Mohon tunggu...
Djulianto Susantio
Djulianto Susantio Mohon Tunggu... Penulis Arkeologi/Museum, Numismatis, Komunitas, Pemerhati Astrologi/Palmistri

Lulusan Arkeologi UI, pejuang mandiri, penulis artikel, pegiat komunitas, kolektor (uang dan prangko), dan konsultan tertulis (astrologi dan palmistri). Memiliki beberapa blog pribadi, antara lain https://hurahura.wordpress.com dan https://museumku.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Candi Bubrah, Contoh Toleransi Beragama di Kawasan Candi Prambanan

15 Desember 2019   10:35 Diperbarui: 29 Desember 2019   01:31 692 3 0 Mohon Tunggu...
Candi Bubrah, Contoh Toleransi Beragama di Kawasan Candi Prambanan
Candi Bubrah yang sudah megah, 2017 (Foto: Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah)

Pada 1980 saya pertama kali ke Candi Sewu dan sekitarnya, termasuk ke Candi Prambanan. Saya lihat beberapa candi masih berantakan. Banyak batu candi berserakan di halaman. Di sekitar Candi Sewu ada yang namanya Candi Asu.

Dalam bahasa Jawa, Asu (anjing). Sebenarnya ini kekeliruan masyarakat. Di sana terdapat arca Nandi (=lembu). Arca itulah yang dikira berujud anjing.

Selain Candi Asu, ada lagi Candi Bubrah. Itu pula nama pemberian masyarakat. Dalam bahasa Jawa, bubrah kira-kira bermakna hancur berantakan atau rusak.

Tujuh tahun kemudian saya kembali ke sana. Kali ini untuk tugas liputan. Candi Bubrah tetap dalam kondisi 'amburadul' sebagaimana terlihat pada foto. Jelas, karena batu-batu candinya masih belum lengkap benar.

Candi Bubrah pada 1987 (Dokpri)
Candi Bubrah pada 1987 (Dokpri)
Purna pugar
Berkat kerja keras, akhirnya purna pugar Candi Bubrah diresmikan pada akhir 2017. Candi Bubrah terletak di kawasan Candi Prambanan, yang telah diakui UNESCO sebagai warisan dunia. Purna pugar Candi Bubrah diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy.

Entah sejak kapan keberadaan Candi Bubrah diketahui masyarakat. Kalau mengacu kepada penemuan Candi Prambanan pada abad ke-17, tentu sekitar masa-masa itu penemuan Candi Bubrah. Kemungkinan besar candi-candi di sekitar Prambanan rusak karena gempa bumi akibat letusan gunung Merapi.

Selama bertahun-tahun Candi Bubrah dan candi-candi lain terbengkalai. Dalam masa-masa rawan itu, sejumlah kepala arca telah hilang. Kemungkinan digondol orang-orang tidak bertanggung jawab.

Selama bertahun-tahun para juru pugar, termasuk para zoeker dan steller, bekerja keras. Zoeker dan steller merupakan sebutan untuk pencari dan penyetel batu candi. Populernya "ahli menjodohkan batu candi". Maklum, batu-batu candi berbentuk khas.

Antara kanan-kiri dan atas-bawah ada semacam pengait. Jadi bukan seperti batu bata masa sekarang yang berbentuk rata. Itulah pekerjaan tersulit dan terlama. Jangan heran kalau biaya pemugaran sebuah candi sangat besar.

Candi Bubrah mulai intensif dipugar pada 2011. Tentu melalui anggaran pemerintah dengan skala prioritas per tahun. Mulai akhir 2017, masyarakat dapat menikmati keindahan arsitektur dan mempelajari teknologi nenek moyang dalam mendirikan sebuah bangunan yang megah dan kokoh. 

Arca tanpa kepala (Foto: tarabuwana.blogspot.com)
Arca tanpa kepala (Foto: tarabuwana.blogspot.com)
Buddha
Sekarang kita dengan pasti dapat mengatakan Candi Bubrah bercirikan agama Buddha. Ciri itu dapat dilihat pada bentuk stupa. Ada juga sejumlah relung berisi Dhyanni Buddha. Diperkirakan Candi Bubrah dibangun sekitar abad ke-9 pada masa Kerajaan Mataram Kuno. Candi ini berkaitan erat dengan Candi Sewu dan Candi Lumbung, yang juga bercirikan Buddhisme.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN