Mohon tunggu...
Edy Supriatna Syafei
Edy Supriatna Syafei Mohon Tunggu... Penulis

Tukang Tulis

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Kok, Adzan Dijadikan Alat Provokasi?

2 Desember 2020   00:12 Diperbarui: 2 Desember 2020   00:20 934 58 12 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kok, Adzan Dijadikan Alat Provokasi?
Ilustrasi, Adzan. Foto | KOnsultasi Syariah

Astagfirullahaladzim. Baru kali ini, seumur hidup, penulis mendapati lafadz adzan (azan) diubah dan disisipi kalimat jihat.

Patutlah banyak ulama dan habaib menggelengkan kepala setelah begitu ramainya publik membicarakan soal adzan diubah, ditambah kalimat ajakan berjihat. Melalui WAG dan media sosial, prihal azan itu kemudian menjadi pembicaraan hangat.

Sekali lagi, Astagfirullahaladzim. Sungguh, hati terasa perih ada manusia demikian beraninya mengubah lafadz adzan. Adzan sejatinya merupakan panggilan bagi umat Islam untuk memberitahu masuknya shalat fardu. Dikumandangkan oleh seorang mu'azin (di masjid, mushalla) setiap shalat lima waktu. Setelah adzan  disusul dengan iqomah sebagai seruan bahwa shalat segera dilaksanakan.

Dulu, di rubrik Kompasiana, penulis pernah menyinggung prihal perbedaan lafadz adzan Ahlusunah dan Suni.

Kita tahu lafadz adzan, khususnya penganut Suni, sbb: 

Allaahu Akbar, Allaahu Akbar (2x) . Asyhadu allaa illaaha illallaah. (2x) .Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah. (2x) . Hayya 'alashshalaah (2x) . Hayya 'alalfalaah. (2x) . Allaahu Akbar, Allaahu Akbar (1x). Laa ilaaha illallaah (1x).

Sekali lagi adzan tersebut banyak dipakai pada kalangan Ahlusunah di berbagai pelosok tanah air. 

Sementara itu untuk kalangan syiah sering terdengar ditambahi lafadz Hayya 'al khair al-'amal. Lengkapnya seperti di bawah ini. Allhu Akbar Allhu Akbar (2 kali). Asyhadu an-l ilha illallh (2 kali). Asyhadu anna Muhammadar Raslullh (2 kali). Hayya 'al ash-shalah (2 kali). Hayya 'ala al-falah (2kali). Hayya 'al khair al-'amal (2 kali). Allahu Akbar Allhu Akbar. L ilaha illallah (2 kali).

**

Di sini penulis tak ingin membahas perbedaan lafadz adzan penganut suni dan syiah. Biarlah hal itu jadi ranah bagi para ulama yang duduk di Majelis Ulama Indonesia (MUI). Mereka lebih memiliki kompetensi untuk memberikan penjelasan.

Kini, soal lafadz adzan berbeda tetiba muncul begitu mengejutkan. Awalnya, ingin cepat-cepat memberi respon dengan nada marah. Patut diduga bahwa hal itu  sebagai pancingan untuk mengadu-domba umat Islam.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN