Mohon tunggu...
Ign Joko Dwiatmoko
Ign Joko Dwiatmoko Mohon Tunggu... Yakini Saja Apa Kata Hatimu

Jagad kata

Selanjutnya

Tutup

Media Artikel Utama

Nasib Koran dan Senjakala Bacaan dari Kertas

11 Januari 2021   15:06 Diperbarui: 13 Januari 2021   08:29 787 26 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Nasib Koran dan Senjakala Bacaan dari Kertas
dokumen pribadi

Kalau melihat perkembangan digital saat ini paper atau kertas, buku dan lembaran administrasi yang ada di perkantoran mengalami banyak revolusi. Penggunaan kertas jauh berkurang. Segala prasyarat administrasi dikirim melalui perangkat digital. Bahkan tanda tanganpun sudah bisa dilakukan menggunakan perangkat digital. Beberapa tahun lalu ketika melakukan pendataan hard copy masih memerlukan banyak kertas, sekarang benar - benar (ini pengalaman tempat kerja saya) lesspaper atau bahasa Indonesia hari - hari tanpa kertas.

Begitu juga ketika gawai yang bisa digenggam ke mana saja sudah bisa mewakili orang untuk membuka berita - berita di media. Sekarang manusia cenderung praktis, tidak ingin ribet membawa buku fisik, atau koran

Dengan modal skrol dan langganan e -koran misalnya sudah bisa membaca koran setiap hari. Simpan uang di applikasi pembayaran yang banyak muncul di aplikasi gadget. 

Kepraktisan dalam membayar apapun dengan e- banking dan simpanan dana untuk membayar listrik, membayar PAM, membayar kredit elektronik tanpa harus datang ke kantor.

Ibaratnya rebahan saja sudah bisa menyelesaikan banyak hal. Kalau kaum milenial yang butuh kecepatan, mobile dan berpikir praktis pasti akan memanfaatkan kesempatan itu, sedangkan saya ya termasuk generasi tua agak ribet ketika harus menggunakan berbagai aplikasi yang ada di gawai. Bahkan kalau soal bayar membayar, memesan makanan dari aplikasi saya sangat tergantung pada istri saya. 

Kemudahan melakukan transaksi itu kadang menjadi bumerang, sebab orang akan dengan mudah belanja, melakukan aktifitas jual beli Karena banyak tawaran hanya dengan menggerakkan jari saja.

Sampai saat ini saya masih rutin membeli koran paper tiap Sabtu Minggu, tetapi hasrat membaca koran jujur saya katakan sebetulnya jauh menurun. Sebetulnya membaca koran jauh lebih nyaman bagi mata. Tetapi munculnya media online yang kecepatan beritanya jauh lebih unggul dan lebih cepat membuat budaya membaca koran semakin mengalami penurunan.

Saya masih memaksa diri untuk membeli koran Minggu karena artikel di Koran Minggu bisa dibaca dengan tidak terburu- buru. Sifat artikelnya biasanya bersifat long site. Cerpen misalnya bisa dibaca tanpa terburu - buru, kalau perlu digunting dan dijadikan kliping untuk bisa dibaca sewaktu - waktu.

Era koran rasanya memang segera berlalu, namun saya berharap era buku fisik masih akan panjang. Mengapa saya bisa mengatakan bahwa buku masih cukup lama. Sebab membaca buku butuh durasi lama, maka lebih nyaman membaca buku fisik daripada membaca buku e-book yang melelahkan mata.

Istri saya yang beda generasi apalagi anak saya jarang sekali menyentuh koran, Sudah saya coba pamerkan bagaimana asyiknya membaca koran, namun mereka benar- benar tidak tertarik membaca koran. Mereka memerlukan koran ketika ia dipaksa untuk membuat tugas kliping oleh gurunya. Koran hanya bermanfaat untuk pembungkus makanan, atau pembungkus sampah sayur.

Kalau menjadi koran saya bisa merasakan betapa sunyinya hidup ini. Jarang ada yang menyentuh, jarang ada yang melirik. Manusia sekarang lebih senang bercengkerama dengan gawai, mendadaninya dengan casing yang mewah, memfasilitasinya dengan aplikasi yang memanjakan mata, menyentuhnya dengan penuh cinta. Bahkan banyak manusia benar- benar tidak bisa hidup tanpa gawai disampingnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x