Mohon tunggu...
edy mulyadi
edy mulyadi Mohon Tunggu... Jurnalis - Jurnalis, Media Trainer,Konsultan/Praktisi PR

masih jadi jurnalis

Selanjutnya

Tutup

Vox Pop

Ahokers dan Teroris Sosial Media

8 September 2016   15:03 Diperbarui: 8 September 2016   15:33 153
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Oleh Edy Mulyadi*

Konon, media sosial atawa Medsos kini menjadi bagian (penting) dari demokrasi. Lewat Medsos orang bisa dengan lebih mudah dan bebas menyampaikan perasaan, pendapat, dan aspirasinya. Dalam konteks demokrasi pula, melalui Medsos dialog dan dialektika terbangun.

Namun di tangan kelompok tertentu, Medsos ternyata bisa berubah fungsi. Ia menjadi alat bagi para teroris yang efektif dan massif. Dan, sayangnya, fenomena itulah yang kini dengan gencar dilakukan para Ahok lovers. Saya menyebut mereka sebagai Teroris Sosial Mediaalias TSM.

Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan teror sebagai usaha menciptakan ketakutan, kengerian, dan kekejaman oleh seseorang atau golongan. Sedangkan yang dimaksud teroris adalah, orang yang menggunakan kekerasan untuk menimbulkan rasa takut, biasanya untuk tujuan politik.

Nah, sampai di sini apa yang dilakukan para Ahokers melalui Medsosnya sudah memenuhi kriteria teror dan teroris. Di dunia maya (Dumay), mereka membabi-buta memberi dukungan kepada gubernur petahana DKI itu. Jika Ahok mengatakan Jakarta di bawah kekuasannya mampu mengubah hujan jadi berkelir (berwarna-warni), niscaya mereka segera mengamini.

Itulah sebabnya setiap postingan yang mendukung atau memuji Ahok, dengan sigap para Teroris Media Sosial ini langsung mem-broadcast ke segala penjuru. Mereka memanfaatkan semua lini komunikasi yang ada di dunia maya.

Beberapa di antara aplikasi media sosial yang sangat kondang adalah, Facebook dengan sekitar 1 miliar pengguna. Twitter, microbloggingyangmemiliki setengah miliar pemakai. Lalu ada Google+ yang konon punya 400 juta pengguna. Juga Weibo atau Sina Weibo yang pada didirikan Agustus 2009 dengan 300 juta pengguna.

Aplikasi lainnya, RenRen sering juga disebut Facebook-nya China. Kini penggunanya mencapai 250 juta. Terus, ada LinkedIn dengan 175 juta pelanggan. Dua lainnya Badoo danInstagram, masing-masing punya 100 juta pengguna. Para peselancar Dumay juga mengenal Yelp, Tumblr, Flickr, Orkut, MySpace, Foursquare, dan Pinterest.

Berlimpah fasilitas

Bayangkan, betapa dahsyatnya ‘fasilitas’ yang mereka gunakan di Dumay untuk mem-blastdukungan dan puja-puji bagi juragannya. Eit, tunggu dulu, juragan? Ya iyalah. Mereka menikmati gaji atau honor dan berbagai fasilitas melimpah lain untuk ukuran yang biasa diterima para relawan. Duitnya dari mana? Tentu dari sang juragan. Si juragan punya fulus dari mana? Ohoi, dari para pengembang, khususnya pemangku hajatan reklamasi 17 pulau di pantai utara Jakarta. Mana ada ceritanya para anggota TSM ini bekerja sukarela. Mimpi,kaleee…

Fitnahkah ini? Jelas tidak. Silakan saja berselencar lewat Google, misalnya. Anda akan disuguhi aneka berita dan data tentang gerojokan duit dari para taipan pemilik proyek properti di seantero Jakarta dan sekitarnya kepada Ahok dan atau orang-orang kepercayaannya. Salah satu dari mereka adalah Suny Tanuwidjaya. Anak muda keturunan China berkacamata minus ini, di awal mencuat disebut Ahok sebagai anak magang di kantor Gubernur. Namun belakangan terbukti dia adalah Staf Khusus Gubernur. Hayo... kamu ketahuan bohong, yaaa...

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Vox Pop Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun