Mohon tunggu...
Dodi Kurniawan
Dodi Kurniawan Mohon Tunggu... Aku tidak tahu, maka aku belajar.

Guru yang lebih banyak berguru kepada muridnya

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Pilihan

Belajar dari Satu Huruf

8 Mei 2021   10:46 Diperbarui: 8 Mei 2021   21:20 68 3 0 Mohon Tunggu...

Kata Ramadan terdiri dari tiga huruf utama, yakni: ra, mim  dan dhad.  Uniknya demikian juga halnya dengan Ramadan. Bulan ini terbagi ke dalam tiga bagian atau puluhan: pertama, kedua dan ketiga.

Ketiga huruf tersebut, yakni ra, mim dan dhad seolah menggambarkan tiga bagian di atas. Huruf ra untuk puluhan rahmah (kasih sayang),  mim untuk puluhan  maghfirah (ampunan), dan dhad untuk puluhan ketiga najah atau ’itqun minan-nar (keselamatan dari api neraka). Bila ra untuk rahmah dan mim untuk maghfirah dirasakan konsisten dan make sense, tapi bagaimana halnya dengan dhad bila dipadankan dengan najah atau ’itqun minan-nar? Mengapa tidak konsisten?

Huruf dhad saya ajukan secara hipotetis sebagai singkatan dari ridha sebagaimana kita menyingkat shalawat kepada Nabi saw. dengan huruf shad. Lalu apa hubungan antara kata ridha dengan keselamatan dari api neraka?

Secara awam kita bisa mengetahui bahwa tujuan dari ibadah adalah mencari keridhaan Allah SWT. Nah, bukankah surga adalah puncak dari perwujudan ridha Allah SWT? Dan bukankah keridhaan Allah SWT akan mendorong sifat Rahmaniyah-Nya untuk menyelamatkan bahkan para pendosa dari  neraka? Inilah makna dari 'itqun minan-nar.

Keistimewaan Huruf Dhad

Sekarang mari kita berkenalan lebih jauh dengan huruf dhad!

Huruf dhad adalah huruf tersulit pengucapannya dalam bahasa Arab. Tidak ada bahasa lain yang memiliki huruf ini. Untuk itu pulalah bahasa Arab disebut Lughah al-Dhad (Bahasa Dhad) dan bangsa Arab disebut Ahl al-Dhad atau Mutakallim al-Dhad yang maksudnya adalah pengucap huruf dhad.

Keberadaan huruf dhad semakin mengukuhkan bahasa Arab sebagai bahasa yang istimewa. Posisi istimewa bahasa di satu sisi memang merupakan fakta yang tidak bisa dibantah. Salah satunya, Allah SWT telah memilih bahasa Arab sebagai bahasa Kitab terakhir-Nya, yakni Al-Qur'an.  Namun, di sisi lain sebagian dari para penutur bahasa ini terlalu berlebihan. Mereka sangat memfavoritkan hadits yang menyatakan bahwa bahasa ahli surga adalah bahasa Arab. Malah, meski tidak seterbuka hadits sebelumnya, mereka punya riwayat yang menyatakan kalau bahasa ahli neraka adalah bahasa Persia. Tentu saja sikap bijak dan tawasuth sangat diperlukan. Sebab, bila hadits yang pertama diperdebatkan oleh para ulama sebagai dha’if, maka hadits yang terakhir dipastikan maudhu’.

Sala satu turunan dari mental superior penutur dhad ini  adalah kebiasaan merundung bangsa lain sebagai tidak mampu mengucapkan dhad dengan benar. Tapi benarkah bahwa mereka, para punutur asli bahasa Arab saat ini, adalah pengucap dhad yang benar sebagaimana Nabi saw. mengucapkannya?

Sungguh mengejutkan. Pengucapan dhad yang sekarang berkembang dan dianggap sebagai arus utama  ternyata berbeda dengan yang dilafalkan oleh Nabi saw. Teori fonologi modern yang merujuk kepada pendapat Sibawayh (760-796) menunjukkan bahwa tradisi pembacaan huruf dhad yang benar justru hidup dan dipertahankan di kawasan Persia dan India. Ciri utama proto-dhad (dhad yang konon diucapkan oleh Nabi dan para sahabat beliau) adalah bersifat rikhwah. Maksudnya adalah udara tetap bisa keluar saat bunyi huruf ini dimatikan (diwaqafkan). Berbeda sekali dengan neo-dhad yang bersifat syiddah dengan ciri udara tidak bisa keluar saat huruf tersebut diwaqafkan. Sebagai catatan tambahan, semua huruf qalqalah termasuk huruf syiddah. Sementara dhad selain disepakati oleh para ahli tajwid tidak termasuk huruf qalqalah, juga tidak termasuk huruf syiddah. Ini artinya, seharusnya dhad termasuk huruf rikhwah. Jadi secara teori terbukti pelafalan yang dibanggakan para perundung itu tidak benar.

Lalu bagaimana sebenarnya pengucapan huruf dhad yang benar?  Secara sederhana, pengucapan dhad lebih dekat kepada zha daripada dal yang ditebalkan sebagaimana yang lazim kita dengar sekarang dari para qari mainstream. Kebalikannya, tradisi yang benar  justru masih bertahan dan hidup di kawasan Iran dan Indo-Pakistani sekarang ini. Jadi bolehlah disebutkan  bahwa kini yang dianggap mutakallim al-dhad adalah mereka yang dulu dirundung sebagai tidak fasih. Tulisan Kholili Kholil berjudul Benarkah Huruf Dhad Sekarang Berbeda dengan Zaman Nabi? di alif.id sangat menarik untuk dikaji. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN