Politik Pilihan

Gimana Sih Politik yang Islami Itu?

12 Oktober 2018   10:37 Diperbarui: 12 Oktober 2018   13:05 871 22 13
Gimana Sih Politik yang Islami Itu?
KH. Sahal Mahfurdh.Foto | NU.or.id

Ini bukan ikut-ikutan bicara politik karena isu politik tengah menarik perhatian publik. Sekarang ini, siapa pun dia, mulai rakyat miskin dan kaya, punya darah biru atau ningrat, santri dan ulama hingga para pemangku adat, tengah mencurahkan perhatiannya kepada Pilpres dan pemilihan anggota legislatif.

Nah, di tengah ramainya pemberitaan politik itu, penulis ingin tahu bagaimana sesungguhnya politik yang Islami dijalankan oleh seorang politisi (Islam).  Berbagai literatur dibaca dan terasa asyik pula ketika membacanya.

Memang, manusia adalah mahluk politik. Hidupnya tidak pernah lepas dari persoalan politik.

Pada tahun politik, yang biasanya orang awam mengaitkan dengan pemilihan presiden dan anggota legislatif digelar, perhatian tersedot pada pernyataan politik di media massa dan media sosial. Lebih menarik lagi, kala hadir di media massa pernyataan bernada nyinyir, provokasi dan menyerang antarkubu pendukung.

Para akademisi meyakini bahwa politik tak bisa dipisahkan dari pengetahuan ketatanegaraan, segala urusan berkaitan dengan pemerintah atau terhadap negara lain dan juga cara bertindak mengenai suatu kebijakan atau masalah lainnya.

Dulu, ketika penulis kuliah di "universitas hutan", eh maksudnya Universitas Tanjungpura Pontianak, Prof. Dr. Syarif Ibrahim Alqadrie, M.Sc., pengajar yang setia melayani mahasiswanya, dalam suatu obrolan di ruang kerjanya dengan penulis, mengungkap bahwa esensi politik mengatur, memimpin dengan upaya membawa kepada kemaslahatan.

Politik, yang dalam bahasa Latin ditulis politicus dan Bahasa Yunani (Greek) politicos, mengandung arti berhubungan dengan warga (masyarakat). Dalam Bahasa Arab,  politik disebut siyasah -- yang berasal dari sasa, mengandung makna mengatur, mengurus dan memerintah. Kata ini sama dengan to govern,to lead.

Siyasah sering disamakan maknanya dengan policy of government. Jadi, ujung-ujungnya, ya sama saja. Dan, pada artikel ini, penulis mengajak pembaca untuk merenungkan sekelumit etika politik dalam perspekfit Alquran.

Dalam Islam, dalam berpolitik itu harus berpegang kepada amanah. Kata ini seakar dengan kata iman, yang terambil dari kata amn yang berarti keamanan dan ketenteraman, sebagai lawan dari kata khawatir atau takut. Tegasnya, makna aman dapat dibaca sebagai tidak mengkhawatirkan  dan tenteram.

Sesuatu yang merupakan milik orang lain dan berada di tangan anda dinamai amanah, karena berada di tangan seseorang tidak mengkhawatirkan pemiliknya. Tentram karena ada yang memeliharanya dan bila diminta pemiliknya dengan suka rela diserahkannya. Seseorang yang selalu menentramkan hati karena dapat dipercayai dinamai amin.

Dalam kehidupan politik, ada poin penting yang harus dikedepankan. Yaitu aspek musyawarah. Musyawarah dapat diidentikan dengan kata demokrasi di era modern. Yusuf al-Qaradawi menyebut demokrasi dan musyawarah memiliki titik kesamaan. Di antaranya demokrasi memberi bentuk beberapa sistem yang praktis seperti pemilu untuk meminta pendapat rakyat, kebebasan berpendapat dan lain-lain. Hal ini juga bagian dari ajaran Islam.

Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati keras, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampun untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal. (Ali Imran/3:159)

Jadi, di sini ditegaskan oleh Nabi Muhammad SAW tiga sifat: berlaku lemah lembut, tidak kasar dan tidak berhati keras.

Dan, jangan lupa etika berpolitik adalah bersikap adil. Adil yang terserap dari Bahasa Arab adl terambil dari kata adala terdiri dari huruf ain, dal dan lam. Rangkaian huruf ini mengandung dua makna: lurus dan sama serta bengkok dan berbeda.

Seorang yang adil adalah yang berjalan lurus dan sikapnya selalu menggunakan ukuran yang sama, bukan ukuan ganda. Dan inilah yang menjadikan seorang yang adil, tidak berpihak kepada yang salah.

Keadilan dalam Alquran mengandung beragam makna. Sangat luas sekali. Tidak hanya pada  proses penetapan hukum atau pihak yang berselisih, juga menyangkut aspek kehidupan beragama.

Tidak kalah pentingnya etika politik dalam Islam adalah prihal persamaan kemanusiaan. Alasannya, esensinya manusia adalah sama, bersaudara karena mereka berasal dari sumber yang sama pula.

Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangs dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti (al-Hujarat/49:13)

Maka, dari ayat itu makin jelas bahwa misi Alquran dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa adalah untuk menegakkan prinsip persamaan (egalitarianisme) dan mengikis bentuk fanatisme golongan maupun kelompok.

Penting juga disadari bahwa Alquran mengingatkan bahwa persaudaraan tidak hanya tertuju kepada sesama muslim, namun juga kepada sesama warga (masyarakat) yang nonmuslim. Term yang digunakan Alquran untuk menyebut persaudaraan dengan yang berlainan akidah berbeda dengan term yang digunakan untuk menunjuk persaudaraan yang seakidah. Persaudaraan berbeda akidah ini populer disebut toleransi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2