Mohon tunggu...
Edy Supriatna Syafei
Edy Supriatna Syafei Mohon Tunggu... Jurnalis - Penulis

Tukang Tulis

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Nyepi sebagai Inspirasi Peningkatan Soliditas Kerukunan

16 Maret 2018   14:53 Diperbarui: 17 Maret 2018   16:46 1207
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Umat tengah ikut tawur agung. Foto | Dokpri

Setelah Hari Raya Nyepi pada tanggal 21 April 2018, kami akan melaksanakan dharma shanti Provinsi Banten di halaman Banjar Serang, yang kita harapkan akan dihadiri oleh Gubernur Banten dan tokoh Lintas Agama serta seluruh umat Hindu se-provinsi Banten.

Pada saat pelaksanaan dharma shanti akan dimeriahkan dengan pagelaran fragmentari Sutasoma oleh para seniman dan seni tari dari Kabupaten Badung Provinsi Bali.

Sesungguhnya seluruh rangkaian Nyepi dalam rangka peringatan pergantian Tahun Baru Saka itu adalah sebuah dialog spiritual yang dilakukan oleh umat Hindu agar kehidupan ini selalu seimbang dan harmonis serta sejahtera dan damai.

Tawur Agung. Foto | Antara
Tawur Agung. Foto | Antara
**

Nyepi mempunyai artinya membuat suasana sepi, tanpa kegiatan (amati karya), tanpa menyalakan api (amati geni), tanpa melakukan perjalanan keluar rumah (amati lelungaan) dan tanpa hiburan (amati lelanguan) yang dikenal dengan istilah "Catur Berata penyepian".

Sesungguhnya di hari itu umat Hindu melakukan tapa, berata, yoga, samadhi, untuk menyimpulkan serta menilai pribadi-pribadi di masa lampau dan merencanakan hari depan lebih baik. Di hari itu dilakukan evaluasi diri, seberapa jauhkah tingkat pendakian rohani yang dicapainya, dan sudahkah mengerti pada hakekat tujuan kehidupan di dunia ini.

Dengan amati karya, menurut dia, umat Hindu mempunyai waktu yang cukup untuk melakukan tapa, berata, yoga, dan samadhi; dalam suasana amati gni, pikiran akan lebih tercurah pada telusuran kebathinan yang tinggi; pembatasan gerak bepergian keluar rumah berupa amati lelungaan akan mengurung diri sendiri di suatu tempat tertentu untuk melakukan tapa, berata, yoga, samadhi.

Tempat itu bisa di rumah, di Pura atau di tempat suci lainnya. Tentu saja dalam prosesi itu umat Hindu wajib menghindarkan diri dari segala bentuk hiburan yang menyenangkan yang dinikmati melalui panca indria.

Kemampuan mengendalikan Panca Indria adalah dasar utama dalam mengendalikan Kayika, Wacika dan Manacika sehingga jika sudah terbiasa maka akan memudahkan pelaksanaan Tapa Yadnya. Walaupun tidak dengan tegas dinyatakan, pada Hari Nyepi seharusnya berpuasa menurut kemampuan masing-masing.

Jenis-jenis puasa antara lain : tidak makan dan minum selama 24 jam, atau siang hari saja, atau bentuk puasa yang ringan yaitu hanya memakan nasi putih dengan air kelapa gading yang muda. Setelah Nyepi, diharapkan umat Hindu memiliki nilai tertentu dalam evaluasi kiprah masa lalu dan rencana bentuk kehidupan selanjutnya yang mengacu pada kekurangan-kekurangan nilai dan meningkatkan kuwalitas beragama.

Demikianlah tahun demi tahun berlalu sehingga semakin lama umat Hindu mengerti hakekat kehidupan di dunia, yang pada gilirannya membentuk pribadi yang dharma, yaitu jalan kehidupan yang berlandaskan kebenaran dan menjauhkan hal-hal yang bersifat dharma.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun