Mohon tunggu...
Efrain Limbong
Efrain Limbong Mohon Tunggu... Jurnalis - Mengukir Eksistensi

Menulis Untuk Peradaban

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Pilihan

"Surya, Mentari, dan Rembulan" Novel Toraja Beraroma Djogja dan Nepal

16 Agustus 2019   15:32 Diperbarui: 17 Agustus 2019   20:00 135
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Novel karya Sili Suli. Docpri

"Orang mungkin takkan mengira bahwa buku ini adalah novel fiksi Toraja. Surya, Mentari dan Rembulan adalah nama nama orang yang jarang melekat pada diri orang Toraja. Nama nama itu justru familiar di Jawa."

Surya adalah nama seorang gembala kerbau dari kampung Waka', sebuah kampung yang terletak di kaki Gunung Napo, Toraja. Mentari adalah kekasih Surya yang juga berasal dari Kampung Waka'. Sedangkan Rembulan adalah seorang gadis bangsawan Jawa yang tinggal di Djogja.

Novel ini berkisah tentang penculikan adik Mentari yang bernama Mataallo di Rantepao oleh kelompok koja atas perintah Tangke Bunna, seorang bangsawan Toraja yang merasa sakit hati kepada Ne' Ari, ayah dari Mataallo. Ne' Ari yang juga seorang tokoh adat, dianggap telah mempermalukan Tangke Bunna saat diminta mencari buah tomendoyang di Puncak Gunung Napo. 

Ne' Ari juga dianggap sebagai tokoh utama yang menggagalkan keinginan Tangke Bunna menggelar acara rambu solo' ma'barata di tongkonannya, sehingga tawanan yang seharusnya disembelih dalam acara adat tersebut, terbebas dari maut berkat upaya Ne' Ari dan beberapa tokoh adat Toraja.

Penculikan Mataallo berbuntut panjang. Surya adalah salah seorang warga kampung Waka' yang ditugaskan untuk mencari  Mataallo di Rantepao. Ternyata Matallo telah dijual kepada Puang Lammai, seorang saudagar kopi di Parepare dan kemudian dibawa ke Djogja oleh adik angkat Puang Lammai. 

Mau tidak mau, Surya dan dua sahabatnya harus pergi ke Djogja. Perjalanan mereka ke Djogja tidak sia-sia. Mereka berhasil bertemu dengan Mataallo yang sudah dijual kepada seorang  bangsawan Jawa bernama Raden Boedijono.

Atas bantuan Raden Mas Yasmiar Nugroho dan Rembulan, Mataallo bisa dibawa kembali ke Toraja, dengan syarat Surya  harus ikut serta dengan sekelompok juragan Jawa yang tergabung dalam wadah Kemah nDoro (KenDor) ke Nepal. Misi ke Nepal adalah untuk mengantar abu jenazah kakek Koh Langgeng dan ditaburkan di kaki Gunung Sagarmatha, Nepal. 

Surya menyanggupi. Akhirnya Surya ikut berkelana bersama para juragan Jawa diawali dari Semarang, Batavia, Singapura, Selat Malaka, Teluk Benggali, Sunggai Gangga dan menyusuri jalan darat hingga ke Kalapathar.

Petualangan mencari Matallo membawa Surya bertemu dengan sejumlah nama seperti Tabib Istu di Pinrang, Puang Lammai  di Parepare, mas Yadi di Semarang, Rembulan - Koh Langgeng - nDoro Anten - Raden Boedijono - bang Andy Tampubolon - kelompok seniman yang tergabung dalam komunitas wayang kulit Mataram atau KOAWIMA di Djogja.

Wartawan asal  Eslandia, Christ Paso Sturluson di kapal, pengusaha Inggris Reinhold Hillary Rotschild di Namche Bazar dan  beberapa orang Sherpa di Sange Phuk dan Groaksheep. Namun yang paling berkesan dalam hatinya adalah pertemuan dengan Rembulan.

Novel ini dituturkan secara mengalir oleh penulisnya Sili Suli, sehingga bisa membuat pembacanya tak sabar untuk melanjutkan ke bab berikutnya. Nuansa Toraja terasa sangat kental pada permulaan bab. 

Beberapa hal yang menjadi daya tarik dalam permulaan cerita ini adalah sisipan tentang rambu solo ma'barata, judi sabung ayam, perbudakan dan dilanjutkan dengan ritual  menjalankan mayat. Juga tentang buah tomendoyang di Gunung Napo, yang konon 

docpri
docpri
berbau mistis.Setelah berpindah ke Djogja, penulis secara apik mengganti suasana Toraja menjadi suasana Djogja tempo doeloe, termasuk  keunikan tari pusaka Kraton Yogyakarta yang paling sakral yakni tari bedhaya semang, dimana para penarinya diharuskan melakukan ritual khusus sebelum mementaskannya. 

Dan ketika cerita bergeser ke Nepal, pembaca juga bisa merasakan nuansa Nepal yang kental, yang diawali dengan cerita tentang Festival Gadhimai yang unik dan keindahan panorama alam
Himalaya yang mempesona. 

Itulah sebabnya novel ini bisa dikatakan sebagai novel Toraja beraroma Djogja dan Nepal.  Mungkin inilah novel pertama di Indonesia yang memadukan keunikan budaya Toraja, Djogja dan Nepal dalam satu cerita fiksi  yang sarat makna dan pesan pesan moral.

Sayangnya novel ini belum tersedia di rak rak toko buku. Tampaknya, penulis novel ini lebih beroerientasi kepada kepuasan  batin untuk berbagi, ketimbang berpikir untuk mencari market. Dalam lembaran awal novel ini, penulis menulis bahwa novel ini dibingkiskan kepada sahabat-sahabatnya di MAPAWIMA dan KOAWIMA Yogyakarta. Dari 500 eksemplar edisi perdana,
hanya 50 eksemplar yang dia jual. Sedangkan selebihnya dibagikan secara gratis.

Kabarnya, saat peluncuran perdana novel ini di Yogyakarta pada tanggal 6 April 2019 sekitar 200 eksemplar novel ini  dibagikan secara gratis kepada sahabat sahabatnya di Yogyakarta. Selain itu, ada sekitar 250 eksemplar yang juga dibagikan secara cuma cuma kepada sahabatnya dan pecinta novel yang tinggal di berbagai kota di Indonesia.

Boleh jadi, ini adalah cara terbaik seorang penulis dalam berbagi, yaitu dengan memperkenalkan keindahan budaya daerahnya kepada para sahabatnya  maupun orang lain  melalui karya tulisnya. Terkadang kepuasan batin memang tak bisa diukur dengan uang.  

Mungkin itulah salah satu bentuk kebahagiaan seorang penulis.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun