Mohon tunggu...
Ign Joko Dwiatmoko
Ign Joko Dwiatmoko Mohon Tunggu... Yakini Saja Apa Kata Hatimu

Jagad kata

Selanjutnya

Tutup

Media Pilihan

Kompasianival 2018 itu Rasanya Baru Kemarin

19 November 2019   11:29 Diperbarui: 19 November 2019   11:37 87 8 7 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kompasianival 2018 itu Rasanya Baru Kemarin
dokumen pribadi

Saya mungkin salah satu kompasianer yang jarang kumpul dengan kompasianer lain. Hanya sesekali ketemu dan jarang mempunyai kesempatan bisa kumpul dalam sebuah event atau hanya jalan- jalan saja. Ada banyak hal yang membuat aktivitas "pelancongan" terhambat alasannya cukup saya sendiri yang tahu. Di sisi lain sebagai guru di sekolah swasta saya harus mengikuti rutinitas pekerjaan dari pagi sampai sore, energi banyak terkuras hingga lebih baik pulang dan istirahat. Hal yang membuat pulih lelah adalah saat kumpul keluarga, bercanda dengan anak dan menonton televisi bareng.

Di antara kesibukan itu ternyata masih tersisa banyak waktu untuk menulis. Kadang di rumah kadang di tempat pekerjaan. Dengan rutinitas itu rasanya setahun itu sangat sebentar, sama seperti ketika saya mengikuti ajang Kompasianival 2018 di Kemang. Rasanya baru saja kumpul dengan sobat Kompasianer dari Jakarta, Kompasianer dari daerah seperti Mas Ukik (Mbah Ukik), dr. Posma Siahaan Ibu Nursini Rais.

Di Jakarta sendiri saya menjadi kenal dengan Mbak Muthiah Alhasani, Bos Madyang alias mas Rahab Ganedra, Mbak Tamita Wibisono, Mas Yon Bayu Wahyono, Pak Dian Kelana, Pak Iskandar Zulkarnaen, Kang Pepih Nugraha, Mas Isjet, alm Thamrin Sonata, Mas Reno Dwi Heryana, Pak Thamrin Dahlan. Pak Isson Khaerul, Pujangga Mas Mim, Mas Andri RSKO, Pak Taufik Uiks, Mas Taufik, Mas Khrisna Pabicara, Bung Abi Elha Mas Edi Priyatna (Pondok Petir). Maaf yang lupa saya sebut.

teman teman Kompasianer nongkrong santai di Kompasiana tahun lalu (dokpri)
teman teman Kompasianer nongkrong santai di Kompasiana tahun lalu (dokpri)
Duduk lesehan di sudut Mal dan ngobrol asik sampai malam bersama Pak Mentri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri. Suasananya akrab banget seperti tidak berjarak, selfie bareng dan saling ngobrol tentang apa saja. Mereka bicara tentang content tentang aktivitas ngeblog, kegiatan- kegiatan yang membuat mereka eksis dan bisa jalan- jalan ke mana- mana.

Bung Iskandar Jet, Pak Hanif Dhakiri, Kang Pepih Nugraha, Mas Nurul Uyuy mejeng bareng di Kompasianival 2018 di Kemang(dokpri)
Bung Iskandar Jet, Pak Hanif Dhakiri, Kang Pepih Nugraha, Mas Nurul Uyuy mejeng bareng di Kompasianival 2018 di Kemang(dokpri)
Rasanya baru kemarin kumpul dan sudah sangat kangen ingin ketemu lagi. Saya memang tidak ikut aktif dalam komunitas yang ada di Kompasiana, tetapi bagaimanapun tetap merasa menjadi bagian dari keluarga besarnya. Saya ingat dulu sekitar 2010 sampai 2011(saat saya baru gabung) Event temu darat sering diadakan. Pertemuan dengan tokoh- tokoh sering dilakukan antara lain dengan Jacob Oetama yang berlangsung di Santika Hotel di daerah K S Tubun. Masih terlihat Omjay,  Pak Prayitno Ramelan, Pengamat Penerbangan Pak Chappy Hakim yang dulu aktif menulis di Kompasiana.

Kalau melihat dari usia bergabungnya boleh di kata usia keanggotaan saya lebih senior. Tapi banyak Kompasianer baru yang sudah tancap gas dan menghasilkan ribuan artikel hanya dalam jangka waktu tidak lama. Saya senang dengan aktifitas menulis para Kompasianer. Banyak ragam artikel yang memperkaya wawasan, memperkaya pengetahuan, menambah dimensi baru dalam cara menulis artikel. Itulah sampai saat ini saya masih senang karya- karya kompasianer yang ternyata sangat berbakat menulis dengan cara mereka masing- masing.

Sekarang para pendatang baru ( dan saya yakin mereka bukan pendatang baru dalam hal pengalaman menulis) menjadi energi untuk Kompasiana hingga mampu eksis sampai usianya yang ke 11. Kompasiana dengan ratusan ribu anggotanya dominan menjadi rujukan pengetahuan. Banyak artikelnya yang menjadi referensi dari karya tulis mahasiswa atau referensi seminar bahasa tingkat nasional. Yang aktif menulis banyak yang membuat buku dan ada yang kemudian total memilih blogger dan penulis sebagai pekerjaan utamanya.

Beberapa bulan yang lalu ketika pulang ke kampung, bertemu dengan teman dan rekan, saudara dari ayah saya yang baru saja berpulang. Saya cukup merasa GR (gegeden Rumongso: atau besar kepala) ketika teman itu cerita bahwa suaminya rajin mengikuti dan membaca artikel- artikel saya di Kompasiana. Wah. Inilah dampak positifnya jika seorang rajin menulis di platform blog seperti Kompasiana. Kadang saya malah di katakan wartawan Kompas, hebat dong bisa menulis di Kompas. Saya tersenyum simpul senang saja meskipun saya tahu kompasiana itu bukan berarti Kompas. Tetapi karena ada kata kompasiana maka tulisan- tulisan di media sosial itu seperti diseret disamakan dengan Kompas.

Tetapi era internet ini tingkat keterbacaan tulisan di blog boleh jadi lebih besar daripada koran cetak. Artikel opini Kompas misalnya apakah ada yang tahu seberapa antusias pembaca mencerna artikelnya yang terkesan berat karena kebanyakan ditulis oleh para dosen, Profesor atau mereka penulis yang mempunyai reputasi hingga bisa menembus redaksi Kompas.

Sedangkan menulis di Kompasiana siapa saja bisa asal mempunyai akun Kompasiana. Ternyata artikel Kompasiana pun sering digunakan beberapa koran daerah. Entah prosedurnya bagaimana beberapa artikel saya sering tiba- tiba masuk kolom opini mereka. Karena tercantum nama,   saya merasa bangga juga tulisan saya diapresiasi media mainstream.  Sayang honornya kenapa gak dikirim hehehe.

Lebih bangga lagi sekarang aktifitas menulis itu sekarang mendapat apresiasi dengan adanya K Reward. Jika rajin dan mampu menghasilkan tulisan dengan jumlah pembaca lebih dari 3000 (pageview) ada kesempatan mendapat kiriman dana Gopay. Lumayan. Apalagi mereka yang sering masuk tangga populer, sering nangkring di tangga Artikel Utama. Yang kurang beruntung jangan putus asa terus berjuang agar tulisan semakin baik, semakin banyak pembacanya dan semakin sering menulis.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x