Mohon tunggu...
Mangatas SM Manalu
Mangatas SM Manalu Mohon Tunggu... Dokter Spesialis Penyakit Dalam -

Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Mayapada Lebak Bulus, Jakarta Selatan & Klinik AIC, Kuningan City Mall - Jakarta. Instagram: https://www.instagram.com/mangatasm/ Twitter: https://twitter.com/#!/Komangatas3. Facebook: https://www.facebook.com/mangatasm

Selanjutnya

Tutup

Healthy Artikel Utama

"Saya Alergi Obat yang Namanya Ada 'GIN' dan 'LIN'-nya"

6 Februari 2018   10:10 Diperbarui: 6 Februari 2018   18:13 10354
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Beberapa efek samping obat biasanya dapat diprediksi, karena mekanisme yang terjadi sudah dipahami. Misalnya iritasi pada lambung dan perdarahan saluran cerna yang bisa terjadi pada orang yang secara teratur menggunakan asetosal atau obat anti radang lainnya seperti asam mefenamat, diklofenak, dan sebagainya. Obat-obat itu mengurangi produksi prostaglandin, zat yang melindungi lambung dari asam lambung.

C. Reaksi akibat efek berlebihan dari suatu obat (adverse drug reaction).

Reaksi ini biasanya berhubungan dengan dosis atau jumlah obat yang digunakan pasien. Misalnya, seseorang yang mengonsumsi obat untuk mengurangi tekanan darah tinggi, misalnya Captopril, mungkin akan merasa pusing jika dosis obatnya berlebih (biasanya terjadi karena salah membaca aturan pakai pada label obat), sehingga mengakibatkan penurunan tekanan darah secara drastis. Seseorang penderita diabetes melitus dapat mengalami rasa lemas, berkeringat, mual, dan berdebar jika ia meminum obat antidiabetes secara berlebihan, sehingga kadar gula darahnya terlalu rendah. Reaksi merugikan ini biasanya dapat diprediksi, tetapi terkadang tidak terhindarkan.

Keadaan ini kerap terjadi karena orang lupa bahwa ia sudah meminum obatnya (minum obat tidak sesuai jadwal), minum obat secara berlebihan, tidak sesuai aturan pakai, atau salah membaca label obat. Dapat juga terjadi jika pasien hanya mengandalkan ingatannya (tidak membaca label obat) berdasarkan bentuk fisik obat saja, Misalnya seseorang hanya ingat warna, dan jenis sediaan obat (kapsul atau tablet), tetapi kurang ingat jadwal minum obat. Padahal mungkin dari beberapa jenis obat yang diminumnya, ada obat yang sama warna atau jenis sediaannya. Akibatnya ada jenis obat yang diminum berlebihan, sehingga menimbulkan adverse drug reaction.

Reaksi ini juga bisa terjadi jika orang tersebut sangat sensitif (peka) terhadap obat tertentu. Keadaan ini memang merupakan "bakat lahir", tetapi bukan bakat yang berdasarkan reaksi alergi atau bakat kelainan karena sistem imun tubuh.

Penyebab lain dari reaksi ini ialah adanya interaksi obat. Contohnya seseorang menggunakan dua jenis obat, misalnya obat A dan obat B. Obat A memperlambat sistem metabolisme tubuh untuk membuang sisa obat B, yang telah digunakan oleh tubuh. Karena lambat pembuangannya, maka kadar obat B akan meningkat dalam darah, sehingga orang itu mengalami takar lajak atau kelebihan dosis. Reaksi terkait dosis biasanya tidak serius tapi relatif sering terjadi.

Kemungkinan berikutnya adalah reaksi merugikan yang tak terduga: karena obat tersebut tidak konsisten dengan informasi produk atau karakteristik obat yang berlaku (kesalahan dari produsen obat).

D. Reaksi obat yang tidak diperkirakan sebelumnya (Idiosyncratic reaction).

Reaksi ini terjadi melalui mekanisme yang saat ini belum dipahami para pakar. Jenis reaksi obat yang merugikan ini biasanya tidak dapat diprediksi sebelumnya.

Contoh reaksi obat yang merugikan tersebut ialah: ruam (kelainan pada kulit), ikterus (kulit dan mata berwarna kuning), anemia (kekurangan jumlah hemoglobin/pigmen sel darah merah), penurunan jumlah sel darah putih, kerusakan ginjal, dan gangguan saraf yang dapat mengganggu penglihatan atau pendengaran. Reaksi ini cenderung lebih serius, tapi biasanya terjadi pada sejumlah kecil orang saja. Orang yang terkena dampak mungkin memiliki perbedaan genetik dalam cara tubuh mereka dalam melakukan metabolisme (pengolahan biologis) obat atau kelainan dalam respons tubuhnya terhadap suatu obat tertentu.

E. Reaksi tubuh karena intoleransi obat 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun