Mohon tunggu...
Djulianto Susantio
Djulianto Susantio Mohon Tunggu... Freelancer - Arkeolog mandiri, senang menulis arkeologi, museum, sejarah, astrologi, palmistri, olahraga, numismatik, dan filateli.

Arkeotainmen, museotainmen, astrotainmen, dan sportainmen. Memiliki blog pribadi https://hurahura.wordpress.com (tentang arkeologi) dan https://museumku.wordpress.com (tentang museum)

Selanjutnya

Tutup

Healthy Artikel Utama

Sehat Itu Murah, Jadi Mahal Kalau Kita Sakit

25 Maret 2021   10:30 Diperbarui: 26 Maret 2021   19:19 1528
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi rumah sakit. (sumber: Wavebreakmedia via kompas.com)

Sehat itu murah, yang mahal kalau kita sakit. Supaya tidak dirongrong penyakit, kita perlu berinvestasi hidup sehat. 

Tepat memilih gaya hidup, semua faktor risiko penyakit harus dikendalikan, cerdas hidup sehat, dengarkan suara tubuh, dan skeptis terhadap mitos/takhyul/magis pengobatan. 

Demikian diungkapkan dokter Handrawan Nadesul dalam webinar yang diselenggarakan oleh Museum Benteng Heritage, Rabu, 24 Maret 2021. Webinar itu dimoderatori oleh Pak Udaya Halim.

Menurut dokter yang pujangga ini, orang-orang dulu 95% meninggal karena usia tua dan 5% meninggal karena penyakit. Namun pada masa kini justru terjadi kebalikannya, 95% meninggal karena penyakit dan 5% meninggal karena usia tua.

Orang-orang dulu cukup sehat karena menurut dokter Hans, panggilan akrabnya, hidup sesuai tradisi nenek moyang. Mereka antara lain memakan ubi atau singkong sebagai protein. 

Beliau mencontohkan bagaimana nelayan di Okinawa, Jepang, mampu bertahan hidup sampai usia di atas 100 tahun.   

Ilustrasi bahagia sampai kakek nenek (Foto: tangkapan layar dari presentasi Pak Handrawan Nadesul)
Ilustrasi bahagia sampai kakek nenek (Foto: tangkapan layar dari presentasi Pak Handrawan Nadesul)
BPJS Tekor

Banyaknya penderita penyakit antara lain tergambar dari BPJS Kesehatan. Dalam berita-berita tentu kita ketahui bahwa BPJS hampir selalu tekor karena harus membayar banyak rumah sakit. 

Namun kalau banyak masyarakat hidup sehat pun, tentu rumah sakit akan menderita 'kerugian' karena sedikit memperoleh penghasilan. Hal ini berdampak pula pada penghasilan dokter, tenaga kesehatan, dan perusahaan farmasi termasuk apotek.

Ilustrasi oksigen di rumah sakit (Foto: tangkapan layar dari presentasi Pak Handrawan Nadesul)
Ilustrasi oksigen di rumah sakit (Foto: tangkapan layar dari presentasi Pak Handrawan Nadesul)
Pada bagian lain dokter Hans mengatakan warga berusia 50 tahun ke atas sebaiknya berolahraga jalan tergopoh-gopoh. Jangan lari atau bermain tenis. Pada usia-usia seperti ini, lutut bisa menjadi masalah.

Dokter Hans menceritakan pula bagaimana jalan kaki dengan bertelanjang kaki di atas kerikil tidak efektif, malah akan mencederai kaki. "Berjalan di atas kerikil berbeda dengan akupresur atau pijat  refleksiologi," katanya. 

Ia menjelaskan, kalau dalam akupresur atau refeksiologi bobot tekanan sekitar 5 kg. Sebaliknya kalau di atas kerikil, bobot tekanan seberat tubuh kita. Hal itu yang membuat cedera.

Beliau menceritakan pula manusia hidup yang memerlukan oksigen. Oksigen itu kita bebas hirup dari udara bersih. Dalam sehari tubuh kita menghirup 2.880 liter oksigen dan 11.376 liter nitrogen. 

Di rumah sakit harga 1 liter okdigen Rp25.000 dan harga 1 liter nitrogen Rp10.000. "Bayangkan bila kita harus membayar oksigen," kata Pak Hans.

Menurut Pak Hans, kunci hidup sehat ada 5, yakni menu harian yang tepat, bergerak badan memadai, stress terkendali, check up kesehatan, dan check up kehidupan. 

Setiap manusia, pasti memiliki stress, namun kadarnya berbeda-beda. Artinya stress seorang pelajar beda dengan stress seorang pegawai.  

Ilustrasi perkataan tokoh spiritualis Dalai Lama (Foto: tangkapan layar dari presentasi Pak Handrawan Nadesul)
Ilustrasi perkataan tokoh spiritualis Dalai Lama (Foto: tangkapan layar dari presentasi Pak Handrawan Nadesul)
Herbal

Selama ini kita mengenal pengobatan alternatif, antara lain dengan obat herbal. Nah, menurut dokter Hans, ini pun harus hati-hati.

Soalnya beberapa obat herbal teridentifikasi akan merusak ginjal. "Memang pernah ada penderita yang sembuh dari penyakit encok karena meminum obat herbal, namun dampaknya mengenai ginjal," tuturnya.

Alat-alat kesehatan pun, menurut dokter Hans, jangan memukul rata soal penyakit. Ia mencontohkan bagaimana penyakit darah tinggi dan penyakit darah rendah memiliki problem yang berbeda sehingga berbeda pula dalam penanganan.

Begitu pula kursi. Menurut dokter Hans kursi yang tepat adalah kursi direktur karena dibuat dengan prinsip ergonomi. Kursi-kursi lain tidak sesuai dengan tulang belakang.

Untuk itulah, menurut dokter Hans, manusia membutuhkan bugar total. Yang dimaksudkan adalah bugar badan, jiwa, sosial, dan spiritual. 

Dokter Hans kemudian mengutip perkataan spiritualis asal Tibet, Dalai Lama, "Manusia mengorbankan kesehatannya hanya demi uang. Lalu dia mengorbankan uangnya demi kesehatan".

Kata dokter Hans, kita jangan terjebak mengejar materi tanpa henti. Karena materi tidak menambah hidup bahagia. Makin banyak kita mengejar materi, makin rendah peran materi dalam membentuk kebahagiaan. Jadi yang penting adalah hidup minimalis atau hidup secukupnya.***

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun