Tuhan yang satu seperti kita yakini. Manusia akan menciptakan Tuhan yang baru atas kehendak manusia itu, semisal teknologi, kebudayaan, ilmu pengetahuan dan sebagainya. 

Namun Nietzsche juga mengingatkan bahwa usaha tersebut, kemajuan ilmu pengetahuan yang semakin tinggi akan berakhir pada kesia-siaan semata. Puncaknya, manusia akan menemukan ketiadaan makna (nihilisme).

Absurditas
Albert Camus setidaknya memiliki kesepahaman dengan Nietszche tentang sebuah kesia-siaan. L'Etrangers menunjukkan absurditas tersebut. Penokohan Mersault sebagai seorang yang aneh bagi masyarakat tampak dalam awal cerita. Tidak masuk akal seorang anak dengan raut wajah datar meneguk segelas kopi di atas peti mati ibunya. Tiada duka di hari itu.

Lanjut cerita di pantai. Mersault menembak mati seorang Arab yang sebenarnya tak ada urusan langsung dengannya. Justru temannya yang terlibat pertengkaran dengan si Arab tersebut. Namun atas perasaan yang membuat hina dirinya, peluru disasarkannya kepada orang Arab tersebut. Bahkan dalam keadaan tergeletak tak bernyawa sekalipun, tiga tembakan tetap dipelatuk Mersault.

Dia mendapat ganjaran atas perbuatannya. Hakim menjatuhkan hukuman mati. Baginya, entah alasan apa, penembakan tersebut harus disangkutpautkan dengan masa lalu, sewaktu kehadirannya pada pemakaman sang ibu. Dan hakim merasa itu perlu dipertimbangkannya, yakin pada vonisnya. Mati!

Mendekati hari terakhirnya, dia memiliki perasaan sama seperti orang lain, ingin menikmati sebuah kebebasan. Pendeta yang datang sebelum hari eksekusi bukan memberi jawaban tersebut, malah menambah kemarahannya. Sungguh, Mersault ingin menikmati hari terakhirnya dengan tenang tanpa perlu cerita indah tentang surga dan kehidupan setelah kematian. Di hari kematiannya, dia ingin masyarakat menyambutnya dengan teriakan kebencian.

Mersault bukanlah orang yang bertingkah laku seperti masyarakat pada umumnya. Manusia yang menurut pada tatanan sosial masyarakat justru kehilangan otonominya. Mersault tak ingin asing untuk dirinya sendiri, biarlah masyarakat menganggapnya demikian. Dalam dua titik ini, kebenaran sejatinya tidak menemui maknanya. Pencarian akan kebenaran tersebut hanya sia-sia. Sayangnya, Camus menunjukkan dalam novelnya bahwa individu telah takluk akibat kebenaran umum yang berlaku.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun